Ukiran nama timbul didiri Tara saat semua sudah terlambat, pertaruhan cinta sengit.
-----------
Diharapkan tidak salah lapak, semua tulisan didalam cerita penuh dengan pasangan sesama jenis.
Semua berhak berjalan di mana yang ia hendaki bukan? Takdir mungkin melarang mereka. Persetan dengan itu semua, jika memang galaksi ini tak pernah salah dengan perjodohan yang tak masuk akal.
Lalu bagaimana mereka bisa mendapatkan rasa yang tak akan bisa dijabarkan seperti cinta ini?
Semesta memang sudah menyiapkan segala jalur mana yang akan kita lewati, tapi jika memang sudah siap dengan segala resiko tak apa bukan untuk mencari dan membuat jalan sendiri?
Mereka berdua sang pemeran yang dipertemukan jua oleh takdir, diperkenalkan oleh takdir, dan diatur jua oleh takdir.
Tak ada yang salah jika mereka bisa mempunyai rasa, jikapun ada yang salah bukannya takdir si kambing hitam nya bukan?
Pertemuan demi pertemuan setelah peristiwa malam panjang itu, tak ada yang berubah dari mereka berdua.
Rio yang semakin menunjukan segala afeksi cinta kepada Tara, dengan Tara yang tidak sedenial dahulu untuk mengakui dia pun telah jatuh dalam ke jurang yang indah itu.
“Nanti temenin aku ke supermarket dulu ya, mau beli jajanan buat besok nginep dikostan kamu.” Ucap Rio yang baru saja menyelesaikan barang barangnya.
Telah usai siaran radio yang menyuguhkan tawaan canda riang dan iringan musik gembira mereka.
“Ha?! Kapan kok dadakan si” ucap kaget dari pria berkacamata bening itu.
Tara yang masih sibuk dengan segala perintilannya pun bingung kenapa prianya tiba tiba menjadi tak jelas seperti ini.
“kan aku udah bilang semalem pas ditelpon, kamunya aja udah tidur” ucap Rio kelewat santai dengan godaan pada mimik wajah yang ia tampilkan itu.
“ya kamu aneh orang udah tidur masih diajak ngomong” jawab Tara yang berusaha mengalihkan pandang kea arah lain.
Tentu saja dia tak baik baik saja, degupan jantungnya bertaut cepat setelah melihat Rio dengan senyum kecil menggoda nya.
Memasukan semua barang kedalam ransel hitamnya, Tara terkejut saat ada lingkaran manis hangat di antara perutnya. Rio prianya itu memeluknya dari belakang.
“Rio—” ucap Tara tertahan saat Rio makin mengeratkan pelukannya.
“Sayang, nikah yu” bisik Rio pelan di telinganya.
“apaansi lepas ah” balas Tara lalu melepas tautan tangan Rio di pinggulnya. Wajah merah yang menghiasi rupa cantik Tara membuat Rio semakin gemas dengan sang tunangan nya itu.
Setelah malam panjang itu ada cerita manis tentunya, mereka berdua memutuskan ralat Rio lebih tepatnya meminta Tara menjadi tunangan pria itu.
Tak ada lagi yang bisa membuat dirinya ragu, sudahi semua takdir yang tega mempermainkannya.
Cengiran khas Rio terpampang apik dirupanya, “bercanda dulu nanti beneran ya tunggu sebentar lagi” semakin merah lah muka Tara yang sedang dipegangi oleh Rio.
“Mmpansmi mlepmas lmioo” ucap tak jelas Tara karena kedua pipinya sedang dicubit gemaas oleh kekasihnya itu.
“Rioooo” pekik manja Tara setelah pipinya dilepas oleh Rio.
Senyum Rio tentu saja tak baik untuk kesehatan jantung Tara, sepertinya benar jika ia berlama laamaa dengan pria itu akan menyebabkan sakit jantung.
Pasalnya setiap pria itu tersenyum padanya selalu saja degup jantung itu secara otomatis bertalu dengan cepat.
“yuk jalan sekarang,” ucap Rio sembari menggenggam tangan Tara “ Sini nanti ilang” senyum manis itu lagi.
Rio benar benar tau betapa lemahnya Tara kepada wajah rupawan nya itu.
“tchh,” hanya decihan halus yang bisa Tara keluarkan, semua ini terlalu indah untuk terjadi.
Tak mungkin juga kan bila Tara menolak semua perlakuan semua gesture cinta yang Rio beri.
“Oh iya Tara, Sabtu nanti kerumah mamah yuk” ucap Rio seketika membuat mata Tara berbinar cerah.
Pasalnya perempuan dari satu anak itu memang sangat baik kepadanya, Rio dan seluruh keluarga nya adalah sebuah kehangatan yang tak mungkin ia hiraukan.
“Serius?! Aku kangen juga sama mamah” seru kegirangan Tara.
Rio yang melihat nya pun tak mungkin tahan dengan segala tingkah gemas pria dihadapannya itu, mencuri cubit hidung Tara lalu diiring pekikan panjang Tara menjadi iring iringan mereka selama diperjalanan.
“Mau beli ini ga?” tanya Tara saat tiba di sektor makanan ringan yang rapih di rak rak itu.
“kalo kamu mau ya ambil aja, apa si yang enggak buat kamu” canda Rio seiring dengan cubitan pelan di kulit pipi halus Tara.
Semburat merah muda kembali timbul dipipi Tara “Riooo” rengekan imut Tara dengan tawa jenaka Rio memang paduan warna yang indah dan tentu khas bagi Tara si pengagum setia—Nya.
----------- Rio - Tara, photo booth.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.