Moment of Truth

10 0 1
                                        

Menjadi lebih besar membuatmu memiliki semacam kebebasan yang terkekang. Kebebasan yang hanya didapat di dalam otakmu saja. Di dalam pikiran dan angan-angan. Namun, begitu terbelenggu di dunia nyata. 

Menjadi lebih besar membuatmu bebas berteman. Membuatmu tidak lagi harus diajari bagaimana caranya memilah persona yang dapat hidup dengan segala lebih dan kurangmu. 

Ashilla menyadari, bahwa berapapun harga yang perlu dibayarnya, ia ingin menjadi persona yang mampu bersanding dengan Alvin. Di mana pun. Sebab pemuda itu memenuhi segala kriteria tentang bagaimana cara sang gadis berteman. Ia dapat hidup dengan segala lebih dan kurangnya seorang Ashilla.

Demi Tuhan dan segala kuasanya. Demi semesta dan segala isinya, Ashilla tidak ingin pulang. Bergelung dengan nyaman di bawah selimut hangat, merasa terjaga sebab presensi Alvin di naungan yang sama, dan menikmati sinar matahari yang menyelinap dari celah-celah jendela membuatnya merasa seperti berada di rumah. 

Rumah yang tidak pernah ia tahu bagaimana rupanya.

Kercipan burung camar yang bertengger di dahan pohon tepat di dekat jendela kamarnya semakin membuat Ashilla memahami, bahwa inilah rumah yang acapkali diimpikannya. Rumah yang selama ini hanya ada dalam angan dan bayang-bayang imajinasinya saja. 

Pagi hari itu tampak tenang, sebelum suara bising helikopter menghentaknya kembali pada realita.

“Mimpi lagi?” tanya Shilla, menghela napas kelewat lelah. Mimpinya harus kandas saat itu juga selepas ia mengerling pada suara bising helikopter di luar sana, berusaha mendarat di taman belakang.

Gadis itu masih kerasan mematri pada tempatnya berdiri, dengan kedua tangan bersidekap, kedua netranya terfokus dengan rasa kesal luar biasa. Separuh dari murid Professor sudah beranjak keluar, kemungkinan juga bertanya-tanya siapa pula yang seenaknya memarkir helikopter di sini?

Rasanya sang dara tidak ingin memedulikan. Sampai akhirnya ia menangkap sesosok pemuda berasma Alvin yang mendekati helikopter tersebut, memberi barikade pada murid-murid Professor. Ashilla serta-merta berlari keluar, menuruni anak tangga dan menghampiri Alvin. Menyisakan beberapa langkah di belakang sang adam.

“Alvin…”

“Mereka mau jemput kamu,’kan?” tanya Alvin tanpa sedikitpun menoleh. Sekadar bertanya dengan intonasi yang sedatar mungkin. Ashilla menunduk sejenak. Sepersekian sekon tak mampu memahami bagaimana aksonnya mengantarkan sebentuk informasi.

Yang ia tahu, ia hanya merasa ingin sekali menghardik semesta. Yang acapkali bermain dengan perasaannya.

“Aku nggak mau kemana-mana,” jawab Shilla jelas. Sekonyong-konyong kelenjar lakrimasinya bekerja tanpa diminta. Liquid bening itu tahu-tahu telah menganak sungai, mengalir dan terjun bebas melewati pipinya. Gadis itu sendiri terperanjat.

Jadi, begini rupa air mata? 

Shilla tidak pernah menangis seumur hidupnya. Kecuali pada saat ia lahir, mungkin. Itupun tidak pernah diingatnya. Masa kecil yang terlupa. Entah itu jatuh dan terluka. Dia tidak pernah ingat bahwa ia pernah menumpahkan air mata. Di manapun.

Ragu-ragu, Alvin menoleh. Mendapati Ashilla menggenggam erat kemeja bagian bawahnya. Pandangannya beralih pada wajah sang dara, yang kini telah dilapisi air mata.

“Jangan nangis, Shilla.” Alvin bergeming. Ingin sekali ia memeluk Ashilla. Kalau saja ia tak mengindahkan bahwa keduanya memakai pakaian setipis serat benang. Serta kemungkinan bahwa epidermis keduanya akan bersentuhan barang sepersekian sekon saja.

“Aku nggak mau kemana-mana,” tegasnya lagi. Kali ini dengan penekanan. Belum sempat Alvin akan menjawab, beberapa pria bertubuh kekar berseragam dengan senjata akhirnya turun dan maju beberapa langkah. 

She is not going anywhere,” tegas Alvin.

Saat baritone sang adam telah mendeklarkan sebentuk kalimat kepemilikan, barulah sosok yang baru-baru ini menyandang status sebagai ‘persona non grata’ dalam hidup Shilla menunjukkan eksistensinya.

Selagi tungkainya menjejak menuruni undakan pada helikopter menuju lapisan bumi, sebelah tangannya melepas kaca mata hitam yang kini bertengger di atas kepalanya.

“Ashilla is mine. If you want to take her, get ready for war.” Alvin menggeram pelan. Dadanya tampak naik turun menandakan berpacunya jantung di atas kadar normal.

Perang, katanya.

Ashilla menghela napas. Semesta memang acapkali mempermainkannya sedemikian rupa. Sang dara memejamkan netranya sesaat, menetralisir kegundahan yang menyelimuti bak kabut di malam hari.

Ia melepas genggamannya pada Alvin, yang dibalas dengan tolehan tajam sang adam. Pemuda itu menekuk alisnya ke dalam, dahinya berkerut marah seakan berkata ‘jangan coba-coba’.

“Tidak akan ada perang di sini. Kau masuk begitu tanpa salam ke rumah orang lain. Di mana letak kesopananmu?” Tak dinyana, suara serak sang Professor menggema dari balik pintu ruangan. Perlahan, terbentuk dua barisan kanan dan kiri seakan menyambut sang Professor di tengah-tengah.

Kedua persona paruh baya yang sama-sama diberi gelar 'Professo’' itu kini beradu tatap.

“Pierre, kau tahu kan tidak boleh ada seseorang yang bersekolah di sini tanpa persetujuan orang tua dan walinya?" Professor Maxwell lebih dulu mendeklarkan pernyataan. Sekonyong-konyong menjembatani tiap kalimat agar teman sejawatnya itu memahami maksud implisitnya.

Pemilik sekolah luar biasa berasma ‘Pierre’ yang lebih akrab disapa ‘Professor’ itu sejenak bergeming. Tanpa sedikitpun mengendurkan otot-otot pada wajahnya.

“Maxwell, seperti yang kau tahu, siapapun yang sudah berumur lebih dari tujuh belas tahun berhak menentukan sendiri nasibnya.” Ashilla cergas menoleh pada pria paruh baya di atas kursi roda tersebut. Professor Pierre sedikit mengerlingkan netranya pada sang dara, memberikan tatap sendu yang tak dapat ditebak artinya.

“Kau memang benar-benar tidak tahu apapun. Akulah yang menjaganya sejak kecil, apa kau tidak tahu bahwa Ashilla berumur kurang dari tujuh belas tahun?” Sejujurnya, gadis dalam topik konversasi sengit ini sendiri pun sama sekali mangkir dalam pengetahuan mengenai data dirinya sendiri.

Apakah memang ia berumur kurang dari tujuh belas tahun? 

Apakah Professor Maxwell ini benar-benar ayahnya? Ayah biologisnya?

Mau tidak mau sekelumit persoalan ini membuat batok kepalanya seakan dihantam palu godam gigantis dan membuat aliran darahnya menyempit. 

Gadis itu ingin sekali mengeluarkan amarahnya yang membuncah, meneriaki semua orang untuk diam barang sebentar saja diiringi kata kasar berupa ‘FUCK YOU’.

Namun, ia hanya kerasan bergeming pada lapisan epidermis bumi. Semilir angin yang membelai wajahnya, goyangan rumput yang menggelitik telapak kaki polosnya, dan tatapan itu.

Kedua netra sekelam jelaga yang menusuknya hingga ke tulang.

Aku ini siapa?

Pertanyaan yang laiknya sebuah repetisi lejar. Hanya berputar-putar di dalam serebrumnya tanpa tendeng aling-aling. Ilir-mudik menyusuri memori demi memori bak kaset kusut yang tak mampu lagi diurai.
 
"Ashilla adalah putriku,” ujar Professor Pierre dalam satu tarikan napas.

Lantas terciptalah atmosfer mengerikan bernama keheningan, menyelimuti kesemua-muanya seperti rinai hujan di bulan Juni.

***

TBC

A/N:
Hehehehehe masih inget gksih sm cerita ini? gak jg gpp sih. hepi riding y

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 14, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

[ASHILLA IN ACTION!]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang