"Hey, Luke!" Arthur menyapa teman sekolahnya dan melakukan tos khas yang mereka ciptakan dulu.
"Akhirnya kau mendirikan bar mu sendiri." lanjut Arrhur.
"Yeah, tidak hanya bar." kata Luke, "Kami menyediakan semuanya disini."
Arthur memutar bola matanya saat mendengar kalimat sombong Luke.
"Tapi kenapa di Richmond?" tanya Noah, teman sekolah Arthur lainnya.
"Dunno." jawab Luke, "Entah kenapa aku ingin membuat night club disini."
"Jadi, kenapa kau meminta untuk berkumpul?" tanya Arthur kepada Noah.
Noah bersandar di sofa, "Liam mengatakan kalau ia sedang libur, jadi ia mengajak kita bermain dan ku pikir lebih baik kita berkumpul di tempat Luke."
"Noah akhirnya punya ide yang bagus." kata seseorang yang tiba-tiba menghampiri meja mereka.
Liam.
"Wassup, Man!" Luke memeluk Liam, "I miss you so much."
Liam langsung mendorong Luke agar menjauh dari tubuhnya. Liam kemudian duduk di samping Arthur.
"Sebaiknya kau memberikannya tiket gratis untuk mengasingkan diri di pulau terpencil." kata Liam kepada Arthur sambil menatap Luke.
Arthur terkekeh, "Ide bagus."
"Haa, sudah lama kita berempat tidak berkumpul seperti ini." kata Noah, "Aku jadi ingat masa-masa sekolah."
"Yep, aku hanya mengingat kebodohanmu." celetuk Luke.
"Kau mau mati?" balas Noah.
"Oh? Mari kita lihat!" kata Arthur sambil bertepuk tangan,
"Apa kalian tidak bisa diam?" kata Liam, "Kenapa kalian selalu berisik?"
"Jangan hiraukan manusia tidak asik sepertinya." kata Arthur, "Lanjutkan perkelahian kalian."
Liam mendengus kesal. Ia menyerah dengan teman-temannya ini. Noah dan Luke mulai membuat keributan kecil di perkumpulan mereka. Namun, siapapun tau kalau mereka sedang bercanda.
Arthur tertawa memperhatikan kegilaan teman-temannya. Ia kemudian meminum segelas bir sambil memperhatikan sekitarnya.
Hanya dalam beberapa saat, pandangannya melekat pada seseorang. Arthur tidak bisa mencoba untuk pura-pura tidak mengenal orang itu. Meskipun pakaiannya tidak se-elegan seperti biasanya. Walaupun wanita itu memakai pakaian dengan corak macan seperti itu Arthur tetap mengenali orang tersebut.
Alexa.
Shit, ada urusan apa dia sampai datang ke tempat seperti ini? Sendirian?!
Arthur menyipitkan matanya. Berusaha menolak mempercayai bahwa wanita yang ia liat saat ini memesan whiskey mahal dengan kadar alkohol yang cukup tinggi untuk diminum.
Apakah ia ingin menghabiskannya seorang diri? Apa dia gila? Dimana sekretarisnya?
Luke kemudian menepuk pundak Arthur, "Hey, bukankah kau punya pacar? Jangan melirik wanita lain!"
Mendengar kalimat Luke, ekspresi Arthur mendatar.
"Aku sudah berpisah dengan dia." kata Arthur.
Noah menyemburkan minumannya, "Benarkah?"
"Wah, aku tidak menyangkanya." imbuh Liam.
Teman-teman Arthur mengikuti arah pandangan Arthur.
"Oh, shit!" celetuk Luke, "Bukankah dia junior kita?"
"Kau benar." jawab Liam, "Dia Alexa Mecklenburg."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unexpected Stranger
Romance[COMPLETED] Kematian bukan lagi perihal yang ditakutkan bagi Alexa. Justru dirinya takut untuk menjalani kehidupan. Sangat melelahkan ketika bercermin dan melihat sosok menyedihkan di pantulannya. Kaki penuh luka milik Alexa perlahan terangkat. Bern...
