Suara salawat dari toa masjid terdengar cukup nyaring, memaksa Syanum untuk beranjak dari pelukan kasurnya. Ini akan jadi hari pertama Syanum pindah seutuhnya. Syanum sudah menjalani separuh hidupnya dengan jalan tak biasa. Bukan waktu sebentar hingga ia mampu memiliki bangunan dan kedai atas namanya sendiri. Syanum ingat dengan jelas bagaimana dirinya memulai dari awal tinggal di kontrakan tanpa ada kenalan.
Syanum menemukan ponselnya menunjukkan pukul 3.45. Ia bangkit untuk tahajjud. Syanum tiba-tiba ingat Syaqib dan jelas Syanum belum ingin terikat dengan hubungan seresmi pernikahan. Apalagi dengan Syaqib yang tidak ada rasa di hatinya untuk lebih jauh daripada sekedar teman. Namun Syanum tetap berdoa agar Allah berikan Syaqib dan semua orang terdekatnya kebahagiaan. Syanum juga meminta Allah untuk melembutkan hatinya dan memalingkan saja perasaan Syaqib. Syanum sangat yakin Allah akan mendengarkan pinta tulus darinya, jikapun sebaliknya, Syanum percaya Allah sebaik-baiknya pengatur rencana. Setelah memohon ampunan Syanum berbaring sambil membaca Al-qur'an. Tiba-tiba saja matanya berat karena mengantuk hingga ia tertidur.
Ketika azan subuh terdengar Syanum terbangun kembali dan merasa ada yang membuatnya tak nyaman. Ia segera beranjak ke kamar mandi dan memastikan. Dan benar saja, Syanum kembali datang bulan. Syanum lalu membuka jendela dan mempersilakan udara pagi memasuki kamarnya. Syanum menghirup udara segar pagi sambil sekali lagi menyuskuri nikmat-Nya.
Syanum membeli lahan berukuran 10 x 15 meter. Dan Syanum memanfaatkan setengahnya dijual untuk menambah pembangunan kedai. Sisanya disulap menjadi bangunan 2 lantai. Lantai bawah sebagai kedai, dan lantai atas untuk tempat tinggal Syanum. Kamar Syanum sendiri hanya berukuran 5 x 3 meter. Ada kamar mandi di dalam. Sisa lantai atas juga dimanfaatkan sebagai bagian dari kedai. Syanum menamai kedainya SumSumi karena ia ingin memanfaatkan dengan maksimal satu-satunya harta yang Syanum miliki. Pagi hari Syanum sediakan menu sarapan. Siang untuk coffee break dan malam untuk tongkrongan.
Syanum tiba-tiba teringat Syaqib. Baru saja Syanum menikmati kehidupan sendirinya, dia datang memperkeruh air yang mulai tenang. Lelaki itu menurut Syanum terlalu bersemangat. Memang benar obat bagi orang jatuh cinta itu menikah, tetapi sayangnya, dia sama sekali belum mengenal Syanum, mungkin baru 10% luarnya saja. Dan juga, Syanum yakin hatinya belum menginginkan seseorang.
Syanum turun ke lantai bawah, di sana ada dapur dengan semua perlengkapannya. Syanum menyeduh segelas teh untuk dirinya sendiri. Kenangan tentang Syakir sedetik mengganggunya, lalu Syanum mendorong bayangan itu menjauh. Syanum mendengar suara seseorang membuka kunci depan.
"Assalamu'alaikum, Bu."
Syanum tersenyum saat pegawainya itu terkejut dengan kehadirannya. "Wa'alaikumsalam. Kaget, Bu? Maaf, ya."
"Iya, Bu. Duh, saya kesiangan lagi."
"Gak pa pa, Bu. Sesekali."
"Sebenarnya saya berangkat seperti biasa, tadi lupa kalo sekarang kita pindah ke sini. Maklum, emak-emak. Harusnya saya berangkat lebih awal."
"Ibu tinggal di mana?"
"Selindung, Bu."
"Jauh ya."
"Lumayan, Bu. Saya masak dulu, Bu. Permisi."
Syanum selesai menghabiskan tehnya. Ia membuka ponsel melihat berita tentang acaranya kemarin. Beberapa artikel muncul, dan Syanum melihat foto dirinya di sana, foto saat anak panti asuhan menyalami dirinya. Tertera sumber foto itu, Syakir Nur Rahman.
Obat lainnya bagi yang berpenyakit cinta adalah menjauhinya. Syanum menutup halaman artikel. Ia tak mau mengingat-ingat masa lalu. Syanum memandangi daftar harian yang selama ini menjadi tampilan pada layar utama ponselnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sya,
SpiritualDulu sudah pernah Syanum berangan menikah dan bahagia. Sayangnya itu dulu, sebelum tragedi mengakhiri semua perjuangan Syanum tentang mimpinya membangun rumah bahagia. "Subhanallah, Sya. Aku akan menunggu. Pilihanku kuserahkan pada Allah. Allah akan...
