Page 24 : The umpteenth warning

756 27 5
                                        

Note: semua foto yang ada di sini, berasal dari pinterest dan bertujuan untuk menggambarkan atau memvisualisasikan posisi.

Selamat membaca ❤️🌹

Page 24The umpteenth warningThey only consider when someone turns into a villain, never consider when that person is hurt

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Page 24
The umpteenth warning
They only consider when someone turns into a villain, never consider when that person is hurt.

🍂🍂🍂

Aeris menatap dua orang yang berada di depan dan di sampingnya secara bergantian. Fakta bahwa mereka sama-sama menyandang nama Douglas, membuat ia sibuk mencari-cari kemiripan wajah di antara keduanya untuk memvalidasi kalau mereka adalah kakak-adik, namun hasilnya nihil. Kendati demikian, ia tetap berusaha untuk tidak berpikiran buruk. Selagi Ramiro belum buka suara, ia tak mau berasumsi sendiri yang berujung membuat kepalanya ingin pecah dengan berbagai macam teori dan teka-teki mengenai kehidupan Ramiro.

"Kau berlebihan. Kita baru saja bertemu setelah kau memberitahu kalau kau ada di London," balas Ramiro yang membuat sang lawan bicara terkekeh kecil.

"Kalian saling kenal?" Jessy memicingkan mata, menuntut jawaban dari orang yang datang bersamanya.

"Dia adikku," jawab Adrastus singkat yang langsung membuat netra Jessy membulat sempurna sekaligus mulutnya yang sedikit terbuka. Wanita itu benar-benar tak bisa menyembunyikan mimik terkejutnya. Tak menyangka kalau dunia ini sangatlah sempit.

Oh, atau... memang Adrastus yang sengaja mempersempit dunia mereka? Entahlah, hanya pria itu yang tahu.

"Kau serius?" Jessy bertanya sekali lagi untuk memastikan. "Apa wajahku penuh dengan lelucon?" Tak puas dengan jawaban dari pria yang lebih tua, membuat Jessy berakhir merengut kesal.

Obrolan mereka harus terhenti saat pegawai restoran datang membawa menu makan siang yang sudah di pesan lebih dulu. Ada hand dived scallops sebagai makanan pembuka. Lalu, ada beef wellington serta roast halibut sebagai menu utama. Dan masih banyak lagi yang Adrastus pesan termasuk dengan minumannya. Semua tersaji di meja makan dengan begitu apik dan nampak menggugah selera. Aeris yang sudah lapar sejak tadi pun menatap makanan itu dengan mata penuh binar.

Setelah dipersilahkan oleh Adrastus, barulah mereka mulai menyantap makanan masing-masing sambil sesekali berbincang. Contohnya seperti Jessy saat ini yang tengah melontarkan pertanyaan pada sang sahabat. "Kau tahu kan kalau adikmu itu punya kedudukan tinggi? Mana mungkin kau bisa menghancurkannya begitu saja."

"Aku tahu kalau aku tidak akan bisa menjatuhkannya begitu saja. Sangat tahu. Maka dari itu aku berusaha mengancam reputasinya."

"Wah, tidak aku sangka, sahabatku ini benar-benar wanita yang berbahaya rupanya. Ramiro, kau harus berhati-hati dengan orang di sampingmu itu," sindir Jessy seraya memasukkan potongan ikan dari menu dover sole meuniere yang ia pesan. Matanya terpejam selama beberapa saat untuk meresapi rasa laut yang ringan namun khas, berpadu dengan mentega cokelat. Sedang orang yang disindir hanya bisa mengangkat kedua bahunya sebagai respon acuh tak acuh.

The Secret of A WatchmanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang