"Ah, mendingan aku pergi ke tempat lain sendiri kayak gini, ke tempat aku dilahirin, ngebantu ngejaga kotaku, dari pada harus satu kelompok sama orang sombong, yang ada emosi terus, kan enakan kayak gini, siapa tahu juga nanti disana aku ketemu pahlawan markas pelindung lain yang lagi ngelawan monster, kalau ditanya sama tuan Absi kenapa aku nggak bareng sama orang sombong itu, aku tinggal jawab dia selalu ngeremehin aku, sampe aku kesel dan nggak mau sama dia lagi," ujar Hafiz yang sedang duduk bersandar di dalam bus sambil mendengarkan musik menggunakan earphone dan segenggam roti, dengan pemandangan malam yang indah.
Mantel yang dikenakannya disimpan baik, karena tak ingin banyak orang memandanginya terus dan menghormati dia selalu, ia ingin sama seperti orang lainnya. Semenjak menaiki bus.
Entah mengapa Hafiz tak menyadari bahwa monster di dunia ini sudah musnah, padahal selalu berkelana mencari tumpangan kendaraan ke setiap tempat agar bisa ke kotanya, mulai ketika Hafiz meninggalkan Darel dan Anindya, ia sudah berencana menghabisi monster di daerahnya sendiri, yakin, pasti disana pun ada pahlawan pelindung lainnya.
Dari sana ia menunggangi kuda yang dibawa dari markas pelindung, berkelana melewati desa-desa, terkadang di jalan Hafiz menemukan monster yang berusaha menghadangnya, rasa malas yang tertancap pada Hafiz membuatnya melewati monster begitu saja, ia tetap menunggangi kuda dan mengabaikan monster yang berusaha mencegahnya.
Hafiz ingin mendapatkan ketenangan sepenuhnya, pagi, siang, sore, malam tak henti-hentinya, kecuali mungkin jika merasa lapar ia mencari pohon buah dan memetiknya beberapa lalu mencari air sungai bersih yang layak diminum, menurutnya itu sudah sebagian dari istirahat, karena tak ingin memakan waktu lebih lama, segera ia berkelana menuju daerahnya.
Hutan seperti apapun telah dilewati, wajar ia tak tahu jalan, hanya mengikuti kata hati, jika hatinya mengatakan harus mengarah ke arah yang dikatakan, diikutinya arah tersebut dan berjalan. padang rumput, taman bunga indah, dan tempat lainnya sepertinya sudah dipijak kaki kuda Hafiz. Monster-monster tak pernah dilawannya, tak peduli ia dengan makhluk aneh itu, jalanan sepi, tak seorang muncul, hanya dirinya dan para monster yang selalu mengganggu.
Segala cuaca dihalau begitu saja tanpa henti walau panas menyengat, kupluk dari mantel itulah sebagai pelindung kepala dari terik matahari dan hujan deras, terutama saat langit terlihat marah besar, mungkin karena penduduk dunia tak ada yang menunjukkan batang hidungnya, matahari menyediakan vitamin terbaik pada pagi hari dan sinar terpanas untuk menjemur pakaian, bulan bersinar terang menyinari malam gelap beserta bintang-bintang untuk memanjakan mata, tapi tetap saja satu manusia tak tampak. Mungkinkah dunia marah?
Petir, kilat, angin kencang, hujan datang bersamaan, terlebih kilatnya menakut-nakuti mata dan petir membuat tangan rasa ingin menutup telinga, angin kencang berusaha membuat manusia kedinginan ditambah hujan deras yang terus menusuk-nusuk. Hafiz tetap berjalan menunggangi kudanya, tak memikirkan kondisi hewan yang ditunggangi, ia terlihat letih, lidahnya terus menjalar meminta waktu istirahat meski sejenak, mata lemah seperti mengantuk, keempat kaki juga sudah melangkah lemah, tapi tali terus saja memaksa dirinya berjalan mengikuti keinginan sang tuan. Mungkin kuda itu akan mengatakan "dasar tuan penyiksa" pada Hafiz karena tidak memperdulikannya.
Ketika Hafiz dan kudanya melewati sebuah perkampungan, tiba-tiba saja sang hewan tersungkur lemah, Hafiz terseret di tanah cukup jauh di tengah hujan lebat, dicarinya apa yang membuat kuda terjatuh begitu saja, Hafiz tak menemukan satu benda jebakan atau apapun, kecuali merasa faham dikala melihat kudanya terbaring lemah sambil menjulurkan lidah ia bersuara berkali-kali seperti memohon sesuatu, Hafiz, sang pemilik kuda mulai faham apa yang diinginkannya, ia tidak marah, sebaliknya yang ada tersenyum dan menolong kudanya berdiri lalu mengusap-usap kepalanya dan meminta maaf karena tidak lagi memikirkan keadaan sang hewan.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANGERAN ALAM 4
FantasyMonster masih berkeliaran dimana-mana, meresahkan banyak ummat manusia di muka bumi, menghancurkan segalanya demi memuaskan nafsu, jiwa demi jiwa tertusuk tangan iblis karena kekejiannya, untung saja ditengah kekacauan para pahlawan masih tetap bert...
