45. Ambisi

408 26 5
                                        

Begitu keluar dari kamar ibunya, Leah berpapasan dengan Erika. Leah menduga kalau Erika mendengar percakapannya dengan Heleria barusan.

Dia tak berkata apa pun dan melangkah melewati Erika. Sama halnya dengan Erika, tak ada yang ingin dibicarakan dengan Leah.

“Bu, ini aku,” kata Erika.

“Masuklah, Erika.”

Saat membuka pintu, Erika mendapati sang ibu yang habis mengusap pipi. Ia tahu Heleria pasti menangis karena ini pertama kalinya dia mendengar keputusan besar Erika.

Erika duduk di samping Heleria, lalu memeluk wanita itu. “Aku tahu kalian tidak bahagia dengan keputusanku dan mengkhawatirkanku. Tapi aku tidak akan mengubah keputusanku, Bu.”

Mata Heleria berkaca-kaca mendengar seberapa keras kepalanya Erika. “Kenapa kau memilih untuk mendekatkan dirimu dengan menara sihir, Erika? Kau tidak tahu bahaya apa yang ada di dalam sana?”

“Aku tidak ingin menyeret kalian ke dalam bahaya. Jadi, hanya itu jalan keluar yang bisa aku pikirkan,” sahut Erika. Untuk saat ini. Jika jalan itu pun tidak berhasil, maka hancurkan saja semuanya.

Heleria dengan lembut mendorong bahu Erika. Erika merasakan tangan wanita itu gemetar dan ada ketakutan dalam sorot matanya. “Kami yang harusnya melindungimu, Erika.”

Seulas senyum lembut terbingkai di wajah Erika. “Selama ini kalian sudah melindungiku. Jadi, biarkan aku melindungi diriku dan melindungi kalian.”

☘️☘️☘️

“Bagaimana Ayah? Apa yang dikatakan Putra Mahkota?” Lilia lekas bertanya begitu ayahnya sampai di rumah. Melihat wajah ayahnya yang cerah, Lilia bisa memastikan kalau jawabannya akan memuaskan.

Tuan Wynhart meletakkan tangannya di pipi kiri Lilia seraya menjawab, “Selamat, Putriku. Kau akan menjadi selir Putra Mahkota.” Kemudian dia tertawa seperti memenangkan sebuah pertarungan. Ya, memang pertarungan batin. Dia cemas setengah mati, kalau-kalau Dexter menolak untuk bertanggung jawab.

Pasalnya Tuan Wynhart tahu, bahwa Dexter memendam rasa terhadap putri sulungnya. Sekarang dia sedang memikirkan rencana untuk menikahkan kedua putrinya dengan Dexter.

“Selamat, Lilia,” ucap Melani. Wanita itu memutar wajahnya ke arah suaminya. “Kapan Yang Mulia Putra Mahkota akan melamar Lilia?”

“Kau tahu sendiri, seorang selir bisa langsung masuk ke istana dan juga tidak akan ada pesta pernikahan.”

Mendengar hal itu Lilia langsung berwajah muram. Sebelumnya ia merasa bahagia akan menjadi bagian dari Keluarga Kerajaan Xencophia. Sayangnya, pernikahannya yang hanya sekali itu tidak sesuai dengan keinginannya.

Melani meletakkan tangan di atas kedua bahu Lilia. Dengan tatapan lembut ia berkata, “Kau tidak perlu murung. Saat memasuki istana, kau harus mencari dukungan untuk mengokohkan posisimu. Setidaknya, kau adalah wanita pertama yang dinikahi Putra Mahkota.”

Lilia menelan kepahitan itu dan mengangguk.

“Ada satu hal penting lagi,” kata Tuan Wynhart yang sudah duduk di sofa yang dilapisi kulit berkualitas. “Tampaknya Putra Mahkota tidak bisa melupakan Aveline. Aku melihat keinginannya untuk menjadikan Aveline sebagai Putri Mahkota. Bukankah ini suatu keberuntungan?”

Lelaki itu kembali menghadirkan tawa. Mata Melani bersinar melihat adanya harapan keluarganya menjadi lebih terhormat.

Sementara Lilia menampilkan senyum kaku. Gadis itu tahu perasaan Dexter terhadap Aveline. Namun, Aveline sendiri tidak pernah mengharapkan Dexter. Ia ingin tahu bagaimana cara Dexter meluluhkan Aveline.

“Apa mungkin Putra Mahkota tak lama lagi melamar Aveline?” tanya Melani.

“Aku tidak tahu, tapi mari kita berusaha.” Tuan Wynhart mengalihkan tatapannya pada Lilia. “Kau juga Lilia. Berusahalah lebih keras untuk mendukung Kakakmu. Kalian berdua akan menjadi wanita paling terhormat di kerajaan ini.”

Entah dari mana keyakinan Baron Wynhart datang. Ambisi pria itu semakin tinggi sejak dianugerahi gelar bangsawan.

“Baik, Ayah.”

“Persiapkan dirimu, Lilia. Besok pagi kereta dari istana Putra Mahkota akan menjemputmu,” ucap Tuan Wynhart bernada serius.

“Secepat itu, Ayah?” Lilia pun terdengar kaget sekaligus senang.

☘️☘️☘️

“Kami akan bertunangan setelah pangeran pertama dan Leah bertunangan,” ujar Keegan. Tak ada keraguan di matanya kala kalimat itu meluncur.

Sepasang mata hijau zamrud persis seperti bola mata Keegan, tengah mengamatinya dengan tatapan serius. “Kau baru mengatakan hal ini setelah melamarnya? Apa keluargamu sudah tidak penting lagi!”

Mata Keegan tampak tenang meski lawan bicaranya sudah memperlihatkan emosi. “Aku pikir kalian tidak akan peduli. Karena satu hal yang kalian pedulikan adalah pewaris gelar Duke.”

Duke Ivander memukul meja kerjanya dengan kepalan tangan. Ia lekas bangkit dan berjalan ke sisi Keegan. “Anak bodoh! Kapan aku tidak memedulikanmu?”

Ayahnya memang peduli padanya, tapi tidak dengan ibunya. Kebencian di mata ibunya terlihat jelas setiap kali melihat Keegan.

Putra pertama yang dilahirkan wanita itu seharusnya menjadi pewaris gelar Duke. Namun, harapannya tak terpenuhi karena kekuatan yang bersemayam dalam jiwa Keegan. Sejak saat itu, ibunya menjadi kurang peduli terhadapnya.

Keegan tak membalas ucapan ayahnya. Diam seperti patung saat ayahnya menepuk lengan kirinya. Ia sedikit memutar kepalanya, melihat mata sang ayah yang menunjukkan kebahagiaan, tapi lelaki itu berusaha untuk menutupinya.

Keegan senang karena pria itu tidak menghalangi keinginannya.

“Aku akan bicara dengan Ibumu nanti.”

“Terima kasih, Ayah.”

“Bagaimana keadaan Magical Beast-mu? Orang-orang itu sudah tinggal di istana. Dia pasti merasa tertekan.” Duke Ivander berbalik dan kembali duduk di kursinya.

“Aric saat ini menjaga Nerrithragus di menara sihir. Tampaknya memang begitu,” jawab Keegan. Ia mengangkat wajahnya dan menambahkan, “tujuan mereka yang sebenarnya mungkin tidak sesederhana itu.”

Wajah Duke Ivander berubah serius. “Orang-orang dari Pulau itu memang tidak sederhana. Hanya saja, Yang Mulia sepertinya tergoda dengan tawaran mereka.” Pria itu sangat yakin. Karena Raja Maxdler membutuhkan lebih banyak batu sihir untuk memenuhi tujuannya.

“Ayah akan mengawasi mereka.”

“Kalau begitu, saya pamit, Ayah.”

Keegan berjalan keluar dari ruang kerja Duke Ivander. Koridor di depannya mendadak terasa begitu panjang, kosong dan dingin.

Langkah Keegan terasa semakin hampa melewati jendela yang berjejer di sisi kiri. Ia berhenti sejenak dan mendekat ke arah jendela.

Di bawah sana, adiknya sedang berlatih pedang. Entah pria itu tahu atau tidak akan kedatangan Keegan. Namun, latihannya sama sekali tak terganggu.

Keegan melebarkan pandangannya, saat seorang wanita bergaun jingga muncul di arena latihan.

“Tentu saja dia di sana,” gumam Keegan.

Wanita itu, sang ibu selalu memperhatikan putra bungsunya. Masa depan Dukedoms. Keegan kehilangan kasih sayang, begitu kekuatan itu muncul dalam dirinya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 14, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Terpikat Cinta Figuran Misterius Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang