50 -

36 2 1
                                        

"Aku tahu bintang itu apa. Sejak kecil aku sudah mengenalnya. Cahayanya adalah kehidupan. Aku pernah mencoba memilikinya. Aku pernah mencoba menyimpannya. Namun rupanya bukan begitu jalannya. Bintang tidak bisa aku miliki. Bintang yang harus memiliki aku. Aku yang harus hidup di antaranya."

𓆰.

"Ghia, mau aku kasih tau sebuah rahasia enggak?"

"Apa tuh?"

"Tapi jangan kasih tau siapa-siapa ya. Ini rahasia alam semesta."

"Kalau ini rahasia alam semesta, terus gimana caranya sampe kamu bisa tau?"

"Anggap aja aku berteman dengan alam semesta."

"Hmmm. Sulit dipercaya, tapi karena kamu itu Sirius, yaudah deh aku enggak bakal kasih tau siapa-siapa. Jadi apa rahasianya?"

"Kalau malaikat lagi enggak ada di atas bintang, dia duduk di atas pelangi loh."

"Hah? Masa sih? Kamu pasti ngelantur lagi."

"Beneran. Contohnya, malaikat yang duduk di atas Bintang Sirius B itu—"

"Yang rambutnya merah itu?"

"Iya—ah ternyata kamu masih ingat. Bagus juga ingatanmu."

"Kamu kan baru cerita tiga hari lalu."

"Eh? Masa sih?"

"Yah, jadi, malaikat berambut merah itu, kalau lagi enggak duduk di atas bintang Sirius B, dia ada—"

"Katamu malaikat duduk di atas bintang jatuh!"

"Itu salah satunya. Kalau lagi enggak duduk di atas bintang ataupun di atas bintang jatuh, malaikat berambut merah itu duduk di atas pelangi, di bagian warna merah."

"Hmmm bohong nih. Kamu pasti ngarang. Mentang-mentang rambutnya merah, jadi duduknya di atas pelangi yang warnanya merah gitu? enggak masuk akal."

"Yah, masa enggak percaya sih? Malaikat agung itu kan ada tujuh. Warna pelangi juga ada tujuh kan?"

"Eh, iya juga. Tapi penjelasan kamu itu terlalu enggak masuk akal, Sirius. Lagian ngapain juga malaikat duduk di atas pelangi."

"Mereka mendengarkan doa manusia dari dekat, dong, apa lagi?"

"..."

"Jadi, kalau kamu memang sangat suka dengan bintang dan pengen ngobrol dengannya, kamu berdoa saja saat pelangi datang. Biar malaikat yang sampaikan pesanmu pada bintang."

"Memangnya bisa ya?"

"Bisa, coba saja. Malaikat yang duduk di atas warna merah itu baik loh. Dia pasti akan menyampaikan pesanmu dengan senang hati."

"Apa sih! Ngaco! Aku enggak percaya!"

"Jadi, selain melihatmu dengan hati, aku harus berdoa saat pelangi datang, ya, Sirius?"

Dulu aku enggak percaya sih ... tapi sekarang, karena aku udah tau semuanya bahwa keajaiban itu nyata dan kamu adalah sebuah Bintang, aku percaya deh. Aku bakal berdoa terus-terusan biar kamu baik-baik aja di sana. Meskipun udara yang kita hirup udah enggak sama; aku menghirup oksigen, kamu menghirup ... apa? Eh, kamu kan enggak bernapas ya, hehe.

Menunggu pelangi dan melihat bintang bakal jadi kegiatan favoritku setelah kamu pergi. Kenapa? Kamu mau ngatain aku sinting juga? Sebenernya enggak apa-apa sih kalau kamu mau ngatain aku sinting, aku kan udah berteman denganmu selama sebulan lebih, jadi, enggak mungkin kalau aku enggak ketularan sinting sepertimu.

Malaikatmu itu, malaikat bala tentara surga yang pernah bertempur dengan para iblis, malaikat yang kamu sayangi, yang memberitahuku apa artinya merelakan. Ternyata dia murah senyum ya, Sirius? Waktu aku menangis, dia sebisa mungkin tersenyum menenangkanku. Enggak seperti kamu yang pasti akan ikut menangis bersamaku.

Kamu bilang, malaikat Michael datang ke bumi buat menolong anak sepertiku juga ya? Wah, anak itu beruntung sekali ya dapat malaikat yang enggak menyebalkan sepertimu. Malaikat Michael pasti lebih waras dan lebih stabil. Tapi enggak apa-apa. Aku enggak iri kok. Justru, aku sangat bersyukur karena yang datang itu kamu.

Kamu yang mau repot-repot turun ke bumi cuma buat jadi temanku. Pasti rasanya sangat sakit ya, Sirius, jatuh ke dunia ini yang berisik dan jahat. Aku jadi merasa bersalah padamu.

Seharusnya kamu enggak melakukan semua ini. Tanpa kamu turun ke bumi pun, aku akan selalu menyayangimu. Karena aku sangat mencintai bintang.

Aku mungkin ... akan hidup dan mati untuk para bintang. Aku enggak nyangka, loh, kukira sampai dewasa aku hanya akan tau bahwa bintang itu hanya objek luar angkasa yang mengeluarkan cahaya. Aku enggak nyangka kalau ada salah satu bintang yang nyaris mati karena terus menuruti semua keinginanku.

Sirius, kalau aku sudah besar nanti, aku mau kayak kamu. Aku mau jadi anak perempuan yang selalu berpikir positif. Enggak menjelek-jelekan diriku lagi hanya karena aku berbeda. Enggak benci sama semua orang lagi karena sudah menghinaku buruk rupa. Enggak sedih lagi kalau suatu masalah menimpaku ... karena, kamu bilang, di setiap masalah itu, akan selalu ada hikmah kan?

Aku enggak takut lagi, Sirius. Aku enggak ngerasa sendirian lagi karena aku percaya kalau ...

Malaikat ada bersamaku.

Tuhan selalu mencintaiku.

Dan kamu, akan selalu menyertai setiap langkahku bahkan setelah aku pergi dari dunia yang fana ini.

Oh ya, Sirius, aku punya rencana buat menulis sebuah buku, loh. Judulnya, Istirahat. Karena kamu bilang kalau manusia itu perlu istirahat setelah mengalami hari-hari yang melelahkan. Kakek, Emmy, Ibu, Tuan dan Nyonya Druyan, semuanya sudah beristirahat dengan cara mereka masing-masing. Tinggal aku (beserta Ayah) dan Jay nih. Tapi kata Jay, dia istirahatnya pas udah gede aja, pas udah punya uang dan usaha sendiri. Dasar Jay, dia enggak pernah berubah.

Coba tebak, aku bakal nulis tentang kamu, aku, Ayah dan Ibu, Kakek, serta semuanya, loh.

Aku akan sangat senang untuk mengenangmu lagi. Aku mau menulis permulaan buku itu dengan kalimat ini:

Untukmu, Siriusku, Sayangku, Bintang malamku.

Indah kan? Iya, indah, soalnya ada nama kamu.

Selamat jalan ya ... Sirius. Aku akan terus mengingatmu setiap saat agar kenangan tentangmu enggak akan terkikis oleh waktu. Yang tenang di sana, ya? Kamu pasti senang bisa berkumpul dengan teman-temanmu lagi (jangan nakal. Aku tau Michael kalau kamu termasuk bintang yang nakal karena sering mengejek kembaranmu si Sirius A itu)

Terima kasih ... karena sudah mau jadi temanku.

Terima kasih ... karena kamu mau repot turun ke bumi.

Terima kasih ... atas semua ajaran baikmu.

Kamu kenangan masa kecil terindahku.

Salam dari bumi,
Ghia.

˖ ࣪ ‹ 𖥔 ࣪ ˖

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 31, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

IstirahatTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang