Follow dulu sebelum baca!
Author saranin kalian buat dengerin lagu yang aku rekomendasiin di mulmed, biar pas baca part ini lebih menjiwai ngehehe...
~Ost : At My Worst-Pinky Sweat$ ~
Terus simak cerita ini ya!
Jangan lupa voment ❤️
HAPPY READING ...
🍃🍃🍃
Sesuai dengan isi pesan yang dikirimkan Radit Lima belas menit yang lalu, kini aku sudah berdiri di atas Rooftoop sekolah sambil membawakan Tas seperti perintahnya.
Namun saat sesudah sampai, aku sama sekali tidak menemukan keberadaannya. Dia kemana sih? Katanya nyuruh aku buat nggak telat, eh taunya dia sendiri yang sampai sekarang belum datang.
"si Radit kemana sih?" tanyaku celingak-celinguk kesana kemari mencari keberadaannya.
Bisa dibilang Rooftoop atau lantai atas sekolah kami itu unik, bukan hanya karena tempatnya yang luas, tetapi suasana tempat ini pun sejuk, membuat siapapun yang berada disini akan merasa nyaman.
Selain itu, dari tempatku berdiri, nampak jelas pemandangan bukit Samoan, membuat siapa saja menatapnya akan merasa seperti sedang berada di alam terbuka.
Disini banyak bangku-bangku yang sudah tidak terpakai lagi dan dibiarkan tergeletak dengan sendirinya.
Aku pun mengambil satu bangku, lekas diduduki.
Rooftoop sekolah.
Di tempat ini jugalah yang menjadi saksi bisu saat dulu mendapatkan Bullyan di SMA Bhayangkara untuk yang pertama kalinya.
Aku ingat sekali, saat hari pertama Masa Orientasi Siswa, aku dibawa Aira ke atap sekolah.
Saat itu aku hanya bisa menurut karena tidak tau apa-apa, dan ternyata dengan kejamnya Aira menyiram tubuhku dengan air yang baunya sangat menyengat.
Mau tau apa yang aku lakukan? Saat itu yang aku lakukan hanya menangis, aku hanya bisa menangisi nasibku yang basah kuyup terguyur air comberan itu.
Aku tidak mau kembali ke turun kebawah sampai jam pulang sekolah berakhir.
Yang aku lakukan hanya duduk sambil menangis tersedu-sedu, barulah saat Radit datang, aku pun langsung mengentikan aktivitasku.
Dia datang menolongku, jika ditanya apakah ia terkejut dengan penampilan ku? Ya, Radit sangat terkejut melihat penampilanku kala itu.
Sekujur tubuh yang basah kuyup, dengan bau yang sangat menyengat.
Walaupun begitu, entah kenapa tanpa merasa jijik ataupun sungkan, Radit langsung memakaikan Jaket dan selanjutnya menarikku agar pergi dari tempat itu.
Ku pikir awalnya ia akan pergi karena enggan menolongku, tapi ternyata tidak.
Dia malah datang menolongku tanpa merasa risih dan jijik sama sekali.
Kadang aku berpikir, bahwa kadangkala Radit itu menjadi seperti seseorang yang tak aku kenal.
Hahaha, kalau mengingat-ingat akan kenangan itu, Rasanya aku ingin tertawa sekaligus menangis.
Tertawa karena meratapi kebodohaku kala itu, dan menangis karena ... mengapa harus Radit yang menemukanku dalam kondisi yang buruk seperti itu? Kenapa harus Radit?
Jika bisa memilih, aku lebih baik seharian terkurung di atas sini daripada harus ditolong oleh Radit.
"Hahaha miris ... " tawaku terdengar sedih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Scenario [ON GOING]
Teen FictionAku ingin tertawa sejenak, bersandar pada dinding kaca yang rapuh. Mengistirahatkan pikiran dan juga tubuhku dari ilusi ini. Aku tertawa hambar, Realita ini begitu menyiksa. Lidahku kelu hanya untuk mengatakan maaf. Aku tidak tau apa yang terjadi, s...
![Just Scenario [ON GOING]](https://img.yamur.dijitalkalp.com/cover/257144616-64-k146146.jpg)