Allah memberi baalasan kepada setiap orang terhadap apa yang dia usahakan.
_Q.S Ibrahim ayat 51_
✧༺ ℍ𝕒𝕡𝕡𝕪 ℝ𝕖𝕒𝕕𝕚𝕟𝕘 ༻✧
❖❖❖
Setelah selesai makan dan mengobrol ngalor ngidul, Zean dan Humaira memutuskan untuk pulang. Keduanya berjalan berdampingan, sedikit membuat hati Zean mereog tak karuan, merasa keduanya sangat cocok.
Awak dewe tau nduwe bayangan, mbesuk yen wis wayah omah-omahan, aku moco koran sarungan, kowe blonjo dasteran. Nanging, saiki jek dadi khayalan, aku karo kowe wis jalan-jalan. Aku kiri kowe kanan, mlaku jejeran, batinnya bernada, mengganti beberapa liriknya.
[Kita pernah punya bayangan, besok kalau sudah berumah tangga, aku baca koran pakai sarung, kamu belanja pakai daster. Tapi, sekarang masih jadi khayalan, aku dan kamu sudah jalan-jalan. Aku kiri kamu kanan, jalan berdampingan]
Zean terkekeh geli dengan batinnya yang akhir-akhir ini alay. Biarlah, toh tidak ada yang mendengar. Rasanya, hidup Zean saat ini lebih berwarna. Meskipun nanti perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan, ia tak peduli. Mencintai Humaira sudah sangat cukup baginya.
Cowok itu menoleh, menatap pahatan wajah sempurna Tuhan. Diam tak melakukan apa pun saja sudah terlihat sangat cantik dan menawan bagi Zean, lalu bagaimana bisa ia tidak tenggelam dalam pesona gadis cantik itu? Andai, waktu bisa dihentikan, Zean ingin seperti ini sedikit lebih lama. Menatap paras ayu itu dari dekat. Mungkin, setelah olimpiade selesai, kedekatan mereka semakin merenggang. Jangankan berduaan di perpustakaan, bertegur sapa pun Humaira pasti enggan merespon.
"Eh, lo mau ke mana?" tanya Zean saat melihat Humaira hendak membuka pintu belakang mobilnya.
"Masuk."
"Duduk depan! Lo kira gue supir!"
Humaira terdiam melihat Zean yang menampakkan wajah garang, "Ya udah, aku naik taksi aja."
"Nggak bisa gitu, dong! Lo ke sini bareng gue, pulangnya juga harus bareng gue." Humaira mengangguk lemah, hendak membuka pintu mobil membuat Zean tersenyum penuh kemenangan.
"Zean," panggil seseorang membuatnya menoleh. Zean mengetatkan rahang. Bisa-bisanya cewek itu muncul ketika ada Humaira di dekatnya. Ia tak mau nantinya gadis itu akan salah paham.
"Kamu ngapain di sini?" tanyanya sambil memeluk posesif lengan besar Zean.
"Ini tempat umum. Ada larangan gue dateng ke sini?" ketusnya, "lepasin tangan gue!" Gadis itu tak menghiraukan Zean, malah semakin mengeratkan pelukannya.
"ARUMI, LEPAS!" teriaknya membuat gadis berpakaian minim itu sontak melepaskan pelukannya dengan bibir mencebik. Tak hanya Arumi, Humaira pun terjingkat kaget.
"Kamu kenapa, sih, kasar terus sama aku?" Arumi melirik ke arah Humaira, "oh, pasti gara-gara cewek ini, 'kan? Dibayar berapa lo buat jadi jalangnya Zean?"
"ARUMI! JAGA OMONGAN LO, YA!" Zean tertegun kala Humaira mengusap lembut bahunya. Cowok itu menoleh ke arah sang gadis yang tersenyum tipis dan mengangguk seolah mengatakan 'nggak papa'.
"Gara-gara lo, Zean bentak gue! Asal lo tau, ya, kita sebentar lagi tunangan! Jadi, gue peringatin sama lo jangan deket-deket sama Zean!"
"Oh, ya? Kalau Zean tunangan kamu, nggak mungkin dia bentak-bentak kamu buat belain aku. Hal sekecil itu udah ngebuktiina siapa yang lebih penting buat Zean. Ngerti 'kan, ngerti dong, ngerti lah, masa enggak." Zean tersenyum miring. Ia kira, Humaira akan menangis ketika dihina seperti itu oleh wanita setengah kunti itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
HUMAIRA
Teen FictionGilang Zean Adijaya, cowok SMA yang hobinya tawuran, balapan, keluar masuk club untuk minum minuman keras tiba-tiba jatuh cinta pada gadis bernama Alesha Humaira Zaida. Gadis cantik berjilbab itu mampu membuat Zean jatuh cinta pada pandangan pertama...
