[Aku lupa memberitahumu, anak itu sudah beberapa kali ditipu orang dewasa dan berakhir menjadi budak.]
'B*ngsat kau! Kenapa baru cakap?!'
[Kau tidak bertanya.]
'Ih bodoh kalilah orang ini. Itu informasi penting, tanpa ku minta pun seharusnya sudah kau beritahukannya itu padaku.'
[Ini bukan salahku. Sejak awal dalam rencanaku dia seharusnya mati, wajar saja kalau aku menganggapnya tidak penting bukan?]
'Ya ampun, bangs*t satu ini. Ingin kalilah kucekak leher kau itu.'
"Kenapa kau berpikir begitu lama?" Suara serak dan lemah dari remaja itu berhasil menarik Lumiel dari pertengkaran batinnya.
"Aku hanya sedang memilih kata yang pas," ucap Lumiel tenang.
"Katakan saja dengan jelas. Tanpa menambahkan apapun." Suara tegas terdengar jelas dari remaja itu.
"Aku ingin kau menjadi informanku," ucap Lumiel setelah terdiam beberapa saat.
Kerutan bingung terukir begitu saja di dahi remaja itu saat mendengar apa yang Lumiel katakan. "Informan?"
"Benar. Tuanku sedang menyelidiki kejanggalan yang ada di pintu segel lembah kematian. Tapi seperti yang kau tau, makhluk hidup manapun tidak bisa terlalu sering terpapar deadmana. Jadi aku ingin kau, yang menjadikan deadmana sebagai kekuatan utamamu, untuk membantu penyelidikan ini. Kau bisa menggunakan cara apapun untuk mendapatkan informasi itu, asalkan caramu tidak menyakiti atau menelan nyawa manusia. Apa itu cukup menjawab pertanyaanmu?" Lumiel menatap remaja itu lembut.
Keheningan menguasai tepat setelah Lumiel menyelesaikan ucapannya. Lumiel dapat menebak dengan pasti bahwa remaja itu tengah berpikir keras menimbang tawarannya, melihat dari bagaimana ekspresi yang tengah remaja itu buat.
Tak kunjung mendapatkan jawaban, Lumiel pun kembali bersuara tenang, menambahkan. "Sebagai imbalan, aku akan meyakinkan Tuanku untuk menjamin keamananmu. Aku juga bisa memintanya untuk memasukkanmu kedalam panti asuhan yang ada di wilayah Duke Laurent."
"Tapi, bagaimana caraku memberikan informasi yang kudapatkan, tanpa membocorkan identitasku?" Keraguan masih terdengar jelas dalam setiap kata remaja itu.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Untuk hal itu, kau hanya perlu mengikuti skenario yang aku berikan," ucap Lumiel dengan mengembangkan senyum ramahnya.
"Berapa lama aku harus melakukannya?" tanya sang remaja setelah sebelumnya sempat kembali terdiam sejenak.
Mendengar pertanyaan tersebut, Lumiel menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku tidak yakin. Penyelidikan ini dilakukan oleh Tuanku."
Remaja itu menatap terkejut sekaligus tidak percaya kearah Lumiel, sebelum helaan nafas lelah terdengar dari sang remaja setelahnya, memperlihatkan seberapa jengahnya dia saat ini. "Baiklah. Di mana kontraknya?"
"Kontrak? Tunggu sebentar," ucap Lumiel yang kemudian bangkit dari duduknya untuk pergi meminta kertas dan pulpen. Tidak lama kemudian, Lumiel kembali ke hadapan sang remaja untuk mulai menulis kontraknya.
"Ini," ucap Lumiel yang menyerahkan kontrak yang dia tulis.
Dalam kontrak itu tertulis dengan singkat, padat dan jelas :
KAMU SEDANG MEMBACA
I Am The Servant Of The Villain (HIATUS)
Fantasy(WARNING!! BEBERAPA PART MENGANDUNG KATA-KATA KASAR! HARAP BIJAK DALAM MEMBACA) Rendi Setiawan. Pria kuli biasa yang tidak sengaja bertransmigrasi menjadi seorang pelayan dalam sebuah novel yang dibaca adiknya setelah membual tentang sang tokoh. "Al...
