Shan dan Salwa saat ini sedang berada di lift menuju lobby kampus. Zayn sudah mengabari mereka bahwa ia pulang lebih dulu. Keduanya tak masalah. Karna beberapa bodyguard masih tetap berada disekitar mereka. Termasuk seperti saat ini.
Ting
Langkah keduanya sempat terhenti sesaat sebelum sampai lobby. Dapat dilihat siapa sebenarnya tamu yang Tristan maksud tadi.
"Jika nona tidak ingin menemuinya, biar saya katakan padanya" ucap Yudhis, salah satu bodyguard yang berdiri tepat di samping kiri Salwa
"iya Sal. Kalo lo gamau, jangan dipaksa. Kita pulang aja, ya?" bujuk Shan
Salwa berusaha menenangkan dirinya sendiri, "gue mau ngobrol sebentar sama dia. Yudhis, lo ikut gue" ucapnya
"lo yakin Sal?"
"iya. Ada beberapa hal yang mau gue omongin ke dia. Termasuk perjanjian sialan itu. Lo tunggu disini ya, Shan"
"oke. Yudhis lo bawa beberapa orang kesana. Lo jaga yang bener sodara gue"
"siap, nona. Kalian jaga nona Shan. Jangan sampai lengah" titahnya pada rekan yang lain
Kedatangan Salwa tentu saja disambut gembira oleh orang yang saat ini sedang duduk seorang diri di lobby sana.
"Mama fikir kamu gamau nemuin mama, nak" perempuan itu hendak memeluk Salwa, namun gadis itu langsung menolaknya
Tanpa memperdulikan raut kesedihan perempuan tadi, Salwa duduk dengan menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"saya mau bicara sesuatu"
Perempuan itu duduk dihadapan Salwa. Dipandanginya wajah cantik anak perempuannya itu. Walau tak ada senyuman setiap kali bertemu, namun ia tau anaknya itu sangat cantik. Ia tersenyum sendu menatap gadis cantik yang kini sedang mengatur nafasnya.
"Tolong batalkan perjanjian sialan itu" tegas Salwa
"maksud kamu, nak? Kamu membiarkan diri kamu terluka saat ada bahaya mengancam di keluarga sambung kamu? Gak, Salwa. Mama gamau lihat anak mama terluka sedikit pun"
"kamu anak perempuan mama. Mama baru bertemu dengan kamu. Dan mama gamau kehilangan kamu dengan membiarkan kamu hidup diantara bahaya yang bisa kapan aja terjadi"
"kalau memang mereka gamau kehilangan kamu, seharusnya itu bisa buat mereka lebih aware lagi untuk jagain kamu. Bukan malah nyuruh kamu bilang begitu ke mama"
"saya minta itu bukan karna kemauan mereka. Tapi karna keinginan saya sendiri. Akhiri dan hapus perjanjian itu! Biarin saya hidup seperti saat anda belum hadir" sahut Salwa
"mama lakuin itu supaya mereka tidak menempatkan kamu di posisi bahaya, nak. Kenapa kamu gak faham sama kekhawatiran, mama?" lirih Rachella
"saya gak pernah merasa mereka berbahaya! Justru mereka selalu memberi kenyamanan yang saya fikir tidak bisa saya dapatkan. Mereka menerima saya walau mereka tau saya bukan anaknya Mama Ara"
"anda baru bertemu dengan saya. Anda tidak tau bagaimana mereka menyayangi saya sejak bayi. Ketulusan itu yang membuat saya nyaman berada diantara mereka. Sedikitpun saya tidak pernah merasa bahaya saat berada didekat mereka"
KAMU SEDANG MEMBACA
Zayn Zara [On Going]
General Fiction[Tahap Revisi] Kisah ini berawal dari Zayn dan Zara yang masa kecilnya jauh dari kata bahagia. Harus terpaksa berpisah dengan orang yang disayang rasanya sungguh sangat menyakitkan. Namun, life must go on. Dengan tegarnya mereka menjalani lika liku...
![Zayn Zara [On Going]](https://img.yamur.dijitalkalp.com/cover/229525884-64-k342169.jpg)