Aku ingin melepaskan kunci granat, mengikatkan semua kenangan yang pernah kita lalui bersamanya.
Biarkan ia hancur,
Berkeping,
Tak bersisa.
Lalu semua tawa manusia, bahagia, merayakan tahun baru yang meriah.
Sedang aku sendiri merayakan kepergian mu. Melihat bayang mu yang semakin lama, semakin mengecil, tak lagi dapat aku raih.
Mimpi tinggalah mimpi, terima kasih, karena pernah memeluk ku satu kali lagi pada akhirnya, sebelum kenyataannya, lebih pahit dari pada mimpinya.
Sesaat setelahnya, aku kembali pada kenyataan yang tak pernah aku inginkan.
Rasanya sangat sakit.
Seperti memantik granat tanpa melepaskannya,
Membutakan, menghancurkan, memekikan, menyakitkan.
Tubuhpun hancur tak bersisa.
Ingin rasanya sekali lagi aku diberi kesempatan untuk bertemu denganmu.
Menculikmu, membelah kepala dan hatimu, memaksakan aku kembali masuk ke dalamnya. Hingga kau mengerti rasanya, menyalahkan diri sendiri atas semua keadaan yang telah terjadi, dan kau dipaksa untuk menerimanya.
Aku.
Célébrer la perte.
KAMU SEDANG MEMBACA
Célébrer la perte: an ignorance, egoistic and narcissistic
Poetry"Kau adalah sesuatu yang pada akhirnya akan selalu aku tunggu" Suatu saat pijakan kita tak lagi kokoh, suatu saat air mata pasti akan runtuh. Maka dari itu lah, tak ada larangan sekalipun bagi para pejantan untuk menangis, hancur sedalam-dalamnya. ...
