Ratu Clea duduk di pinggiran balkon sambil terus menatap kerajaannya yang masih sibuk menyelamatkan sisa-sisa hasil pertanian di ladang masing-masing meski langit sudah menggelap. Ia menatap warganya dengan sedih, lalu di detik berikutnya ia terlihat seperti sedang berpikir keras.
Elios yang baru pulang dari sungai dengan Liora tadi menghampiri ibunya yang terlihat jelas sedang gelisah. Ia duduk di samping ibunya, lalu memperhatikannya dengan seksama. Ratu Clea yang merasa ditatap kemudian tersenyum, lalu menoleh menghadap putra satu-satunya itu.
"Kau pasti memiliki banyak pertanyaan sekarang. Iya, 'kan?"
Elios mengangguk. "Apa yang sedang ibu pikirkan? Apa tentang pertemuan dengan perwakilan dari empat negara lain tadi siang?"
Ratu Clea tersenyum. "Kadang ibu bertanya-tanya, dari mana kau mengetahui semua informasi yang bahkan belum ibu beritahukan pada para tetua itu?"
Elios menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Mungkin... karena aku anak ibu?"
Ratu Clea tertawa mendengar jawaban polos anaknya itu. Meski sudah memiliki tubuh seorang pemuda pada umumnya, terkadang ia merasa jika putranya itu masih anak kecil berusia tujuh tahun. Elios selalu ingin tahu akan segala hal, bahkan urusan berat yang hanya boleh diketahui ratu dan para tetua sekali pun.
Elios menghela napas. "Ibu... beritahu aku..." ucapnya hampir seperti rengekan.
Ratu Clea kembali memperhatikan warganya yang mulai memutuskan meninggalkan ladang sambil membawa hasil pertanian mereka yang sedikit layu. Elios pun mengikuti arah pandangan ibunya. Sedikit demi sedikit, ia mulai memahami kekhawatiran ibunya.
"Elios, ternyata tidak hanya kerajaan kita yang mengalami bencana seperti ini."
Elios tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia menoleh menatap ibunya yang masih terus memperhatikan ladang-ladang warganya jauh di bawah sana. "Maksud ibu?"
"Tadi siang, setiap perwakilan keempat negara mengeluhkan hal yang sama." Ratu Clea menatap anaknya. "Perubahan musim terjadi di mana-mana."
"Apa mungkin itu semua karena Perayaan Puncak Musim Semi yang kita adakan?"
Ratu Clea menggeleng. "Ibu masih belum bisa memastikannya. Tapi jika itu yang terjadi, ibu harus memikirkan sesuatu yang bisa mengubah keadaan ini menjadi seperti sedia kala."
"Apa aku boleh tahu apa yang terjadi pada kerajaan lain?" Elios bertanya dengan hati-hati. Pertanyaan itu membuat ibunya tersenyum miris. Terlihat sekali rasa bersalah yang terlukis pada wajah cantik ibunya yang masih tetap sama meski usianya semakin bertambah setiap tahunnya itu.
🌸🌸🌸
Selama hampir seharian ini Elios tidak keluar dari kediamannya. Sejak pagi, ia duduk di kursi yang biasa ia duduki jika ingin mengerjakan sesuatu di meja yang ada di depannya. Dari jendelanya yang sengaja ia buka, ia bisa melihat pemandangan hutan musim semi yang sudah berubah menjadi hutan musim gugur. Ia menghela napas. Helaan napasnya terasa semakin berat saat memikirkan pembicaraan dengan ibunya di malam sebelumnya.
Ratu Clea memberitahu semua yang terjadi saat pertemuan dengan keempat perwakilan dari kerajaan lain. Keempat perwakilan itu mengaku terkejut saat baru sampai di Kerajaan Spring. Warna-warni bunga dan tumbuhan yang biasanya terlihat, kini tidak ada. Pemandangan itu berganti dengan dedaunan yang sudah mencoklat dan terus berguguran. Tetapi, yang membuat mereka terkejut ternyata bukan hanya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Miracles of Season
Fantasy"Aku tidak pernah mengira semua akan menjadi sekacau ini. Jika saja aku tahu, di puncak musim semi itu, aku tidak akan menari." - Liora Liora akhirnya harus menerima hukumannya. Ia bersama Elios, Gwen, Derick, Eriza, Eros, dan Lili harus melakukan p...
