6. Selfharm.

17 5 1
                                        

Haiii.
Bagaimana kabar kalian? Semoga selalu baik. Hidup harus tetap berjalan, sekalipun kita tidak baik, kan? Jadi, ayo tetap jalani hidup yang katanya melelahkan itu.

Selamat membaca! Enjoy this story, don't forget to vote and comment.

iluvyu sengg <3.

✮⋆˙✮⋆˙✮⋆˙

"Sejak kamu datang, kamu telah menjadi tokoh utama di hidup ku. Tolong ceritakan selalu, bagaimana tentang hari mu. Karena itu, sudah menjadi bagian dari naskah dan dialog kesukaan ku, yang paling ku tunggu."
-Haris Alfareez.

Sudah dua bulan berlalu, sejak Haris mengambil pekerjaan yang di tawarkan oleh temannya, dan langsung di tempatkan di Palembang setelah beberapa minggu bekerja.

Keyla menjalani hari-hari nya seperti biasa, bekerja, menulis novel, lalu malam setelah pulang kerja ia bercerita tentang harinya pada Haris, melalui telpon.

Perasaan tidak rela itu, perlahan melebur membiasakan. Meski sesekali ia merasa sedikit overthinking, namun Haris selalu berhasil untuk melenyapkan segala hal yang mengganggu Keyla.

Haris mulai merasa ada yang salah. Ada yang berbeda dari gadis nya, entah apa.

Sejak minggu lalu Keyla sedikit susah di kabari, bahkan memberi kabar pun tidak seperti biasanya. Ia hanya takut, takut gadis nya kenapa-napa. Karena ia tahu betul, Keyla adalah perempuan nekat, terlebih saat dirinya sedang tidak baik saja, dan sendirian.

Disisi lain, di kota Jakarta. Lebih tepatnya, di dalam kamar kost, Keyla sedang duduk di sudut ruang kamarnya, melihat ponselnya yang terus nyala dan berdering.

Mata nya tidak basah, namun jejak air mata masih ada di sana. Isak tangis nya masih sedikit terdengar, penampilannya agak berantakan.

Gadis itu menelungkupkan wajahnya, pada dua lutut yang tertekuk, menyembunyikan wajahnya di balik lipatan lengan.

"Aku gak kuat, aku capek. Udah bisa nyerah sekarang, belum?" Ucap nya pada diri sendiri, yang sejak tadi terlontar dari mulutnya.

Pikiran Keyla mulai kembali melayang, mengingat kejadian yang ia alami hari ini, semua nya, semua hal yang membuatnya berulang kali ingin menyerah.

drtt drrtt.

Sudah tak tahan lagi dengan ponselnya yang terus berdering, akhirnya ia mengambil ponsel itu, dan menerima panggilan.

Ia menghapus jejak air matanya, tersenyum di depan layar ponsel, "Hai, maaf, tadi aku ketiduran," ucapnya, bohong.

Haris di seberang layar itu, melihat bahwa ada yang berbeda, ia tahu, gadisnya baru saja menangis.

"Hei, sayang, kamu kenapa? Akhir-akhir ini, kayaknya kamu lagi ada masalah ya? Sini cerita cantik, aku ada disini, buat kamu, kamu gak sendirian,"

Keyla menggeleng, setetes air mata nya kembali mengalir, tanpa seizin nya.

"Kamu udah capek kerja, aku gak mau nambahin itu. Kamu yang fokus kerja aja ya disana, aku gapapa kok." Ucap nya sambil tersenyum, senyum itu palsu.

"Secapek nya aku, cerita kamu itu tetep penting buat aku. Aku emang capek kerja, tapi masih selalu bisa nyempetin buat sekedar denger cerita kamu. Ada apa, sayang? Aku gak akan tenang kerja nya kalo kamu gak mau cerita."

Lalu Keyla akhirnya menceritakan semua masalahnya, semua yang telah terjadi. Haris tak menghakimi nya, justru memberinya semangat, menemaninya, sampai cerita itu selesai.

