Chapter 04. Yes, And?

7 1 0
                                        

Chapter 04

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Chapter 04

Yes, And?

"Sophiaaa!"

"Yes, baby!" sahut Sophia yang sedang bersantai di depan televisi. Wajahnya kini sudah berlapis dengan masker wajah, serta layar televisi menampilkan short drama China.

Sophia mengernyit ketika melihat wajah sahabatnya memerah seperti tomat, lalu melepas masker wajah dan membuangnya. Ia membuka kedua tangannya untuk Mia dapat memeluknya saat ini.

Sahabatnya itu menurut, menghampirinya kemudian tangisannya pecah begitu saja. Hampir sepuluh menit, Mia menangis di pelukannya. Namun, Sophia belum mau menanyakannya lebih dulu. Biarkan Mia tenang.

"Udah? Mau cerita?" tanyanya Sophia pelam ketika Mia mulai tenang.

Mia meraih tissue di sampingnya, matanya masih berkaca-kaca. "Mama...."

Sophia terdiam. Ia tak butuh banyak penjelasan untuk tahu masalah ini, pasti ada hubungannya dengan mamanya Mia. Hubungan keduanya memang sering renggang, meski Mia tetap berusaha menjaga batas sebagai anak.

"Tante kenapa?" tanya Sophia hati-hati.

Mia menarik napas dalam-dalam, suaranya bergetar saat bercerita. "Mama izinin orang lain pakai kamar gue, Sophiaa. Padahal gue udah bilang gak mau ada orang asing masuk ke ruang pribadi gue. Tapi Mama... Mama malah berani mindahin semua barang gue ke kamar tamu. Kayak gue gak ada harganya di rumah sendiri."

"Ayla lagi, Sophia. Gue bener-bener muak sama yang namanya Ayla. Dia bener-bener brengsek banget. Semuanya aja dia ambil hak-hak gue sebagai anaknya Renata."

Sophia mengangguk pelan, berusaha mendengar semua cerita sahabatnya sambil merangkul. Mungkin ini akan membuatnya merasa sedikit tenang.

"Mau lebih rileks gak?" tanya Sophia setelah Mia tampak mulai tenang.

"Mau ngajak dugem kan lo?" tebak Mia cepat. Ia langsung meringis sebelum Sophia sempat menjawab. "Gak dulu deh, bisa-bisa beban gue nambah. Jangan kebiasaan ngelampiasin masalah ke dugem, Sophiaa. Kurang-kurangin ya. Apalagi kalau masalahnya sama dosen."

Sophia hanya bisa nyengir. Lagi-lagi ketahuan. Ya, benar saja, sumber stres terbesarnya sering kali antara dosen rese atau karena dia lagi kebelet ingin punya pacar.

"Tapi gue jenuh banget, Mi. Aduhhh, pengin duda," keluhnya dramatis.

Mia spontan melotot. "Bapak lo tuh, duda."

Sophia tertawa sambil menepuk paga sahabatnya. "Iyakan emang duda, Miaa. Mana gagah, tajir, gentleman, apa yang kurang coba? Jadi kepikiran deh, kalau gue punya suami duplikat Papi. Eh, kira-kira kalau gue nikah semester depan, lo mau kasih kado apa buat gue?" ceriwisnya sambil senyum-senyum sendiri membayangkan laki-laki idamannya.

Mia menghela napas panjang sambil melirik Sophia. "Astaga, otak lo tuh isinya apa sih? Nikah semester depan apaan, kuliah lo aja belum kelar, Sophiaa!"

Sophia manyun. "Yaelah, gue kan cuma bercanda, Mia."

The Contracted HeartsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang