New work !
Hello this is shooky_as cookie company 🤗
Vibes baru dengan korban yang sama 😂 . . .
Seperti biasa yahh
Cerita ini murni atas ide shooky sendiri. Apabila terdapat kesamaan itu diluar kendali shooky,,, tidak disengaja, bukan meniru apalagi copy paste
Please don't copy anything on my work !!!
Happy Reading 🤗
*****
"30 ribu ya mbak!" Ucap pria dibelakang meja kasir usai memasukkan semua belanjaan gadis didepannya
Dhea, gadis berkuncir kuda itu membuka dompet merah mudanya, menarik beberapa lembar uang lima ribuan dan sepuluh ribu. Ia terdiam sesaat setelahnya, hanya ada dua lembar lima ribuan, satu lembar sepuluh ribu dan dua lembar uang dua ribu.
"Kenapa mbak?" Tanya pria kasir
"Saya lupa mas, ternyata uangnya cuma 24, saya ga bawa lebihan nih, bisa di -"
"Gabisa mbak!" Jawabnya sedikit ketus
Gadis itu mengusap tengkuknya, ia bingung harus dengan apa membayar sisa uang yang kurang. Kalau ini warung mungkin dirinya akan menawarkan diri cuci piring,
"Saya tahan KTP nya mbak, ntar balik lagi sini bawa yang kurangnya. Gimana?" Saran pria tadi, mau tidak mau sebab dibelakang ada beberapa antrian
"Tapi saya masih SMA nih, belum juga tujuh belas, belum ada KTP mas!"
"Ck, Yaudah mbaknya minggir dulu coba! Masih ada yang ngantri tuh!"
Dengan raut wajah menahan malu Dhea bergeser dari tempatnya berdiri. Dalam hatinya tak henti merutuki dirinya sebab ceroboh dan kurang tahu diri.
Sekiranya ada sekitar sepuluh menit gadis itu berdiri, dia hanya jadi bahan tatapan sinis pelanggan yang lain sebab tak mampu membayar. Berharap apa di kota besar seperti Jakarta ini ada orang baik yang dengan cuma-cuma mau membantunya?
"Pacar?"
"Mata Lo, ga bisa bayar dia mah."
"Santai anjing, gua nanya. Kelamaan digantungin sensian banget."
"Ya Lo nanya begitu, tar kalau si Saras datang terus ribut lagi gua botakin Lo!"
"Cis, jadian kagak protektif iya. Nih, bayarin sekalian. Tega banget Lo anak sekolah gini di tahan-tahan!"
"Profesionalisme dalam kerjaan."
"Tai Lo!"
Ia mendengar percakapan salah seorang pelanggan dengan kasir tadi. Merasa takut dan lega di waktu yang bersamaan. Pasalnya bisa saja pria yang berniat sok baik itu ternyata punya maksud terselubung padanya, mengingat saat ini tengah marak kasus pedofilia.
"Full atau kurangnya!"
"Semua! Balikin tuh duitnya tadi jangan Lo kantongin kalau ga mau gue sundut pakai mancis Lo!"
"Asu!"
Sedikit takut Dhea mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk, ia melihat punggung pria yang barusan keluar dari minimarket. Pria tinggi dengan kemeja kebesaran dan tas selempang.
"Nih, udah dibayarin sama mas itu!"
"Eh? Makasih ya mas!" Ucapnya sembari menerima kantung plastik belanjanya.
"Bukan sama saya, sama mas itu tuh! Yang lagi ngerokok di luar!"
Kepalanya mengangguk, ia melangkah keluar menyusul pria tadi yang juga sudah pergi usai menyulut sebatang rokok.
KAMU SEDANG MEMBACA
Together Or Nothing (?) || TXT ft Liz IVE
General FictionManusia tak pernah tahu, seberapa jauh dia berjalan, seberapa lama dia menunggu, dan seberapa besar dia harus berkorban. Ia hanya perlu yakin pada satu hal, setelah gelap akan tiba saatnya terang. Badai tentu akan reda, tanpa diminta tanpa dipaksa...
