7

34 4 0
                                        

Dibenci Camilla bukanlah keinginannya. Namun, bagaimana lagi Ketika Camilla tak mau berbicara dengannya. Ya, gadis itu telah pergi seusai mengusirnya. Dadanya terasa sesak, niatnya hanyalah bercanda. Namun, bercandanya membuat hati Camilla terluka.

Semuanya telah terlambat. Camilla pergi jauh darinya. Gadis itu pasti akan sulit untuk menerimanya kembali. Begitulah sikap Camilla, ketika marah gadis itu akan sulit memaafkannya. Hanya Keithel yang bisa dimaafkan oleh Camilla walaupun Keithel sering sekali menyakiti hatinya.

Mendadak Luce ingin menjadi Keithel yang begitu istimewa di hati gadis yang dicintainya itu. Namun, sayangnya dirinya bukanlah Keithel dan ia pun tidak bisa menjadi seperti Keithel. Entah mengapa ia selalu merasa rendah diri jika dibandingkan dengan Keithel. Walaupun Camilla jelas-jelas menyukainya, ia tetap takut jika Keithel akan merebut kembali hati Camilla.

Apa itu karena dirinya tidak percaya pada Camilla? Ataukah dirinya memanglah tidak pantas bersama dengan Camilla? Entah dia tidak tahu yang mana jawabannya.

Di sisi lain Camilla masih kesal sekaligus sakit hati dengan pernyataan Luce. Bisa-bisanya Luce mengatakan bahwa dia menyayangi Kate. Lalu bagaimana dengan dirinya? Apa perasaan Luce padanya sudah luntur? Padahal baru kemarin mereka saling jujur dan mengungkapkan perasaan. Bisa-bisanya jadi seperti ini dalam waktu singkat.

Camilla terisak di dalam kereta kudanya, yang jelas hatinya sangat sakit saat ini. Ia merasa patah hati, kenapa kisah cintanya sulit sekali bersemi? Padahal ia tidak menginginkan hal yang macam-macam, ia hanya ingin bahagia bersama Luce. Toh, keduanya sedari dalam kandungan telah dijodohkan. Kenapa ingin bersama susah sekali?

Orang yang bisa ia salahkan di sini adalah si Penulis. Bisa-bisanya dia membuat cerita seperti ini. Harusnya yang berakhir bahagia itu Luce dan Camilla, bukan Luce dengan Kate. Tapi mengapa dia menjadikan happy ending untuk Kate padahal gadis itu telah memiliki banyak hal dan banyak orang pun mencintainya? Sedangkan Camilla sangatlah malang, di cerita novelnya dia hanya mencintai Keithel, tapi Keithel tidak membalasnya sama sekali. Camilla pun sangat baik hati, dia mendekatkan Luce dengan Kate. Harusnya penulis itu memberikan akhir bahagia pada Camilla, kenapa gadis itu malah berakhir bunuh diri? Tega sekali, padahal Camilla sangat berjasa.

Pada akhirnya Camilla mengumpat dalam hati, mengumpati si Penulis kejam yang membuat kisah cintanya tragis begini.

Omong-omong soal penulis, jangan bilang kejadian tadi adalah ulah si Penulis? Bisa jadi kan perasaan Luce berubah karena harus mengikuti alur novelnya?

Tangis Camilla berhenti seketika. Kalau begini, ia tidak bisa membiarkan penulis berbuat seenaknya.

"Pak Kusir tolong putar balik ke Istana!" teriaknya langsung.

Walaupun sakit hati, ia harus tetap tegar. Ia yakin ini ulah Penulis novel. Karena tidak mungkin Luce yang baik hati dan setia itu berubah menyayangi gadis lain dalam waktu sekejap.

"Penulis sialan!" umpat Camilla lagi, kali ini dengan suara nyaring. "Aku akan merusak ceritamu!"

***

Sesampainya di Istana Camilla langsung berlari menuju kastil tempat Lucerance tinggal. Dia tidak peduli dengan pandangan orang-orang, entah mereka mau menganggapnya seperti apa. Yang jelas ia harus bertemu Lucerance. Ia harus berbicara dengan laki-laki itu. Pun harus memisahkan Lucerance dengan Kate. Harus pokoknya. Dengan cara apa pun!

"Anda siapa?"

Seorang dayang tiba-tiba menghalangi langkahnya. Camilla berhenti sejenak dan menjelaskan niatnya, "Aku Camilla Anderson tunangan Pangeran Lucerance. Memang penampilanku sangat tidak pantas, tapi aku sangat ingin bertemu dengan Pangeran Lucerance."

"Anda benar-benar Nona Camilla?" ulang Dayang itu setengah tidak percaya.

"Rara!" panggil Camilla. "Serahkan bukti bahwa diriku Camilla padanya."

Setelah itu Camilla melanjutkan larinya, ia harus segera menemui Luce. Tempat favorit Luce adalah arena latihan berpedang. Ia sering menghabiskan waktunya di sana, untuk berlatih dan kadang untuk mengalihkan rasa sedihnya. Camilla yakin Luce ada di sana.

"Hah hah," Camilla kehabisan napasnya karena berlari sekuat tenaga. Ia membuka pintu masuk ke arena latihan berpedang. Suara desingan pedang yang berbenturan dengan pedang lain terdengar sangat nyaring. Gadis itu melihat Luce yang sedang sparing dengan George, ajudannya. "LUCE!" teriaknya.

Luce yang mendengar suara Camilla sontak menoleh dan menjatuhkan pedangnya. "Camilla?" lirihnya tak percaya. Gadis itu ada di sini? Apa ia tidak salah lihat?

"LUCERANCE! AKU MEMAAFKANMU BODOH!" teriak Camilla lagi, ia tak punya tenaga untuk berlari mendekati Luce. Kini dirinya berdiri dengan kaki yang gemetar, napasnya sudah terengah-engah.

Melihat Camilla benar-benar nyata, Luce melempar pedangnya dan berlari mendekati gadis itu. George yang melihat itu menghela napas pelan, begini ternyata sulitnya jadi ajudan seorang pangeran. Selain menjadi samsak latihan, membantu pangeran untuk mengerjakan tugas-tugasnya, ia pun harus menyaksikan momen picisan tepat di depan matanya. Miris sekali! Tuhan setidaknya kirimkan jodoh untuk George yang malang ini.

"Cam. Kenapa kau ada di sini?" tanya Luce yang masih kebingungan. Laki-laki itu menopang tubuh Camilla yang hendak terjatuh.

Camilla dengan lemah memukul dada Luce, gadis itu juga sempat menampar pipi Luce. "Dasar Pangeran bodoh!" makinya. "Aku ke sini karena aku memaafkanmu, Bodoh. Setidaknya berikan aku balasan yang sepadan. Tidak tahukah aku berlarian-larian di istana seperti orang gila hanya karena ingin menuntaskan permasalahan kita."

"Aku pikir kau tidak akan pernah memaafkanku dan akan menjauh dariku, " jawab Luce sendu.

"Kalau aku tidak memaafkanmu kau harusnya berlutut di bawah kakiku," kesal Camilla. "Tentu aku marah saat kau bilang menyayangi Kate. Aku ingin menamparmu sampai kau pingsan rasanya, tapi aku menahannya. Karena aku menghargaimu. Jadi jangan bersikap bodoh dan mengatakan kau menyayangi gadis lain di depanku."

Luce menatap Camilla tidak percaya, Camilla benar-benar memaafkannya rupanya. Syukurlah, ia sangat lega walaupun tubuhnya sedikit sakit karena pukulan Camilla. "Aku minta maaf, Cam. Maksudku bukan begitu, aku tidak menyayangi Kate seperti aku menyayangimu. Aku hanya menganggapnya seperti adikku sekaligus sahabat dari gadis yang paling aku cintai. Maafkan aku karena berkata seperti itu," jelasnya tak ingin menambah kesalahpahaman lagi.

"Jadi ini bukan ulah Penulis?"

"Apa maksudmu?" bingung Luce.

Bisa-bisanya dirinya keceplosan. Ia sempat berpikir tidak-tidak pada Penulis, ternyata dirinya yang salah paham. Sayang ternyata belum tentu cinta. Ternyata sayang pada adik. Baguslah, artinya Penulis itu tidak lagi mengganggu alur cerita yang dibuatnya.

"Cam?" panggil Luce lagi.

"Aku lelah. Gendong aku dan berikan aku minuman!"

Luce tertawa kecil. "Baik, Tuan Putri!" patuhnya.

Akhirnya kesalahpahaman mereka terselesaikan dengan baik. Memang begitu harusnya, jangan mendengar penjelasan orang lain sepatah dua patah kata dan menafsirkan sesukanya. Siapa tahu artinya berbeda dengan penafsiran kita. Jadi haruslah berkomunikasi dengan baik. Jangan hanya memendam sendiri dan berakhir salah paham.

***

Halo! Ada yang masih setia sama cerita ini nggak? Maaf baru update lagi, maaf banget pokoknya. Aku harap kalian suka dengan cerita ini!

Untunglah badainya cepat berlalu🤧

Sampai jumpa di part selanjutnya!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 21, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Matchmaker DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang