Ten Jeaxiu Westly.
Segala yang ia lakukan untuk Ava Lobelard Matthieu hanya dilandasi tanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan oleh orang tua wanita itu kepadanya.
Namun ketika keputusan besar dilakukan dengan memaksakan kehendak, bahkan pembe...
Dengan segala perbedaan yang nampak, timbul satu pernyataan yang sama,
"Kau berubah" 🌼------------------------🌼
⭐ + 💬 dari kamu yaa :)
-🌼🌼🌼-
Matanya mengerjap pelan khas seseorang yang baru terbangun dari tidurnya. Dia, Ten.
Berusaha menyesuaikan mata dari serangan cahaya lampu tidur. Meskipun di luar sana masih menunjukkan matahari yang tampak malu-malu namun ia tahu suasana hari ini akan dihiasi oleh terik mentari.
Hari yang terang, semoga dapat membuat hatinya lebih tenang.
Ia benci perasaan gugup ini. Bahkan ketika baru membuka mata pun, hal yang pertama kali teringat olehnya adalah keberadaan Ava di rumah ini.
Suara pintu terbuka, menampilkan Andrew setelahnya.
Fokus Ten teralih pada sosok yang memberinya tatapan tajam di pagi buta.
"Ten"
"Kau melihat CCTV?" Tebak Ten.
Oh, bahkan tanpa menjawab pun, Ten jelas tahu arti tatapan Andrew.
"Aku paham dia wanita mu, tapi tak ada pria yang memperlakukan wanitanya seperti itu, Ten"
"Seperti apa?"
Andrew menarik nafas sejenak. Jika saja tak mengingat bahwa di hadapannya adalah sosok Ten, maka ia tak segan memukul wajah tampan milik pria itu.
"Menarik rambutnya, itu kasar, asal kau tahu"
"Keluar, aku ingin tidur"
"Kau bahkan tidak pernah tidur lebih cepat dan terbangun di jam seperti ini"
Ten melirik sejenak jam yang berada di atas nakas dekat tempat tidurnya, pukul 5 lewat 30 menit
"Apa kau tak lihat mata ku yang tampak seperti baru bangun tidur?"
"Karena itulah aku bingung Ten! Kehadiran Ava jelas memberi pengaruh besar terhadap mu! Kau mabuk hingga tak sadarkan diri lalu tertidur di jam yang tak biasanya bagi mu"
Ck.
"Keluar."
Seperti perintah Ten, Andrew keluar. Ten sudah berbaik hati dengan tidak langsung melempar bantal ke wajah Andrew, sedangkan Andrew sudah cukup peka membaca situasi dengan tidak melanjutkan argumennya.
Selanjutnya sial bagi Ten karena tak bisa lagi tertidur setelah itu.
Baiklah, mungkin sunrise bisa membuat ku jauh lebih tenang nanti.
-🌼-
Satu hal yang tak begitu ia sukai adalah menunggu penghuni rumah berkumpul di meja makan.
Apalagi tamu yang seharusnya bangun pagi sebagai bagian dari etika dan sopan santun ketika berkunjung di rumah orang lain justru menjadi penyebab sesi sarapannya tertunda.
Ava, dengan jumpsuit berwarna abu-abu yang dilengkapi dengan kimono putih panjang hingga menyentuh mata kaki terlihat cukup santai berjalan menuruni anak tangga.
Haruskah ku teriaki agar langkahnya tidak dibuat-buat seperti itu?
"Hei, kemari Ava"
Oh, suara Andrew telah lebih dulu terdengar. Syukurlah, pikir Ten yang tak perlu menghabiskan energi dengan berteriak.
Dengan sigap Andrew beranjak dari kursi kemudian berjalan mendekati Ava. Menarik Ava untuk duduk adalah tujuan pria itu.
"Makanlah. Kau lapar, kan" Tegas Ten.
Ucapan barusan seperti aba-aba untuk memulai aktivitas sarapan pagi ini.
Sama seperti Andrew, Ava pun mulai menaruh beberapa hidangan di piring putih lebar yang ia pegang, sementara pemandangan berbeda terlihat di piring Ten yang justru tak kunjung memulai sarapannya.
Memang tak ada keinginan Ten menyantap makanan yang tersaji. Tujuannya kini hanya satu, melihat Ava sarapan.
Mungkin tindakannya memperhatikan Ava disadari oleh wanita itu, namun ia tak peduli.
Ketika dirasanya Ava telah banyak memasukan makanan ke dalam mulut, barulah Ten bersuara. Menyampaikan apa yang sejak tadi ia tahan.
"Ikut aku."
-🌼-
Langkah kaki Ten menuntun Ava menuju ke tempat ia berdiri saat ini.
Tempat yang orang-orang sebut balkon itu menjadi pilihan Ten untuk berdiri menunggu kedatangan Ava.
Ten menyadari ketika Ava hanya tersisa jarak dua langkah saja di belakangnya. Maka detik itu juga, ia membalikkan tubuh.
Ya, semalam dirinya tak mampu melihat dengan jelas karena cahaya yang memang cukup minim dan kondisinya yang agak di luar kesadaran.
Ava, rambut yang tak sepanjang dulu namun postur tubuhnya tetap sama. Lebih tepatnya, sedikit berisi di area tertentu.
Ketika Ten menilai lebih teliti.. Ia menyadari satu hal,
Aura sosok Ava kini jauh berbeda.
Sesuatu yang tak bisa ia tangkap secara jelas melalui metode pantauannya selama ini.
Sungguh mengejutkan baginya. Dan, hal itu mungkin saja terlihat jelas dari ekspresi yang memang rasanya cukup sulit ia kendalikan sekarang.
Terlepas dari itu, mata Ten pun menangkap bahwa wanita di hadapannya seperti tengah menutupi keterkejutan yang mungkin juga ia rasakan. Entah karena apa keterkejutan bagi Ava, fokus Ten hanya pada sesuatu yang baru saja ia sadari.
Sepuluh tahun berlalu tak disangka oleh keduanya memberi perubahan begitu banyak kepada sosok di hadapan masing-masing.
Dengan segala perbedaan yang nampak, timbul satu pernyataan yang sama,
"Kau berubah"
Ucap Ten dan Ava.
Ya, memang aku berubah, tapi perubahan mu juga mengejutkan.
-🌼🌼🌼-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.