Anza tak pernah menyangka jika pertemuan pertamanya dengan sesosok gadis mungil di gubuk tua itu membuatnya harus menjalani hidup yang berbeda dari anak seusianya.
Menjadi gadis indigo bukanlah kemauannya.
"Mau heran, tapi hantu itu Zana."
Merupak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hujan kala itu turun dengan derasnya.
Hiks
Hiks
Hiks
Seketika lari gadis mungil itu terhenti, matanya mencari-cari ke sekeliling saat samar-samar terdengar suara orang menangis.
Langkah kakinya menuju ke arah gubuk tua tak berpenghuni. Tidak menghiraukan bajunya yang basah kuyup akibat terkena air hujan.
Niatnya yang ingin pulang ke rumah langsung kandas begitu netranya melihat seorang anak seusianya tengah menelungkupkan kedua tangannya di atas kedua lututnya yang ditekuk. Menenggelamkan wajahnya, meredam suara tangis yang sialnya semakin terdengar memilukan.
Gadis itu berjalan mendekati anak tersebut. Suara langkah kakinya yang beradu dengan lantai beralaskan tanah terdengar, membuat anak itu mau tak mau mendongakkan kepalanya. Bola matanya terlihat membulat saat melihat gadis itu.
Sosoknya itu terlihat tidak terurus, dengan rambut panjang yang menutupi sebagian wajahnya.
Wajah pucat itu ... ah, sulit digambarkan.
Gadis itu mendekat. "Kenapa nangis?" tegurnya pelan.
Berbeda dengan reaksi anak itu yang justru beringsut menjauh dengan wajah ketakutan.
"Jangan takut, aku bukan orang jahat." Gadis itu berusaha meyakinkan dan berhenti tepat di hadapan anak itu, berjongkok menyetarakan tinggi mereka untuk bisa melihat wajah anak itu dengan jelas.
"K-kamu ... bisa lihat aku?"
Gadis itu terkesiap dan menatap lekat sosok itu dengan raut tak percaya. Namun netranya secara refleks beralih begitu mendengar suara teriakan orang yang dikenalnya.
"ANZA, WHERE ARE U?!"
"I'M HERE," sahutnya berteriak. Sedangkan sosok itu semakin meringkuk ketakutan.
"J-jangan takut," ucapnya tergagap karena dirinya sendiri tengah melawan ketakutan menghadapi sosok itu.
"Kamu, kok, bisa di sini?" Seseorang bertanya dan terlihat memasuki gubuk dengan payung yang dipegangnya.
"Anza ... lagi neduh, Bang," jawab gadis mungil yang ternyata bernama Anza, raut wajahnya begitu tenang untuk menutupi hatinya yang nyaris menjerit saat sosok itu merangkak dan berlindung di belakang tubuhnya untuk bersembunyi.
"Kenapa nggak langsung pulang aja? Biasa kamu pulang sambil hujan-hujanan, nanggung juga baju kamu udah basah semua. Ayo, nanti Abang yang kena omel Bunda," ujar laki-laki itu sambil menggandeng tangan Anza.
Sementara Anza menoleh ke belakang, melihat raut sedih yang ditunjukkan sosok itu saat Anza meninggalkannya, membuat Anza berkata tanpa suara, "Nanti aku ke sini lagi."
Yang dibalas anggukan dan senyum mengembang dari wajah sosok itu.
Ya. Sosok itu berbeda. Tak kasat mata.
~•~
Alloo saya kambek di cerita iniiii. (Prok prok prok)
Seperti yang pernah saya bilang, ILUVIA bakal balik di versi yang lebih baik lagi.
Mulai dari alur, konflik, sampe beberapa tokoh yang namanya saya ganti biar nggak belibet, atau hilangin tokoh sampingan yang cuma numpang lewat.
Alur yang sekarang lebih ringan, dan kabar bahagianya lagii—
Romance nya bakal dominan frennn!
Kalo nggak percaya, baca ulang blurb-nya dehh
Walaupun saya nggak punya pengalaman, tapi tenang ajaa, haludaritas saya ini pasti bisa bikin kalian kayang sampe salto! /ngarep
Oh iya, bagi readers lama tolong jangan spoiler di komen ya pliss, demi kenyamanan bersama, sokeyy?
Setelah revisi besar-besaran saya selesai, saya akan mulai up teratur tiap hari.