Sunghoon berdiri di lapangan di barisan tengah agak ke belakang pada barisan kelasnya. Mendengarkan amanat tiba-tiba dari kepala sekolah mereka. Yang awalnya mengingatkan peraturan sekolah sampai yang lebih serius juga dibahas menjadi topik utama kenapa mereka semua dipanggil untuk berkumpul di lapangan seperti hendak upacara. Katanya, kemarin sore ada salah satu siswa sekolah mereka yang kecelakaan motor. Tidak disebutkan identitasnya siapa menjadi perbincangan murid-murid di sekitaran Sunghoon.
Kepala sekolah bilang lokasi kejadianya di belokan taman jajan. Dan seingat Sunghoon perumahan tempat tinggal Heeseung melewati jalan itu. Sunghoon jadi khawatir. Bukan khawatir ke siswa yang barusan dibicarakan kepala sekolah, tapi ia lebih khawatir pada Heeseung. Pikirannya langsung mengingat kakak kelasnya ini selalu bawa motor ke sekolah.
Sunghoon jadi kurang fokus dengan pelajaran. Perasannya terlalu campur aduk tidak merata, apalagi sedari pagi belum melihat Heeseung berkeliaran di area sekolah. Yang biasanya pagi-pagi sebelum bel sudah mampir ke kelasnya, tapi kali ini ia tidak berkunjung.
Sunghoon memang sudah dari tadi berpikiran untuk mendatangi Heeseung ke kelas 2-1. Makanya sekarang ia berada di lantai dua, atau lebih tepatnya lorong deretan kelas 2. Sunghoon mengintip pelan-pelan, berusaha supaya tidak ketahuan. Heeseung ada di dalam kelas. Duduk di atas meja sambil satu kakinya bertumpu pada punggung kursi dan tangannya dimasukkan dalam saku celana. Sungguh kondisi Heeseung jauh dari kata buruk. Ia baik-baik saja mengobrol dengan teman-teman kelasnya atau mungkin satu lingkaran pertemanannya di kelas.
Sunghoon bernapas lega. Memastikan heeseung yang ternyata baik-baik saja sudah cukup. Niat awalnya untuk memasuki kelas Heeseung ia urungkan. Sebelum Heeseung atau temannya menotis kehadirannya, ia langsung berbalik badan, berjalan menjauh dari area kelas 2-1 menuju tangga.
"Sunghoon!" panggil Heeseung. Bahu sunghoon menaik tapi tidak terlalu tinggi. Sunghoon berbalik badan dan mendapati Heeseung berjalan mengarah padanya. "Lo nyari gue?" tanya Heeseung begitu ia sampai di depan Sunghoon.
"B-Bukan! Gue kebetulan lewat kelas lo aja" balas Sunghoon gelagapan. Kalimatnya diakhiri dengan tawa canggung. Heeseung memicingkan mata sambil mendekat mengamati mata Sunghoon yang terus bergerak.
"Bohong. Temen gue liat lo ngintip ke dalem kelas tadi. Lo kangen gue kan?" kata Heeseung dengan percaya diri. Tangannya yang menganggur dipakai untuk menyampingkan poni-poni yang menutupi jidat Sunghoon.
"Nggak!" tegas Sunghoon menolak asumsi Heeseung. Ia menurunkan tangan Heeseung sebelum semakin mengacak rambutnya. "Setiap hari ketemu di sekolah, ngapain kangen lo?" lanjutnya kemudian dan mengalihkan pandangan ke arah lain selain Heeseung.
"Mungkin aja? Kan gue ngangenin, 1 detik gaada gue aja lo pasti kepikiran gue kan?"
Sunghoon tidak bersuara cukup lama. Kepalanya yang semula menengok ke arah lain langsung fokus lurus menghadap Heeseung. "Kak Heeseung" panggilnya dengan suara pelan. Heeseung memasang wajah penasaran dan menyiapkan telinga untuk mendengarkan adik kelasnya.
"Hati-hati tiap pulang ke rumah"
"Lo pasti kepikiran sama amanat kepala sekolah tadi ya?" tanya Heeseung menebak-nebak. Sunghoon mengangguk. Ujung-ujung jarinya saling diremas. Pipinya juga sedikit memerah karena menahan malu. Malu harus bersikap peduli karena egonya yang membuatnya terlalu khawatir.
"Tenang aja, gue gak bakal kenapa-napa"
"Pikir lo kejadian dalam satu menit kedepan bisa lo prediksi?"
"Hoon, gue tau lo khawatir. Tapi tenang aja ya? Gue bakal inget terus omelan lo hari ini. Dan ya, orang yang dimaksud kepala sekolah tadi pagi itu temen sekelas gue. Rencananya pulang sekolah gue mau jenguk dia. Lo mau ikut?"
KAMU SEDANG MEMBACA
HEEHOON : Beautiful Feeling
FanfictionHeeseung sudah lama menyimpan perasaan pada adik kelasnya, panggil dia Sunghoon. Manis, banyak diam, tertutup, tapi sukses membuat kapten futsal paling keren di sekolah mereka jatuh hati saat pertama kali bertemu. Meski gerak-gerik Heeseung jelas sa...
