Jeff selalu percaya kalo hidupnya udah terlalu penuh buat ditambah apa pun lagi. Isinya cuma pengulangan monoton —set syuting, tanda tangan kontrak, interviews yang pertanyaannya itu-itu aja, sorotan kamera, sampe jadwal yang mepet satu sama lain dan tuntutan buat selalu tampil sempurna.
Jadi alpha terkenal di bawah lampu spotlight itu berarti dia nggak boleh punya celah. Feromonnya harus selalu stabil, emosi harus selalu terkontrol, dan setiap langkah harus penuh perhitungan. Kadang, di tengah kemewahan penthouse-nya, Jeff ngerasa dunianya terlalu bising. Dia cuma pengin satu hal yang nggak pernah bisa dia beli; sebuah tempat yang nggak menuntut apa pun darinya.
Awalnya, itu cuma angan-angan kosong. Sampe akhirnya, takdir ngenalin dia sama seorang perempuan yang muncul tanpa peringatan di tengah hiruk-pikuk hidupnya.
Pertemuan itu terjadi di saat Jeff bener-bener ada di titik jenuh. Fokusnya cuma kerja, ngafalin skrip, dan ngeladenin ekspektasi publik yang makin hari makin berat. Dia nggak punya ruang buat urusan romantis —sampe dia ketemu Alice.
Alice Phunsawat. Siapa yang sangka mereka bakal ketemu di sebuah pojokan kafe kecil yang tersembunyi, tempat Jeff ngumpet dengan topi baseball dan masker demi kabur dari kejaran jadwalnya yang gila?
Bukan dari kalangan selebriti, omega yang pertama kali Jeff temuin dengan apron hitam, rambut dicepol khas barista, dan tangan cekatan bikin espresso itu cuma perempuan biasa. Humble, respectful, nggak materialis, mandiri, sederhana, dan yang paling penting, nggak peduli sama versi Jeff yang dipuja-puja jutaan orang di luar sana.
Jeff mulai sering datang tiap kali ada celah sepuluh menit di antara jadwalnya. Awalnya cuma buat asupan kafein, tapi lama-lama dia betah duduk lebih lama di sana. Dia sering tertahan cuma buat ngeliat Alice yang lagi sibuk steaming susu atau pas perempuan itu lagi ganti shift.
Mereka mulai ngobrol pendek, dari hal-hal nggak penting soal cuaca, keluhan Alice tentang pelanggan yang aneh, sampe cerita-cerita kecil Jeff soal harinya yang berat. Ada rasa nyaman setiap Jeff duduk di stool kayu itu. Alice selalu punya cara buat jadi pendengar yang baik, tanpa pernah mandang Jeff sebagai aset atau aktor besar. Di mata cewek itu, Jeff cuma cowok biasa yang lagi capek, dan itu udah cukup.
Jeff nggak inget kapan tepatnya perasaan itu mulai tumbuh. Mungkin pas Alice bikinin minuman favorit Jeff tanpa harus nanya dulu. Mungkin pas Alice diam-diam nyodorin sepotong lemon cake sambil berbisik, "Kamu keliatan capek banget hari ini, makan dulu, ya?"
Atau mungkin, momen paling krusial pas Jeff sadar dia mulai nyari feromon Alice begitu masuk kafe —aroma lembut khas omega yang cuma muncul kalo dia merasa aman dan nyaman.
Di kafe kecil itu, nggak ada aturan, nggak ada spotlight, dan nggak ada tuntutan publik. Cuma ada Jeff dan Alice. Di sudut kecil dunia itulah, untuk pertama kalinya, Jeff ngerasa dia nggak perlu akting buat jadi dirinya sendiri.
──────────────────────
Mereka berdua duduk di sofa hampir dua jam dengan latar Netflix yang cuma jadi background noise. Volumenya sengaja dikecilin, filmnya jalan terus tanpa ada yang bener-bener peduli sama alurnya. Jeff duduk santai nyender di sofa, sementara kepala Alice udah sejak lima belas menit lalu berada di pangkuannya.
"Babe?" Jeff nunduk, ngeliat ke bawah sambil senyum kecil. "Kamu tidur?"
Nggak ada jawaban.
KAMU SEDANG MEMBACA
His Side [JeffBarcode]
RomanceJeff, aktor senior alpha dengan karir cemerlang dan reputasi tanpa cela, dipasangin sama Barcode, idol junior beta yang ditunjuk jadi partner kerja Jeff di proyek besar agensi. Di balik tuntutan profesionalitas dan sorotan kamera yang terus ngejar...
![His Side [JeffBarcode]](https://img.yamur.dijitalkalp.com/cover/319888702-64-k406628.jpg)