Bab 12

8 2 3
                                        

Fijar sedari tadi sibuk menatap hpnya. Kini ia sedang bimbang untuk memulai chat dengan seseorang. Sampai sampai lelaki itu sesekali menyalakan hpnya lalu mematikannya kembali.

Fijar mengacak rambutnya frustasi, ia ingin chat gadis itu. Namun, ia juga tak tahu bagaimana memulainya. Fijar berfikir untuk kesekian kalinya. Lalu mulai mengetikkan sesuatu.

Ar, lo lagi apa?

Fijar membaca ulang chatnya, lalu ia menggelengkan kepalanya. "Gak, gak. Jangan gini," ucapnya sambil menghapus chatnya.

Ar, sibuk gak? Kita keluar yu?

Fijar kembali menggelengkan kepalanya, "gak deh," ucapnya sambil menghapus chatnya.

"Terus apa ya?" Fijar mengacak rambutnya frustasi.

"Aah, bodo lah. Pusing gue," Fijar menyimpan hpnya di meja lalu beranjak dari kursinya dan  menghempaskan tubuhnya ke kasur. Kini lelaki itu tengah menatap langit-langit kamarnya.

"Gue bingung, tu cewe kenapa bisa bikin gue segila ini sih!" gumamnya kesal.

Dari sejak awal bertemu dengan gadis itu Fijar sama sekali tidak pernah berfikir akan sejauh ini. Ya siapa yang bakal menyangka mereka hanya berawal dari ketidaksengajaan Binar menabrak dirinya di sebuah toko lukisan. Lalu saat kedua kali mereka bertemu di toko buku. Fijar mulai merasa ada sesuatu yang aneh. Saat dirinya tidak sadar ingin melindungi Binar saat dahi gadis itu akan membentur rak. Sesaat Fijar hanya berfikir itu hanya sikap kemanusiaannya saja.

Fijar sama sekali tidak mengerti. Diantara mereka sama sekali tidak ada momen spesial. Lantas, mengapa Fijar menjadi segila ini. Disaat ia melihat gadis itu sedang dibentak oleh lelaki lain. Fijar juga merasa marah, hatinya ikut terluka, Fijar juga ingin menyembuhkan luka gadis itu. Padahal Fijar baru beberapa Minggu saja berkenalan dengan gadis itu.

"Apa secepat ini?"
"Tapi, apa yang bikin gue kayak gini?"
"Kenal aja enggak, bahkan sekarang.... Dibilang dekat aja enggak,"
"Kenapa bisa, gue segila ini?" Fijar menghela nafasnya. Pikirannya sedang tidak baik baik saja sekarang. Apa cinta segila itu?

Meaw

Meaw

Fijar melihat ke bawah samping kasurnya dan terlihatlah Gemoy sambil mengkipat kipitkan buntut kemocengnya dengan pelan. Kucing itu menatap Fijar dengan memelas. Lalu dengan gerakan cepat kucing oren itu naik ke kasur lelaki itu dan dengan reflek Fijar memundurkan tubuhnya saat kucing itu akan mengenai wajahnya.

Meaw

Gemoy bersandar di dada lelaki itu sambil mendengkur dan Sesekali kepalanya mendusel dusel ke wajah Fijar.

"Manja banget sih moy," ucap Fijar sambil mengelus lembut kepala kucing itu.

"Moy, lo tau gak? Apa yang bikin gue gila?" Fijar menatap kucing oren itu dengan bibir cemberut. Namun, kucing itu hanya mendusel dusel kan kepalanya dan sesekali menjilat wajah lelaki itu, membuat Fijar tertawa kecil karena geli.

"Malam ini lo tidur sama gue ya moy," ucap Fijar lalu memeluk kucing gembul itu.

🤍🤍🤍

Binar sedang berusaha sibuk dengan laptopnya. Ia mencoba mengalihkan pikiran dengan berusaha untuk menulis. Alih-alih ingin menghilangkan pikirannya yang sejak kemarin menghantuinya malah semakin membuatnya memikirkan hal itu.

Fated AwayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang