Sesuaikan Langkah dengan Waktu

47 21 140
                                        

"Gue berhenti bukan karena jenuh, tapi udah nggak ada waktu untuk itu semua

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gue berhenti bukan karena jenuh, tapi udah nggak ada waktu untuk itu semua."



Saat khutbah Jum'at berlangsung, Dava yang duduk di teras masjid terlihat tidak mengalihkan pandangannya dari besek-besek yang berjejer rapi di sebuah meja. Dava menepuk pundak Biru membuat sahabatnya itu melirik sekilas.

"Qen, Jum'at depan datang ke sini nya ditelat-telat aja, ya?"

Bukan tanpa alasan Dava bicara seperti itu. Biasanya, Biru selalu datang lebih awal ke masjid, walau hanya untuk membantu menggelar sajadah dan karpet. Jadi, Biru selalu mendapatkan barisan paling depan. Karena itulah, jarak Biru dan Dava menuju besek-besek itu cukup jauh. Berbeda dengan sekarang, Biru dan Dava datang terlambat. Mau tak mau mereka menempati teras Masjid karena bagian dalam masjid sudah sangat penuh. Namun, berbeda dengan Biru, Dava sepertinya sangat bahagia. Dia bahkan tidak berhenti tersenyum saat menatap besek-besek itu.

"Hm.." Biru hanya bergumam sebagai balasan.

Setelah menyelesaikan dua rakaat salat Jum'at dan orang-orang mulai bangkit untuk pulang, Dava langsung berjalan cepat menuju meja. Tanpa ragu, Dava langsung mengeluarkan kantong kresek putih yang ia selipkan di lipatan sarung. Kemudian mengambil tiga besek sekaligus. Biru yang juga sedang mengantri hanya bisa geleng-geleng kepala.

Setelah mengambil besek, keduanya langsung berlari mengejar Bang Damar yang sudah lumayan jauh dari masjid. Tindakan heboh mereka itu mengundang tawa beberapa orang.

"Bang, beseknya masukin sini aja."

Damar menatap kantong plastik putih yang dijinjing Dava. Kemudian memasukkan besek kedalamnya. Detik berikutnya, mereka kembali mengambil langkah menelusuri gang menuju rumah Damar.

"Dav, Abang dengar dari Qen, kamu suka main alat musik?"

"Iya suka, Bang."

"Kebetulan Abang punya gitar listrik di rumah, tapi sayang nggak ada yang pakai. Mau kamu ambil aja?" Kata Damar.

Dava terdiam sejenak. Kemudian menganggukkan kepala. "Boleh, Bang. Ntar Dava bawa pulang," balas Dava yang direspon anggukan singkat oleh Damar.

Suasana di rumah Damar tak pernah sepi karena karena kedua anaknya yang super aktif. Dan khusus untuk hari Jum'at, rumah akan lebih ramai dari biasanya karena kedatangan Dava yang aktifnya melebihi balita. Setelah para laki-laki pulang dari masjid, mereka memutuskan untuk makan bersama di teras rumah. Nasib baik hari ini Dava memborong besek agak banyak sehingga semua penghuni rumah dapat merasakan nikmatnya nasi hasil perjuangan.

"Rahma, lulus sekolah mau lanjut ke mana?" Tanya Mia membuat Rahma tertegun cukup lama.

"Ibu kayaknya mau aku masuk geologi, tapi Ayah bilang mau aku daftar kedokteran. Jadi bingung. Aku udah coba diskusi sama guru agamaku dan disuruh ikut keinginan ibu, kalau masih aja ragu, aku disuruh sholat."

Biru dan Dunia || Lee HaechanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang