Bagian 1. Fadli dan Anya

36 2 0
                                        

Fadli dan Anya adalah pasangan muda yang telah dikaruniai dua anak. Panji, anak pertama mereka, baru berusia dua tahun, sementara Wina baru lahir. Mereka hidup dalam kesederhanaan, tetapi Fadli adalah pria yang penuh tanggung jawab dan bekerja keras untuk keluarganya.

Fadli, Lelaki Pekerja Keras

Fadli bekerja di kota sebagai kuli bangunan. Setiap hari, ia berangkat pagi dan pulang dalam keadaan lelah, tetapi itu tidak menghentikannya untuk tetap mengurus keluarganya. Fadli memiliki mimpi besar: membangun rumah sendiri untuk anak dan istrinya. Ia sudah memiliki tabungan untuk mewujudkan impian itu, sementara tanah tempat rumah itu akan dibangun adalah pemberian Aki, ayahnya.

Namun, pengorbanan Fadli tidak dihargai. Di rumah mertua, ia justru diperlakukan seperti kuda beban.

Kehidupan di Rumah Mertua

Fadli tinggal bersama Anya di rumah keluarga Anya. Sejak awal, keluarga Anya memperlakukan Fadli bukan sebagai menantu, tetapi sebagai pekerja gratis. Setiap kali pulang kerja dalam keadaan letih, bukannya diberi kesempatan untuk beristirahat, ia malah harus melakukan berbagai pekerjaan rumah:

Mengambil air dari sumur Mencuci baju Anya Mencari rumput untuk ternak

Ia melakukan semuanya tanpa mengeluh, karena cintanya kepada Anya begitu besar. Fadli ingin membuat istrinya bahagia, dan ia berpikir bahwa melayani keluarga Anya adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai suami.

Namun, lama-kelamaan, perlakuan ini menjadi tidak adil. Fadli merasa semakin lelah dan tertekan. Anya, yang seharusnya menjadi tempatnya bersandar, malah semakin menuntutnya.

🌿🌿🌿

Pagi itu, suasana di rumah masih tenang. Anya duduk di teras rumah sambil menggendong Wina yang baru lahir. Matanya yang lelah menatap Panji, anak sulungnya, yang sedang bermain di halaman.

Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat. Ade, kakaknya, datang dengan wajah seperti biasa—dingin dan penuh sindiran.

"Hidupmu hanya begini-begini aja, nih? Tidak ada perubahan?" Ade membuka percakapan dengan nada meremehkan.

Anya menoleh, sedikit bingung. "Maksud Teh Ade apa ya? Mas Fadli itu sudah sangat bertanggung jawab."

Ade tertawa kecil, lalu melipat tangannya di dada. "Anya, Anya… Lelaki yang benar-benar mencintai istrinya bukan hanya sekadar bertanggung jawab. Tapi juga harus bisa memberi kebahagiaan materi. Kalau cuma kerja keras tapi tetap miskin, buat apa?"

Anya terdiam. Hatinya sedikit terusik.

Ade tersenyum sinis sebelum melanjutkan, "Oh, aku lupa. Fadli kan cuma buruh bangunan."

Kata-kata itu terasa seperti belati yang menusuk. Anya tidak langsung membalas. Dia tahu bahwa suaminya memang tidak kaya, tetapi Fadli selalu bekerja keras untuk mereka.

Namun, benih keraguan mulai tumbuh dalam hatinya.

🌿🌿🌿

Kepingan KenanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang