Logan
Banyak perubahan yang terasa signifikan sejak mengetahui Tania hamil. Bohong jika semua biasa saja seperti sebelumnya. Tania bisa saja tidak menyadarinya tapi aku yang selalu ada disisinya kini tahu betapa cepat emosinya berubah.
Ia kini menjadi sangat sensitif. Gadis itu bisa tiba-tiba menangis tanpa sebab yang jelas. Lalu selang beberapa waktu ia bisa tertawa lepas seperti tidak ada hari esok. Moodnya bisa berubah drastis seperti pengidap bipolar.
Setelah tau Tania positif hamil, aku langsung mencari informasi di internet sebanyak mungkin tentang kehamilan. Mungkin aku tidak terlalu ahli meskipun telah menghabiskan banyak waktu menyelami internet, tapi sedikit banyak tau apa yang dibutuhkan Tania. Dan yang paling penting ia butuhkan saat ini ialah emotional support. Mau ia marah, kesal, ataupun sedih aku harus sigap dan memakluminya.
Jika Tania membutuhkanku kapanpun, aku harus siap. Ia ingin makan, aku akan berusaha memenuhi apa yang ia ingin makan saat itu. Atau ia ingin aku ada di sisinya menemaninya menonton series Netflix kesayangannya, aku siap kapanpun ia mau.
Itu sebabnya keberadaanku di sisinya sangat penting. Ia butuh seseorang yang ada di sisinya selama 24 jam tanpa lengah. Bibi yang dipekerjakan Hayden tidak terlalu efektif karena hanya kerja senin sampai sabtu dan libur di hari minggu, ia pulang pukul 5 sore tanpa menginap. Setelah berdiskusi alot dengan Tania yang ketakutan menghentikan pekerjaan bibi dan ketakutan jika Hayden tahu kita tinggal serumah berdua, akhirnya aku yang turun tangan berbicara dan membujuk Tania sampai yakin jika tidak akan terjadi apa-apa.
Bibi menatapku dengan penuh tanda tanya dan kecurigaan, tapi setelah aku mengirimkan sejumlah uang yang besar dari tabunganku sendiri, ia pergi tanpa bertanya-tanya lagi. Uang untuk menutup mulutnya agar tidak mengadu pada Hayden. Dan sejauh ini, Hayden tidak tahu dan mengira bibi masih kerja disini.
Banyak hal yang terjadi selepas Tania pulang dari rumah sakit. Aku tidak membiarkan ia berjalan, kemana-mana menggunakan kursi roda atau ia memanggilku dan aku akan menggendongnya kemana pun ia mau pergi.
Ia merasa canggung tiap kali menyuruhku memapahnya ke kamar mandi. Tiap pagi ia muntah-muntah karena morning sickness. Aku berjaga didepan kamarnya dan selama seminggu penuh tidur di ruang TV depan kamar Tania.
Hayden selalu menelponnya tepat di jam 4 sore, setiap hari selama beberapa menit. Dan Tania akan terlihat senang saat mengangkat telepon itu, lalu berubah muram saat mematikan sambungannya. Aku selalu mengamatinya dalam diam tanpa bertanya lebih lanjut.
Aku tau Tania merindukan Hayden. Yang ia butuhkan adalah suaminya, bukan aku. Orang asing yang tinggal satu atap dengannya.
Seminggu berlalu, dua minggu kemudian berlalu juga dengan cepat, Tania sudah tidak lagi canggung dengan kehadiranku disini. Ia nampak lebih enjoy dan ceria. Sudah bisa kemana-mana di dalam apartemen tanpa bantuanku. Dan ia sudah mulai menerima fakta bahwa ia sedang hamil.
"Enaknya hari ini kita makan apa?" Tanya Tania yang memegang remote TV menggonta-ganti channel karena belum menemukan acara yang ia ingin tonton.
Aku duduk di sisi lain sofa yang kita duduki menghadap langsung pada layar TV.
"Lo lagi pengen makan apa?"
"Umm," Gadis itu nampak berpikir panjang. Bibirnya mengerucut terlihat sangat menggemaskan dimataku. "Sebenernya gue nggak terlalu mood makan."
"Kenapa?"
"Nggak tahu. Lagi nggak mood aja." Jawaban klasik yang Tania selalu katakan jika ia ingin aku yang memutuskan sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEAR CIEL | Hendery Tzuyu
FanfictionBertemu dengan 2 manusia yang memiliki nama depan sama namun sifat yang berbeda 180 derajat. Bukan tentang siapa yang bertemu lebih dulu, namun siapa yang patut dipertahankan. Tania memutuskan untuk menikah dengan Hayden sejak awal pertemuan mereka...
