Berdasarkan reaksi fisik Maisie Harper setelah dia berjumpa dengan River si makhluk ghaib; mulai dari tangan yang basah dan gemetar, wajah yang memucat drastis seakan vampir menyedot darahnya hingga kering kerontang, sampai sorot matanya yang tidak berjiwa—River tahu betul kalau cewek itu sudah bertekad bulat akan membuat janji temu dengan seorang psikolog.
Alih-alih memercayai penglihatan dan omongan River di dalam bilik toilet, Maisie tentu lebih memilih menyalahkan pola tidurnya yang kacau dan keadaan mentalnya yang tidak pernah berada di skala 'baik-baik saja' sampai dia mengalami halusinasi.
Taktik baru. Itulah yang River butuhkan jika dia ingin berhasil meyakinkan Maisie kalau eksistensi lelaki itu bukanlah hasil dari paranoianya semata.
Di dalam kelas Biologi Mr. Spencer, River membiarkan Maisie kian menggila karena dia nyaris mendapat nilai 'F' pada sesi kuis materi sistem organ manusia. Materi yang sebenarnya cukup mudah dia kuasai, andai saja insiden toilet itu tidak menjajah seluruh sel otak Maisie.
Bahkan Alexis yang berada satu kelas dengan cewek itu, mendadak murka karena Maisie telah memberikannya contekan (paksaan) abal-abal.
"Kenapa cewek itu tiba-tiba jadi sedungu ini, sih?" gerutu Alexis pada teman sebangkunya, Sally, sembari memandangi huruf 'E' berwarna merah ganas di lembar jawabannya.
"Uhm ... bukannya dia memang nggak terlalu pintar, yah? Aku saja sampai heran kenapa kau dan cowokmu itu selalu mengandalkan Maisie untuk hal-hal seperti ini," Sally berkomentar.
Alexis memutar kedua bola matanya. "Kau tanya saja pada River."
Kedua telinga Hantu River menegak saat Alexis menyebut namanya. Sementara Mr. Spencer masih berbicara di depan kelas hingga mulutnya nyaris berbuih, River sedikit menjauhi Maisie yang masih gusar dengan pikirannya sendiri. Pemuda bersurai pirang itu beringsut ke arah dua gadis yang tengah asik mengobrol, hingga dia berdiri tepat di belakang pacarnya.
Alexis mengeluarkan buku sketsa dari dalam tas ranselnya dan meletakkannya di atas meja. Senyum lebar yang umumnya menjadi pusat tata surya bagi seluruh pria di berbagai usia, merekah di wajah Alexis.
Fakta bahwa Alexis memiliki buku sketsa ketika dirinya sama sekali bukanlah seorang seniman, menjadi tanda tanya bagi River. Cowok itu bahkan jadi teringat ketika Alexis mencoba melukisnya di atas kanvas, namun dia justru mebuat River tampak seperti hasil perkawinan silang antara Donald Trump dengan monster Goblin. Alhasil, River mengisolasi lukisan itu di basement-nya, membiarkan benda tersebut berteman dengan benda rongsok lainnya.
"Ini top secret, Sally." Alexis sedikit memelankan suaranya.
Sally dan Hantu River mendekatkan kepalanya pada si ketua pemandu sorak Willow High Creek.
"So, aku dan River kepingin sekali memakai gaun dan setelan yang serasi saat prom nanti, jadi kami memakai jasa Luella Bartley. She's a real deal, karena tahun ini semua karyanya selalu muncul di majalah Vogue." Sedetik kemudian, Alexis mengerucutkan bibirnya dan memasang air muka sok prihatin. "Hm ... River sampai harus mengorbankan uang saku berliburnya ke Maldives tahun depan untuk menyewa orang ini. Memang romantis sekali dia itu."
Tidak butuh waktu yang lama sampai Hantu River teringat bahwa dirinya memang terpaksa mengosongkan sebagian rekening tabungannya untuk membayar jasa The Great Luella siapalah itu dua minggu silam.
Persetan dengan setelan prom yang mewah—River sebetulnya lebih senang menginvestasikan uangnya untuk mobil-mobil impian yang telah dia incar, dan pergi liburan ke luar negeri sehingga pikirannya menjadi jernih. Hanya saja ... ugh, River malas sekali mengulang kilas balik saat Alexis merajuk selama berhari-hari karena pemuda itu sempat menolak mentah-mentah permintaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
River Trying Not to Die
Teen FictionRiver Keegan tidak menyangka takdirnya akan berakhir tragis. Alih-alih hidup menua dengan harta bergelimang bersama istri seorang model, ia justru meninggal di usia 18 tahun. Bukan itu saja, River berakhir menjadi sesosok arwah penasaran amnesia ya...