Sesaat, Keyla merasa lega, merasa bahwa sedikit masalahnya telah menjadi ringan. Keyla menatap aajah Haris melalui layar ponsel, dengan begitu lekatnya.

Betapa sangat beruntung nya Keyla, mendapati Haris.

Ternyata, senyuman di wajah Haris yang tengah mendengarkan Keyla bercerita hanya berlangsung sesaat, kala matanya menangkap ada luka pada pergelangan tangan Keyla, apa itu?.

Dahinya berkerut, "coba tunjukin lengan kamu lagi, Key," ucap Haris, nadanya masih begitu lembut.

Keyla memejamkan matanya sesaat, menyadari bahwa ia tak sengaja memperlihatkan luka, yang dibuatnya sendiri tadi.

"Eum, yang, ini, aku gak sengaja," jawab Keyla terbata.

"Tunjukin lagi ke aku, Keyla!" biasanya Haris akan memanggil Keyla dengan panggilan sayang, tapi kini, ia hanya memanggil namanya.

Dengan sedikit takut dan perlahan, Keyla menunjukkan luka itu ke layar ponselnya.

"Kapan kamu lakuin itu?" terdengar jelas, ada nada kecewa dari Haris.

"Sayang. Maaf, aku gak bisa nahannya tadi," Keyla menjawab dengan tertunduk.

Haris mengusap wajahnya, gusar. Hal yang di takutkan, ternyata benar terjadi.

"Kamu udah janji buat gak lakuin itu lagi kan? Sayang, aku disini, ada buat kamu. Kenapa kamu lakuin itu lagi?"

"Kak, maaf."

"Aku gak mau tau, ini yang terakhir. Kalo kamu lakuin itu lagi, kita putus."

deg.

Jantung Keyla seolah berhenti saat mendengar ancaman dari Haris. Tidak, tidak. Jangan lagi. Keyla sudah bosan mengulang kisah yang sama berulang kali.

"Kamu ngancem aku?"

"Itu bukan cuma sekedar ancaman, Keyla. Tapi peringatan!"

Keyla hanya diam, ia takut, sangat takut. Karena sudah berulang kali, terus kehilangan, hanya karena Keyla yang tidak pernah mau mendengarkan.

Kali ini, akan Keyla usahakan, untuk merubah diri, menjadi yang Haris mau. Akan Keyla lakukan, apapun itu, agar Haris tetap bersamanya.

"Kamu istirahat, obati lukanya, dan tidur. Besok kerja kan? Aku juga besok kerja, mau istirahat, udah ya."

Keyla mengangguk, "Iya," jawabnya, dan lalu sambungan telpon pun terputus.

Di Palembang, Haris tak langsung terlelap. Jujur saja, pikirannya masih berputar pada Keyla, pada luka yang ada di lengan gadisnya.

Kilasan memori terputar di kepalanya, membuatnya sedikit meringis.

Haris meraih pergelangan tangan itu, ada banyak bekas luka disana. Ia menatap wajah Keyla, tersenyum simpul.

"Tapi kamu udah gak lakuin ini lagi kan?" tanya nya.

Keyla menggeleng, "enggak, kak. Masa itu udah lewat, tapi biasanya, kalau aku mulai kambuh, aku bisa lakuin itu lagi."

Haris mengusap lembut setiap bekas luka itu, "jangan lagi ya, jangan di lukai lagi. Ada aku, kalo kamu merasa kambuh, bilang aku ya? Aku bantu kamu buat sembuh."

Hatinya terasa sakit, membayangkan betapa beratnya hari-hari gadis itu, sampai harus melampiaskan pada lengan kecilnya itu.

Ia merasa gagal, gagal membuat gadisnya sembuh dari trauma masa lalunya, dan gagal menjaganya.

✮⋆˙✮⋆˙✮⋆˙

Salam hangat
SPRA

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 25, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Jakarta Timur di bulan agustus kala itu. Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang