Page 23 : Meet the dark brown eyes

932 35 1
                                        

Note: semua foto yang ada di sini, berasal dari pinterest dan bertujuan untuk menggambarkan atau memvisualisasikan posisi.

Selamat membaca ❤️🌹

Page 23Meet the dark brown eyesLove is beautiful, until we realize that there will be a time when it will tear us to pieces

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Page 23
Meet the dark brown eyes
Love is beautiful, until we realize that there will be a time when it will tear us to pieces.

🍂🍂🍂

Matahari mulai menjamah sebuah kamar apartemen, masuk melalui celah-celah tirai yang tak tertutup rapat. Sinarnya menyibak gumpalan awan yang coba menghalangi. Dua insan yang sempat saling memeluk untuk ciptakan kehangatan, kini sudah saling melepas dan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Beberapa waktu lalu, Ramiro begitu telaten mengurus wanitanya yang kerap kali meringis kesakitan saat melakukan sedikit pergerakan. Bahkan, pria itu juga menyempatkan diri untuk mengganti kain-kain yang menempel di ranjang guna menghilangkan jejak pergumulan panas mereka.

"Aku baru tahu kalau kau punya tato." Aeris berusaha berbicara meski deretan giginya sedang bekerja untuk mengunyah potongan sosis dari bangers and mash yang dibuatkan oleh pria di depannya.

"Apa kau tidak suka?" Tanya Ramiro yang kemudian merubah posisi menjadi duduk di pinggir ranjang setelah berdiri beberapa menit untuk memperhatikan Aeris menyantap sarapannya.

"Tidak. Maksudku... itu bagus. Memang apa artinya?" Pagi ini, mendadak Aeris menggelar sesi interview. Mencoba melontarkan pertanyaan-pertanyaan acak guna mengusir rasa canggung di antara dua insan tersebut. Bayang-bayang akan kejadian panas bersama Ramiro, terus berputar di kepala Aeris layaknya film layar lebar.

Yang diberi pertanyaan hanya mampu tersenyum kecil, namun tak urung memberi jawaban. "Natus Vincere berarti terlahir untuk menang."

"It sounds powerful."

"Manusia yang kuat, lahir dari pemikiran yang kuat juga." Aeris mengangguk, menyetujui pernyataan Ramiro. Semakin ke sini, ia semakin sadar kalau suaminya itu bukanlah orang sembarangan. Setiap kalimat yang meluncur dari mulut atau bahkan yang melekat di tubuh kekar pria itu, benar-benar merepresentasikan sosok Ramiro. Lembut, tapi kuat. Baik hati, tapi juga penuh dengan keangkuhan. Tenang, tapi begitu diktator. Banyak kata 'tapi' di balik sempurnanya seorang Ramiro Killian Douglas.

"Hari ini aku akan menemui ayah, sehabis mengantarku, kau bisa pulang karena setelah itu aku ingin bertemu dengan Jessy. Boleh kan?"

"Boleh, tapi aku akan ikut sampai acaramu selesai, aku ingin kau tetap dalam pengawasanku selama kau di luar."

"Kau mau ikut aku bertemu Jessy? Oh ayolah, aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan sahabatku saja." Aeris melayangkan protes untuk menggagalkan rencana Ramiro, namun berujung sia-sia karena pria itu punya seribu alasan yang bisa memperkuat keputusannya.

"Kau tidak lupa kan kalau Aries sedang mengincarmu? Aku tidak ingin mengambil risiko dan kau tidak punya opsi lain selain menurutiku," jawab Ramiro final, buat sang wanita menghela napas berat. Jika berdebat dengan Ramiro, Aeris tak akan bertemu dengan kata menang. Pada akhirnya, wanita berdarah London itu akan selalu patuh dan mendadak lidahnya kelu untuk lontarkan kalimat penolakan yang tajam nan menusuk. Lagipula, Aeris juga tak bisa menampik, ada rasa takut yang hinggap di hati, membayangkan jika orang-orang suruhan sang adik berhasil menangkapnya. Semua usaha yang ia lakukan bersama Ramiro sampai sejauh ini akan berakhir sia-sia begitu saja.

The Secret of A WatchmanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang