WARNING!!
SIAPKAN TISU DAN CEMILAN KARENA JIKA TERKENA TEKANAN BATIN AUTHOR TIDAK TANGGUNG JAWAB!!
Rama Seorang lelaki tampan yang memiliki penyakit gangguan mental. Murid pindahan yang sukses menyita perhatian semua guru dan murid di Sma Marvosa. L...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Part ini di sponsori oleh Maudy Ayunda : Kamu dan Kenangan
Demi kenyamanan lebih baik membaca sambil mendengarkan lagu pilihan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kenyataan nya kita harus berpisah karena Takdir"
-Melancholy-
~•~
Seorang lelaki kini tengah terbaring lemah di atas ranjang dengan beberapa alat bantu. Ada dokter dan suster yang sedang menanganinya. Hening, hanya suara jarum jam yang terdengar. Sang dokter menyeka keringat yang turun dengan punggung tangannya fokus nya hanya kepada pasien nya. Satu jahitan di bagian perut lagi akan selesai.
"Dok, Detak jantung pasien melemah"
Pria yang di panggil dengan embel "Dok"itu mengernyitkan dahinya. Ia menatap sosok yang terbaring lemah itu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Pasalnya operasi penjahitan perut belum selesai dan kini detak jantung pasien melemah.
"Siapkan Defbrillator,"
Sosok yang di panggil dokter itu menatapjarum jam yang berada di dinding ruangan. Sudah tiga jam mereka bergelut di ruang operasi ini. Setelah menjahit bagian tangan dan perut kini mereka di hadapkan dengan jantung yang kian melemah.
"Defbrillator" ulangnya, seorang suster yang berada di samping nya mengagguk dan menyerahkan alat kejut jantung kepada sang dokter. Tak lupa di oleskannya gel diatas alat tersebut.
Di tempelkannya benda itu di area dada pasien. Di liriknya mesin EKG disana. Dan masih juga belum membaik. "Shok"
Hal itu terus berulang kali dilakukan oleh sang dokter yang terus melakukan pemompaan jantung tanpa henti. Ia menoleh pada mesin jantung pasien nya. Dahinya kian mengerut saat melihat garis garis terus melemah.
"Apakah ini akan berhasil?" salah satu suster bertanya karena melihat kondisi pasien yang memang seperti tidak akan tertolong.
"Kita tidak tahu sebelum semua ini berahir" ucap sang dokter yang memimpin operasi