Pagi ini Adnan sedikit cemburu pada Anhar, pasalnya sejak pagi pandangannya terus menagkap kebersamaan kedua adiknya. Ia juga ingin seperti itu, tapi entah mengapa bagai ada tembok pemisah di antara mereka bertiga.
tak heran sebenarnya, sejak kepergian sang ayah Adnan lebih memilih untuk belajar dari pada bermain dengan kedua adiknya. Ia tak menyesal, tapi entahlah. ia rasa, dirinya sudah terlalu jauh dengan kedua adiknya. Adnan menghela napasnya, ia memilih pergi dari ruang tengah guna menghindari perasaan aneh yang tengah ia rasakan itu.
Rumah megah itu terus terasa sepi sejak delapan tahun terakhir. hari libur sekolah bukannya ramai malah terasa sangat sepi dan membosankan. Dulu saat masih ada Adinata. Akhir pekan adalah hal yang paling ditunggu. Mereka menghabiskan waktu bersama di luar ataupun di rumah saja. Sekarang semua penghuni rumah sibuk dengan urusannya masing-masing.
Adnan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, ia merasa kosong dan bosan. Hingga pada akhirnya Adnan bangkit dan meraih jaket, ponsel serta dompetnya, ia akan pergi mencari sesuatu yang kosong itu.
"Abang mau ke mana?"
Mendengar pertanyaan dari adik bungsunya membuat Adnan tersenyum, sudah lama Aleena tak bertanya padanya saat hendak pergi. "Abang mau keluar, mau ikut?" tanya Adnan.
Aleena hanya menjawabnya dengan gelengan, dan kembali memalingkan wajahnya.
Adnan sudah menduga hal itu, ia kembali melanjutkan langkahnya. Adnan berpikir, mungkin akan menyenangkan jika ia dan kedua adiknya itu pergi bersama, Aleena mungkin akan mau, tapi Anhar? Adnan sangat yakin jika Anhar akan menolaknya mentah-mentah.
Sebenarnya Adnan tak tahu arah dirinya pergi sekarang, ia hanya mengikuti kata hatinya. Sungguh, ini kali pertama Adnan merasa sangat hampa, biasanya ia akan menhabiskan akhir pekan dengan pergi bersama Leona, belajar atau hanya sekadar membaca buku.
Leona, Adnan baru teringat jika ia belum mengirim pesan lagi padanya setelah pertemuan mereka kemarin. Rasanya berat untuk tidak percaya pada Leona. sudah hampir enam tahun mereka saling mengenal, rasanya tak mungkin Leona seperti yang Anhar ceritakan. Tapi Anhar, dia adalah adiknya. Jika mau berbanding waktu, Anhar menang telak.
Pada akhirnya tujuan Adnan adalah taman. Akhir pekan seperti ini sangat ramai, Anhar merasa kekosongan dalam hatinya akan sedikit terisi. Tak banyak yang Adnan lakukan di sana, hanya duduk dan memandang orang-orang yang berlalu lalang di depannya.
"Hallo Kak!"
Lamunan Adnan teralihkan oleh seorang anak berumur lima tahun yang menyapa dirinya.
Senyuman dan tatapan ceria dari anak itu membuat Adnan tersenyum. "Iya, kenapa?"
Anak itu lantas duduk di sebelah Adnan. "Kakak lagi patah hati ya?"
Pertanyaan polos itu membuat Adnan terkekeh pelan. "Kamu masih kecil, emang udah tahu apa itu patah hati ya?"
Dengan ragu anak itu mengangguk. "Kata abang aku, kalau orang lagi ngelamun pasti lagi patah hati. Terus katanya kalau aku ketemu orang yang lagi patah hati, harus aku hibur."
Adnan tak bisa berhenti untuk tersenyum, meskipun terasa aneh tiba-tiba ada yang mendatanginya dan berceloteh sepanjang itu. Tapi entah mengapa Adnan merasa senang, ia jadi mengingat adik bungsunya.
"Apa yang Abang kamu bilang sebenernya ga sepenuhnya salah, tapi ga semua orang yang lagi diem itu lagi patah hati atau sedih, bisa aja orang itu lagi istirahat," kata Adnan.
Anak itu mengangguk, "Oh gitu ya? Jadi Kakak gak lagi patah hati ya? Kakak diem karena lagi istirahat?"
Adnan mengangguk, sebagai jawaban.
"Kalau gitu maaf ya kak, udah ganggu istirahatnya. Aku pergi dulu, dadah kak," ucap anak kecil itu sambil melambaikan tangannya.
Dengan senyum yang terus mengembang, Adnan ikut melambai. Namun senyuman itu tak bertahan lama karena anak kecil itu tiba-tiba terjatuh tanpa sebab.
🍃
Adnan sudah berada di rumah sakit, ia tak tahu harus menghubungi siapa. Di taman tadi anak itu terlihat tanpa pengawasan, Adnan sedikit menyesal tidak menanyakan dengan siapa anak itu pergi ke taman.
Sudah hampir dua jam anak itu belum juga sadarkan diri, Adnan tetap setia menunggu anak itu untuk tersadar. Awalnya Adnan datang tak sendiri, melainkan dengan beberapa pengunjung taman. Mereka sempat menyarankan Adnan untuk pulang saja, dan membiarkan mereka untuk menjaga. Tapi Adnan jelas tidak mau.
Dering telepon mengalihkan perhatian Adnan, ia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Itu Leona, biasanya Adnan akan bersemangat menerima panggilan dari pacarnya itu, tapi entah mengapa kali ini Adnan memilih untuk membiarkannya hingga panggilan itu mati.
Penantian Adnan tak sia-sia, akhirnya anak kecil itu perlahan membuka matanya. Adnan dengan cepat memanggil dokter untuk memeriksa lebih lanjut keadaan anak itu.
"Mohon tunggu di luar ya."
Adnan berharap anak itu baik-baik saja, meski dalam hatinya tak begitu yakin. Sejak dibawa ke rumah sakit dan setelah pemeriksaan, Adnan sama sekali tak mendengar apapun yang dokter ucapkan, ia hanya terfokus pada anak itu.
Saat dokter keluar, barulah Adnan bertanya tentang kondisi anak itu.
"Dia sudah jauh lebih baik, sekarang-"
Ucapan dokter terhenti karena tiba-tiba datang beberapa orang yang awalnya ikut mengantar dengan Adnan ke rumah sakit, diantara mereka ada Haris yang Adnan kenal dan ada seorang wanita yang tak asing di mata Adnan.
Hallo hallo ...
Udah lama banget ya?
KAMU SEDANG MEMBACA
ADNAN
Teen FictionTugas anak pertama. 1. Harus ngasih contoh yang baik 2. Harus bantu adik 3. Bisa berpikir dewasa 4. Harus jagain adik 5. Harus kuat 6. Jangan mati. Begitulah Adnan kecil menulis tugas-tugasnya di sebuah kertas kecil lalu ia tempel di kamarnya.
