Aku berteduh di sebuah swalayan terhalang oleh hujan begitu deras. Apa yang dikatakan nenek benar, bahwa jangan pulang di jam mendekati sore.
"Paham gak, kemarin di dusun sebelah katanya diteror sosok yang bunuh diri,"
Aku tak sengaja mendengarkan pembicaraan ibu-ibu itu.
"Namanya bagus,"
"Itu mati penyebabnya apa lek,"
"Katanya sih, gara-gara ditinggal istrinya nikah lagi di hongkong,"
"Uhukk," aku berpura-pura terbatuk dengan lantang.
Ibu-ibu itu langsung menghentikan pembicaraan mereka di tengah derasnya hujan. Aku yang ingin segera pulang langsung mencari ide karena tidak membawa jas hujan.
"Mbak, maaf boleh minta kantongnya satu," ucapku yang meminta ke kasir.
"Ini mas," tangannya memberikan selembar kantong plastik.
Aku langsung mengucapkan, "makasih yah mbak," lalu pergi keluar.
Tanganku meraba handphone yang ada di saku celana langsung aku masukan ke dalam kantong plastik beserta dompet dan sisa uang pembayaran tiket tadi. Aku langsung menyalakan motor dan pergi menerjang hujan untuk pulang.
***
Lampu depan rumah menyala terlihat menyala. Aku yang baru sampai langsung masuk dan segera membasuh diri karena takut demam.
"Nah kan, kalau dibilang gak percaya," ucap nenek mengomeliku.
Aku hanya menggaruk belakang kepala yang tak gatal.
"Nek, temenin Dika mandi," pintaku
"Kamu sudah besar gitu takut. Di sini loh gak ada apa-apa,"
"Tapi serem nek kalau liat begituan,"
Nenek menuruti perkataanku dan duduk di pintu keluar menuju kamar mandi. Aku bergegas masuk ke kamar mandi. Setelah beberapa menit aku keluar dari kamar mandi, ternyata nenek masih menungguku di depan teras pintu.
"Aku masuk ke kamar mandi dulu Le. Kalau sudah ganti baju, tutup gorden depan kamarmu," perintah nenek sambil terus masuk ke kamar mandi.
Aku berjalan ke kamar berganti pakaian, lalu keluar menarik gorden yang berada di depan kamar.
"Kenapa desain kamarku begini? berpapasan dengan jendela yang tembus ke pelataran rumah,"
Gumamku sambil melekatkan kedua gorden itu dengan penjepit pakaian.
"Nenek masih sembayang," Aku berjalan ke teras rumah untuk bersantai.
Hawa dingin kini menembus pori-pori kulitku. Aku bersedekah di atas kursi sambil mendengarkan musik.
"Le, ayo makan! Biar gak laper nanti malam," teriak nenek dari dalam kamarnya.
"Iyah nek," Aku yang mendengarnya langsung beranjak masuk ke dalam.
Kami berdua makan di teras rumah karena di dalam tidak ada yang di tonton. Beginilah keseharian tanpa televisi, jaringan handphone kadang suka hilang jadi gak selalu melihatnya. Aku mulai menceritakan kepada nenek tentang liburanku di pantai tadi dan mulai mengungkit kisah horor. Aku yakin jawabannya nenek pasti gak percaya terhadap begituan di sana.
"Nek, masak yah di tempat parkir ada dupa,"
"mungkin buat sajen buat buyutnya Le. Jangan berpikir apa-apa serba hantu dulu,"
"Tapi ruangannya singup banget nek, gak ada cahaya sama sekali, aku juga merasa merinding ...," Belum selesai bicara tiba-tiba dipotong oleh nenek.
"Sudah, gak usah cerita lagi. Nenek tak rebahan dulu di kursi," ucap nenek yang langsung masuk ke dalam.
Aku menggerutu, "Padahal tempat parkir itu seperti ada penunggunya, tetapi gak ada yang percaya,"
Aku meraba handphone yang terletak di sampingku.
"Tadi aku taruh di kursi, kenapa tiba-tiba ada di meja yah,"
Aku menggaruk bagian kepala yang tak gatal, "Perasaan di sini gada siapa-siapa," gumamku.
Aku menekuk kedua lutut, mata ini berfokus menikmati film yang berputar di layar handphone. Tak terdengar suara nenek, biasanya bercerita sambil rebahan di kursi kesayangannya.
Aku menengok ke dalam. "Mungkin lagi sembarang."
Aku berfokus memainkan sebuah game, tanpa disadari rasanya dingin sekali. Aku yang kedinginan langsung membalikkan pandangan ke arah rumah ibu, lalu menaruh hp di meja kecil itu.
"Nah gini kan enak, gaperlu pegang terus. Mana dingin sekali," gumamku
Tiba-tiba sebuah tangan memegang pundakku."Nenekmu kemana mas?"
"Ada di dalam, masuk aja mas," aku tidak menoleh sedikitpun karena terfokus dengan film yang sedang tayang di layar handphone.
Nenek yang mendengar aku seperti berbicara sama seseorang langsung menyamperi ke teras rumah.
"Biacara sama siapa kamu?" tanya nenek.
"Itu tadi ada yang tanya nenek, orangnya masuk,"
Nenek terheran karena tidak ada siapapun."Mana ada, nenek rebahan di kursi gak ada yang masuk,"
Aku langsung menghentikan putaran film di handphone, lalu mengalihkan pandanganku ke nenek.
"Terus tadi siapa nek, suara cowok kok yang masuk,"
"Yah gatau, makanya masuk. Udah jam sepuluh masih di luar," tegur nenek.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tanah Pesugihan
HorrorIni adalah kisah yang aku alami secara nyata. Mengulas kembali asal-usul rumah yang di tempati oleh nenek.
