4

10 3 11
                                        

Malam ini terasa sunyi. Setelah kegiatan sore tadi, Jeff pergi membersihkan diri dan menghabiskan waktunya di dalam ruang kerjanya. Meninggalkan sang istri yang kesakitan dan sekarang entah sedang apa. Jeff, tidak peduli.

Setelah cukup Jeff berurusan dengan beberapa berkasnya. Ia merasa perutnya kosong butuh asupan. Tetapi sepertinya Anata tidak memasak, melihat keadaan meja makan masih kosong bersih. Lelaki itu menggeram, gak becus jadi istri pikir Jeff.

Jeff membuka pintu kamar menampakkan Anata yang sedang bergulung dalam selimut dengan membelakangi dirinya. "Adek nanti titip aja kuncinya ke mas Jeff, kakak lagi gak di rumah." Suara serak itu berhasil menghentikan langkah Jeff.

"Iya, hati-hati dek."

Setelah mematikan ponselnya, Anata berusaha untuk duduk. Bajunya masih dengan terakhir kali Jeff lihat. "Jam berapa ya, mas Jeff udah makan belum ya?" Bisa-bisanya masih memikirkan orang lain di saat tubuhnya sedang lemah Jeff membatin.

"Eh, mas Jeff?" Mata Anata membulat kala menemukan suaminya di ambang pintu. "Mas, laper gak?" Tanya Anata sembari membenarkan tatanan rambutnya menjadi lebih rapi.

Lelaki itu berdeham lalu meninggalkan kamarnya. Melihat di beberapa kulit wanita itu yang memerah terlebih di lengannya sangat terlihat jelas, membuat dirinya merasakan ngilu di dalam dadanya.

"Mas, mau di masakin apa?"

"Terserah."

Tubuh ringkih itu sekarang menjadi objek untuk Jeff. Sedikit ada rasa bersalah di dalam dirinya. Semarah apapun ia seharusnya tidak seperti tadi. Ia hanya lelah, tidak seharusnya melampiaskan pada wanita di depannya itu.

"Sup ayam aja ya mas, kulkasnya lagi kosong."

Tidak menunggu lama, mereka menikmati makan malam dalam keadaan tenang. Mengingat kejadian mengerikan tadi membuat Anata tidak berani menggeluarkan sepatah kata. Dirinya tidak ingin di sakiti lagi. Sudah cukup sore ini yang membuat kenangan buruk itu terpaksa teringat kembali.

Suara dentingan alat makan itu memenuhi ruang makan. Membiarkan kehampaan di antara nya menjalar lebih dalam. Hingga suara dehaman lelaki itu membuat Anata mengalihkan atensi dari makan nya.

"Saya sudah selesai," Katanya sebelum beranjak dan berlalu dari tempatnya.

Tidak ingin berlama sendirian, Anata membereskan dan mencuci alat makan bekas mereka. Setelahnya ia menyusul Jeff yang sudah duduk di depan tv. Sepertinya akan menikmati beberapa acara tv sebelum tidur.

"Mas, boleh aku minta tolong?" Tanya Anata yang sudah duduk di samping Jeff. Tampaknya tidak akan di beri respon seperti biasa, ia kembali berkata "Nanti Haikal mampir ke rumah buat balikin kunci mobil. Boleh aku titip sama kamu?" Anata kembali bertanya.

Karena tidak ingin mendengar lebih banyak pertanyaan Anata. Jeff mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya dari tv. "Kenapa gak kamu saja?"

"Aku lagi males liat muka Haikal. Jadi gak apa-apa kan mas?" Sebenarnya Jeff tau alasan Anata bukan itu. Ia hanya beralibi saja agar adiknya tidak melihat memar di tububnya. "Mas jangan bergadang ya, aku tidur duluan." Pamitnya sembari mengusap pundak Jeff, hanya tiba-tiba saja Anata melakukan itu dan bangkit untuk berlalu menaiki tangga.

Jeff berdecih melihat perlakuan lembut Anata pada dirinya. Tidak habis pikir, mengapa dirinya harus menikahi seseorang seperti Anata. Kenapa kekasihnya mendorong kakaknya ke dalam jeratan neraka ini. Dan kenapa Anata harus bersikap baik-baik saja di depan dirinya yang sudah jelas melukai tubuhnya. Banyak pertanyaan kenapa di dalam kepalanya sekarang, berputar dengan asiknya membiarkan pikiran Jeff menerawang lebih jauh yang jelas semua pertanyaannya tidak akan pernah bisa ia temukan jawabannya.

Rasa yang hinggap dalam dirinya sekarang, membuat ia kepalang bingung. Kecewa sedih bersalah semua menjadi satu. Jeff, tidak tau apa yang ia rasakan sekarang.

Tv di depannya yang menyala itu sepertinya tidak di nikmati oleh sang empu. Sebab fokus lelaki itu sekarang sepenuhnya memikirkan hal yang ia tidak mengerti. Hingga lamunan itu terpaksa terenggut ketika suara bel rumah berbunyi.

"Selamat malam, Abang Jeff..."

Sapa remaja itu dengan antusias. Sepertinya perjalanan tour nya membuat hari Haikal menjadi sempurna. "Mbak Nata nya masih belum pulang ya Kak?"

Yang di tanya hanya tersenyum tipis serta mengangguk. Melihat Haikal Jeff seperti melihat Raina saat gadis itu bertamu ke apartment nya kala itu. Haikal dan Raina itu sama, hanya saja Raina sedikit jutek.

"Iya, tadi bilangnya lembur. Oleh-oleh buat abang ada gak, Kal?" Jeff dan Haikal itu sudah dekat sejak Jeff di jodohkan dengan Raina. Mereka sudah seperti pasangan kakak adik, bahkan mereka akan lupa waktu kalau sudah di satukan dengan game handalannya. Play station.

"Ada nih, gantungan dari bandung." Dengan bangganya Haikal mengangkat gantungan mini yang bergambar gedung sate. Gedung terkenal di Bandung.

"Dih, itu doang?"

"Eits, ada nih. Banyak." Haikal menunjuk tas nya yang ia gendong. "Cucian."

"Dih!"

Haikal hanya menyengir. Sepertinya ia tidak bisa berlama di rumah kakaknya. Lelaki remaja itu berpamit untuk pulang, sebelumnya ia menitipkan sesuatu pada Jeff. "Kak, Haikal titip oleh-oleh mbak Nata ya." Jeff mengangguk seraya menerima paper bag yang lumayan besar dan kunci mobil milik istri nya. Sebelum menaiki motor vespa metik kesayangnnya, Haikal berpesan pada Jeff dengan nada serius. "Jagain Mbak Nata ya, kalau dia sakit tolong hubungin Haikal. Tolong banget ya kak." Setelah itu Haikal menaiki motornya dan melaju keluar dari garasi setelah menyalakannya. "SAMPEIN MAKASIH JUGA, UDAH PINJEMIN HAIKAL MOBIL!"

Kepala Jeff menggeleng-geleng setelah melihat kelakuan adik iparnya itu. "Malu-maluin aja tuh bocil." Jeff segera menaiki tangganya untuk menuju kamar tidak lupa menyimpan kunci mobil dan paper bag untuk Anata.

Seketika perkataan Haikal berputar mengelilingi kepalanyaa, menghantui dirinya dan membuat rasa bersalah itu kembali terasa. Bagaimana bisa adik ipar nya itu memberi amanah kepada sang pencipta luka kakaknya.

Jeff membuka pintu kamar memperlihatkan kegiatan istrinya yang tengah mengeringkan rambut. Seperti biasa ia tidak mau berurusan dengan Anata, Jeff memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

Wanita itu tersentak kala pintu terbuka dan Jeff yang merebahkan diri. "Mas?"

"Ya?" Sahut Jeff tanpa minat membuka matanya.

"Mau ngobrol santai gak?"

Seperti biasa Anata mendapatkan penolakan dari suaminya, "Engga, saya ngantuk." jawabnya dengan membalikan tubuhnya yang terlentang menjadi memunggungi, menghindari pertanyaan Anata yang tidak akan ada hentinya kalau Jeff sendiri tidak menghentikannya.

Di rasa ranjangnya berdecit seperti ada yang menaiki di sebelahnya, Jeff belum benar-benar tertidur karena setelahnya ia merasakan usapan lembut di kepalanya, "Tidur yang nyenyak ya Mas, besok jangan marah-marah lagi."

**
Met malem minggu mblo.

Haikal Claudiyo

Haikal Claudiyo

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 02, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

MELUKIS LUKAWhere stories live. Discover now