Buat aku, setiap ketemu orang ataupun hal baru pasti ada aja masalahnya, gak peduli itu siapa. Tapi siapa sangka, kalau hal baru yang ketemuin gara-gara kartu perpustakaan bisa membawa
Agist ditahap yang sulit terbayangkan. Sekali, dua kali, seminggu, sebulan sampai akhirnya tanpa sadar Mas Devandara udah jadi bagian dari perjalanan masa satahun SMAku. Gak ada yang terlalu berharga kecuali, saat-saat di mana kita berdua menghabiskan waktu dengan
membaca buku. Dari sana sisi Devandara yang lain mulai terlihat, sisi yang selalu ngebuat Agits mempertanyakan apakah benar untuk memilih menjadi jenis manusia tanpa aura. Warna pelangi itu selalu aku lihat di sela goresan wajah serius Devandara di sampingku. Sama seperti hari ini,
dingin begitu terpancar dari sana. Tapi seperti matahari yang bertemu hujan, itu akan menciptakan hal indah diakhir waktunya.
"Udah setahun dan kamu sekarang naik kelas dua, aku liat jenis bacaanmu cukup berbobot
ternyata. Jadi gak sia-sia aku kasih kartu perpusku waktu itu"
"Emang bacaanku besi Mas."
"Hahaha, bisa aja kamu Gist."
"Lagian omongannya kok aneh."
"Gist."
"Hmm."
"Tahu gak Gist kenapa kamu aku kasih kartu perpustakaan itu?"
"Gak tahu, emang kenapa?"
"Biar aku bisa sering baca buku berdua sama kamu."
Boleh gak sih saat kayak gini tuh geer. Tapi anehya aku kok gak bisa ya, cuma aneh aja gitu
dengernya.
"Ini responku harus gimana nih Mas?"
"Tuh kan bener."
"Bener apanya Mas?"
"Kamu itu dingin, tapi gak kayak es."
"Terus kayak apa?"
"Orang mati. Jadi aku pengen ngebuat kamu hidup lagi Gist"
Marah? Sebenernya sih enggak. Malah hatiku sedikit membenarkan apa yang dikatakan Mas Devan itu, kata mati membuatku berpikir tentang tujuanku untuk hidup. Tapi bukankah semua
yang hidup pasti berakhir dengan kematian? Lebih tepatnya mungkin menurut Mas Devan aku bukan orang yang bisa menikmati kehidupan. Sebenernya aku gak mau ambil pusing dari apa yang dibilang Mas Devan, entah aku hanya mau mengambil jalan aman biar bisa terus baca buku
diperpustakaan dan gak cari masalah, atau ada hal lain yang aku temui saat itu. Entah kenapa setelah mendengar ucapan Mas Devan, aku jadi pengin kelakuin banyak hal-hal kecil yang
sebelumnya gak pernah terpikir buat aku lakuin.
Siapa sebenernya Mas Devan
Kenapa itu mulai sedikit mempengaruhiku.
***
Sebulan berlalu setelah pertemuan kami di perpustakaan terakhir kali. Sengaja memang aku gak sering-sering pergi ke perpustakaan, disamping aku lagi asik main sama Ara, entah kenapa juga aku mencoba menghindari ketemu sama Mas Devan. Perasaanku tiba-tiba berubah seketika saat melihat Mas Devan. Setiap kali aku gak sengaja negeliat dia di sekolah, hatiku berdegub kenceng banget, keringet bercucuran di seluruh tubuhku. Saat itu aku masih belum sadar tentang perasaanku sendiri, bahkan saat aku nemuin name tagnya yang jatuh malah aku ambil tanpa mengembalikannya. Tapi aku sadar, Mas Devan juga sadar tentang prilaku ku yang berubah, ada
satu hari dimana dia pernah nyamperin aku ke kelas dan ngajak buat baca buku lagi di perpustakaan.
"Kamu marah Gist soal ucapanku ?"
"Enggak kok Mas. Masa gitu aja marah."
"Kamu tuh gak pinter bohong."
"Terus menurut kamu aku pinternya apa?"
Menyodorkan selembar kertas
"Ini ... "
KAMU SEDANG MEMBACA
JODOH SERUMAH
ChickLit[ On Going ] Ini bukan persoalan kapan dan siapa, tapi ini soal siap gak siapnya aku. Tentu masa lalu ada hubungannya, kalau enggak, mana mungkin perasaan ini masih bertahan? Aku gak pernah minta kamu buat terima, atau nunggu aku ya... Karena dari a...
