Message - Chapter 6

71 1 1
                                        

Emma Sano tidak punya opsi selain meneruskan kehidupannya. Bersama dengan Mickey, mereka saling menguatkan di tengah situasi baru. Kehadiran satu anggota keluarga menjadi suatu kabahagiaan sekaligus haru bagi keduanya. Tak menyangka rumah singgah mereka akan diisi dengan tangisan bayi merah. Terkadang juga dipenuhi tawa tak kuasa melihat wajah si kecil yang menggemaskan.

Setelah melahirkan bayi laki-laki bernama Haruki, Emma memilih untuk beristirahat di rumah. Sementara Mickey bekerja seperti biasa untuk memenuhi kebutuhan mereka. Meskipun Emma menerima sejumlah uang dari Kato, ia tidak ingin lengah dan berdiam saja. Puan pirang itu akan kembali bekerja jika keadaannya sudah siap untuk kembali beraktivitas.

Haruki sudah terlelap di ranjangnya. Emma masih setia menemani buah hatinya, sambil sesekali mengelus pipi gembil dan halus Haruki. Ia tidak bisa menggambarkan rasanya memiliki seorang anak akan serumit ini. Ia bahagia, namun lubuk hatinya merasa kesepian. Mickey memang selalu berada di sisinya, tapi tetap ada sesuatu yang tak tergantikan.

"Emma, kau juga harus istirahat." Suara Mickey datang dari ambang pintu. Emma menyambutnya dengan senyuman. Ia sedikit memijat bahu dan meregangkan tubuh. Memang dirinya butuh istirahat. Merawat seorang bayi tak seindah yang dibayangkan. "Aku akan istirahat sebentar lagi."

Paham dengan jawaban Emma, Mickey meninggalkan kamar sang adik. Emma masih setia duduk di sisi ranjang Haruki. Ketenangannya tiba-tiba terpecah saat ponsel berdering. Emma melihat nomor tak bertuan pada layar ponselnya. Tanpa rasa curiga, ia langsung menerima panggilan. "Emma.." Terdengar suara seorang laki-laki di seberang sana. Lisannya terdengar berat dan diselingi nafas terengah.

Dahi Emma mengerut. Ia melangkah keluar dari kamarnya agar tidak mengganggu Haruki yang terlelap. "Who is this..?" Pertanyaan lumrah saat Emma tidak bisa mengidentifikasi penelpon. Suara terengah mendominasi panggilan. "Kato.." Raut Emma seketika menjadi khawatir. Emosinya yang sedang tidak stabil pasca melahirkan membuat matanya berkaca. "Kato-san..?"

Laki-laki yang mengaku sebagai Kato di seberang telepon kembali terengah. "Aku.. sudah pindah.. rumah sakit umum.." Ia terdengar susah payah untuk mengucap barang seutas kalimat. Emma pun tak tega mendengar Kato seperti orang kesakitan. "Aku mendengarmu, Kato-san. Aku akan segera menjengukmu, oke? Sebaiknya untuk saat ini kau istirahat saja."

Kato pun terdengar lega saat Emma memahami ucapannya. Tak lama sambungan terputus sepihak. Emma kembali dirundung rasa khawatir. Perasaannya porak poranda mendengar suara Kato yang sepertinya tidak baik-baik saja. Ia ingin sekali menemuinya, tapi tidak siap jika harus mendengar hal yang menyakitkan lagi.

. . .

Di hadapan Emma terbaring pria setengah siuman. Matanya tertutup namun masih memberi tanda kehidupan. Masker oksigen menutupi hampir setengah wajah pria bersurai coklat keabuan. Nafasnya terdengar stabil, begitu juga detak jantungnya yang terdengar lewat pendeteksi. Emma tak tega melihat ayah dari putranya begitu tidak berdaya. Menunduk jadi salah satu pilihan terbaik.

Ketika dirinya berkunjung, seorang suster menjelaskan keadaan pasien bernama Kato Haru. Virus yang berinang di dalam tubuhnya tak mampu dikekang. Menjalar seperti api saat bertemu dengan kayu. Menggerogoti tubuh pria itu hingga berujung komplikasi. Emma pun tak sanggup mendengarnya. Terlebih, ia tidak tahu hal tragis apa yang menimpa pria di hadapannya.

Kato merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Ia memberikan sedikit pergerakan, mengerang seperti menahan sakit. "Em.. ma..." lirihnya kepada wanita di sampingnya. Yang terapanggil langsung mendekatkan wajahnya kepada Kato. Berharap pria itu bisa melihat parasnya. "Aku di sini, Kato-san.."

Emma menggenggam erat tangan Kato. Menyelipkan jemarinya di antara jari-jari Kato, untuk memperjelas eksistensinya. Tak menyangka empu tangan yang lebih besar darinya itu menggenggam balik tangan Emma. Sang puan tersenyum miris merasakan respon dari orang yang seharusnya menjadi suaminya. Mata Kato terbuka perlahan dan menatap Emma yang sudah berada di dekatnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 21, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

'Normal' [Fugou Keiji - HaruDai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang