Warning!
Chapter ini mungkin sedikit sensitif untuk sebagian pembaca.
Harap bijak membaca!
_____
Saat umurku tepat satu hari, orang tuaku bahagia bukan main. Susah payah ibu bertahan hidup melantingkanku ke dunia, susah payah pula ayah mengelap peluh mencari nafkah untuk bisa hidup sehari penuh. Aku hadiahi mereka tangisan, mereka hadiahi aku pengorbanan. Mereka menimang-nimang, siapa tahu, terlampau bahagia sampai lupa kiamat sebentar lagi.
Genap satu tahun, gigiku tumbuh satu. Lalu satu lagi. Aku mulai belajar jadi durjana dan durhaka. Setiap kali aku minta asi, ibu selalu memasang raut takut sekaligus iba. Aku sudah bisa menggigit soalnya.
Bertambah satu tahun, ibu mencoba belajar mengabaikan aku saat merengek kelaparan. Dikenalkanlah aku segelas susu formula dan sepiring nasi. Tidak ada asi. Sehari lepas aku menangis keras, rindu menyusu. Hari ketujuh lepas asi, aku demam dua hari. Masih merindu. Satu bulan berlalu, aku jadi suka jalan-jalan sambil disuapi. Sesekali memegang dot susu.
Tiga tahun berlalu, ayah mengerjaiku. Dia bilang di tangannya itu permen stoberi. Saat kulahap dengan ringan hati, lidahku hampir tewas, kebas. Ayah tertawa sampai bengis, aku tak berhenti menangis. Ibu lari terbirit-birit, menghampiri kami, memukuli ayah dengan sendal jepit. Sepuluh kali. Sebagai ganti telah menjejaliku cabai merah rasa stoberi.
Dunia terbalik. Aku tertawa ayah menangis.
Tanggal 31 Desember aku tiup lilin yang keempat. Pakai lilin rumah yang besar-besar itu. Kue digantikan nasi setengah bulat. Dicetak oleh ibu pakai mangkok. Dihiasi telur dadar dan mi. Kami tidak cukup kaya untuk membeli sepotong kue. Jadi ayah mengiming-imingi kalau kue di toko roti itu seperti cabai rasa stoberi. Tidak enak.
Berjalan lima bulan di tahun ke empat, ibu jadi jarang memperhatikanku. Aku lapar, ayah yang bersabar. Aku menangis, ayah meringis. Aku nakal, ayah kepalang sebal. Aku terluka, ayah menganga. Ayah mandi, aku ikut mandi. Sedangkan ibu hanya sesekali memerhati. Tak punya energi. Kulihat kulitnya selalu pucat pasi. Kutanya, mengapa begitu dan mengapa perutnya makin ke sini makin besar sekali. Ayah bilang, ibu hamil lagi.
Semacam harapan kepada sang Pencipta, aku dan ayah sudah menamai anak dalam kandungan ibu. Barangkali laki-laki atau malah perempuan. Kami sudah siap menempelkan kertas nama di jidat adik bayi dengan senang hati.
Belum penuh usiaku lima tahun, bayi laki-laki sudah berojol ke dunia sambil nangis-nangis. Ayah tak sanggup biayai rumah sakit lagi. Jadi keluarga kami mengundang dukun bayi. Untungnya ibu lahir normal tanpa jahitan. Kata ayah.
Lewat beberapa hari, aku jadi lebih menyendiri. Main boneka sendiri dan mulai mandiri. Ayah dan ibu sibuk menimang-nimang anak barunya. Tertawa bersama sedangkan aku mendengus sendiri. Sakit hati.
Suatu hari aku menangis. Ibu tersenyum menghampiri pelan seraya menggendong bayi laki-laki itu. "Kenapa, Sayang?" tanyanya lembut.
"Adik ditimang-timang, dinyanyikan lagu tidur. Aku juga mau." Selayaknya anak pertama yang merasa kasih sayangnya terbagi, aku merajuk.
Ibu duduk di kursi, lantas merayu-rayu supaya aku duduk bersamanya. "Mau tidur juga?" tanyanya sekali lagi. Melihat matahari masih duduk serong di ufuk barat, aku menggeleng. Belum lewat senja dan belum mengantuk. Aku hanya butuh ibu untuk menimang-nimangku dan menyanyikan lagu untukku juga.
"Baiklah, mau menyanyi saja?" Aku mengangguk-angguk antusias.
Sambil memilih lagu anak-anak di benakku, ibu tiba-tiba sudah bersuara. "Satu-satu aku sayang ibu ... coba tirukan." Nada pertama ibu amat lembut menyapa telingaku. Aku termangu, mengerjap berkali-kali, lalu mengikuti perintahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sukramaga
Teen FictionIbu pamit. Katanya, mangkat duluan. Ayah bilang tidak ada yang lebih berharga di dunia ini kecuali keihklasan. Kami berakhir bertandang di tempat berpulang. Kembalilah kami seperti dulu lagi, merengek bersama, selayaknya anak kecil yang ditinggal sa...
