[3.5.] Seunghan | A Reminiscence

165 22 15
                                        

Sebagai penutup hari, Seunghan mengajakmu ke kafe yang cukup tenar. Letaknya cukup dekat dari halte tempat kalian terakhir turun, yang hanya memakan waktu tiga menit berjalan. Ketika kamu sampai di sana, kamu takjub pada keramaiannya. Mungkin karena posisinya yang berada di rooftop sebuah bangunan tiga lantai. Pada sore hari, mereka semua ingin menikmati senja sambil mengopi, tanpa memedulikan seberapa jauh mereka dari permukaan tanah.

Ajaibnya, kalian masih mendapatkan tempat duduk, tepat di daerah tepi rooftop yang sudah diberi pagar besi hitam setinggi pinggang. Matahari juga mendadak tak bersinar seterik tadi, saat kamu dan Seunghan berjalan kemari. Ada segumpal awan tipis yang menghadang jumlah cahaya. Jadi, walaupun Seunghan memilih tempat duduk yang langsung menghadap ke arah barat, kamu merasa nyaman-nyaman saja. Tidak ada rasa silau sama sekali.

"Tunggu, kamu masih memakai tasmu, kan? Tasmu tidak hilang, kan?" Sebelum duduk, Seunghan tiba-tiba berkata dalam nada yang membuatmu panik mengecek letak tasmu. Tidak ada yang hilang, tasmu itu tetap tergantung di pundak.

Kamu memutar mata menyadari intensi Seunghan. Ia hanya ingin mengolok. "Baik, aku tahu aku ceroboh. Hentikan."

Seunghan tergelak. "Kenapa harus sampai melepas tas, sih?"

"Itulah enaknya lelaki. Kalian tidak dibuatkan desain tas dengan tali sepanjang ini. Desain seperti ini membuat gerakanku terbatas, tahu tidak."

"Lalu, kenapa tetap kamu gunakan?"

"Ini tas terkecil yang kupunya."

Kening Seunghan mengerut. "Aku tidak mengerti."

"Ah, pokoknya begitulah!"

Seunghan menggeleng beberapa kali dan memilih fokus pada gelas kopinya. Ia tidak berkata apa-apa lagi.

Di tengah kasak-kusuk pengunjung kafe itu, kamu sepenuhnya tercerap pada laki-laki di sampingmu. Ia tengah menyesap kopinya, fokus memandang ke depan, melihat entah apa. Cahaya golden hour menerangi sosoknya dengan sempurna.

"Apa?"

Seunghan tiba-tiba menoleh, menemukanmu yang terpana.

Tertangkap basah begitu, kamu malah tersenyum lebar. "Kamu tahu, sebahagia apa diriku sekarang ini?"

"Tidak. Memangnya apa?"

"Bahagiaaa sekali."

Seunghan tersenyum geli. "Kenapa bisa?"

"Ini sepuluh tahun sejak terakhir kali kita bertemu, Seunghan. Tidakkah kamu pikir ini gila?"

"Ya," sahut Seunghan. "Lalu, hal pertama yang kita lakukan setelah sekian lama tidak bertemu adalah pergi ke arkade."

"Dan, kecopetan."

"Jadi, ya, aku setuju. Ini memang gila."

"Gila sekali," Kamu tersenyum samar. "Bagaimana kabar orang tuamu, omong-omong?"

"Baik-baik saja. Bagaimana dengan orang tuamu?"

"Sama."

"Kalau Jimmy?"

Kamu terkejut. Seunghan masih ingat Jimmy, anjing Labrador pemberian orang tuamu di ulang tahunmu yang kesepuluh. "M-masih ada. Dia sudah kepayahan melompat."

"No...," Wajah Seunghan memuram. "Harusnya Jimmy adalah ahli lompat selamanya."

"I know, right?"

"Masih ingat, tidak, saat Jimmy melompat ke lubang keramat?"

"Lubang apa?"

"Itu, septic tank," sahut Seunghan separuh berbisik.

Imagine & Realize | RIIZE ImaginesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang