Vanila tersenyum bahagia ketika menjalani hari-hari dimana ia masuk sebagai karyawan di sebuah perusahaan investasi terbesar di Jakarta, PT. Quality Investment Sources. Setelah banyak sekali melakukan wawancara kerja dan melewati berbagai macam kualifikasi, akhirnya ia di terima sebagai salah satu karyawan di perusahaan besar itu.
Vanila dengan semangat yang masih membara itu saat ini melakukan berbagai pekerjaannya dengan senang hati, "Vanila kau akan makan siang di kantin atau di luar?" Tanya Sofi yang duduk di sebrangnya.
Vanila memiringkan tubuhnya untuk melihat Sofi yang terhalang layar komputernya, "sepertinya aku akan makan di kantin."
"Baiklah, aku akan ikut denganmu."
"Bareng saja kalau begitu, aku juga akan makan di kantin," kata Dicki.
"Aku juga," sahut Revan.
Mereka kemudian merapihkan pekerjaannya dan segera bersiap untuk makan siang, mereka berempat berjalan bersama untuk sampai ke kantin.
"Apakah pekerjaanmu sulit?" Tanya Sofi.
Vanila menggeleng, "tidak, hanya saja ada beberapa hal yang kurang aku pahami."
"Tenang saja, katanya manajer kita akan segera kembali ke kantor setelah perjalanan dinasnya kau bisa meminta bimbingannya." Sahut Dicki yang mendengar percakapan beberapa seniornya saat ia pergi ke toilet bahwa manajernya akan segera kembali.
"Wah, bukankah manajer kita anak kedua dari pemilik perusahaan?" Tanya Sofi antusias.
Dicki mengangguk, "banyak rumor yang mengatakan seperti itu, tapi aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak."
Baru beberapa langkah keluar dari ruangannya, Vanila dibuat kaget dengan seseorang yang berjalan ke arah mereka, Vanila mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memperjelas penglihatannya, takut-takut ia salah mengenali orang.
Bisikan-bisikan mulai terdengar dari beberapa senior kerjanya kala seorang pemuda dengan wajah dingin itu memasuki loby kantornya, berjalan dengan elegan melewati beberapa orang yang tampak terkesima oleh ketampanan dan aura pemuda itu.
"Siapa itu?" Tanya teman kerja mereka dari divisi pemasaran.
"Itu sepertinya pak Dyaz, putra kedua dari pemilik perusahaan, manajer divisi investasi team A," sahut Dicki.
"Kenapa kita baru lihat ya padahal sudah beberapa hari loh kita kerja disini?" kata salah satunya lagi, mereka sama-sama karyawan baru, hanya berbeda divisi saja.
"Aku denger-denger dari senior sih kemarin pak Dyaz perjalanan bisnis ke korea, mungkin sekarang baru pulang," jawab Dicki lagi.
"Ganteng ya ternyata, lebih ganteng aslinya dari pada rumornya," kali ini Sofi yang bersuara sambil tersenyum centil.
"Ganteng sih ganteng, tapi katanya galak dan ketus, apalagi ke karyawan baru kaya kita," Dicki menghela napas, baru melihat wajahnya saja sudah membuatnya merasa sesak napas, aura mengintimidasi pria itu sangat kuat.
Vanila melihat Dyaz dari kejauhan, pria itu tampak sangat jauh berbeda sekarang, ada satu hal yang tidak jauh berbeda, pria itu masih tampak begitu dingin terhadap orang lain.
"Terus kita gimana dong?" Tanya Sofi takut.
"Hei hei apa yang kalian bicarakan," tanya Cantika, manajer divisi operasional team C. Cantika melihat ke arah Dyaz dan mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, "itu adalah manajer divisi investasi team A, tenang saja dia akan mulai bekerja kembali bersama kalian besok bukan hari ini," Cantika tersenyum pada Dicki, selama beberapa hari ini ia yang mengelola divisi investasi team A menggantikan Dyaz yang sedang tidak ada di kantor.
"Manajer Dyaz, bagaimana kabarmu selama di korea?" Sapa Cantika yang segera menghampiri Dyaz.
Lirikan mata Dyaz menatap ke arah mereka, Vanila tanpa sadar memalingkan wajahnya, takut pria itu mengenali dirinya. Cantika pergi bersama Dyaz, Vanila dan yang lain pun segera berjalan menuju tujuan utama mereka, kantin.
~♥︎~
Vanila menghidupkan lampu sebuah rumah yang ia sewa di daerah perkampungan itu, keadaan rumah ini sangat gelap begitu ia pulang, ia pulang larut malam karena mengerjakan pekerjaan yang tidak begitu ia kuasai, ia melepas heels nya kemudian menyimpannya di rak sepatu, ia kemudian segera berbaring di sebuah sofa, matanya menatap langit-langit ruangan itu sambil menghela napas.
Sedetik pun ia tidak pernah memikirkan akan bertemu kembali dengan Dyaz, padahal ia baru saja menginjakan kaki di kota Jakarta belum lama ini, padahal setahunya saat kelulusan SMP, Dyaz pindah ke Yogyakarta dan melanjutkan sekolah disana.
Ponselnya berbunyi, lagi-lagi nomor yang sama muncul menelponnya tanpa lelah, Vanila membisukan ponselnya, ia segera beranjak untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian.
Begitu ia selesai, Vanila mengambil ponselnya dan nomor yang sama masih menelponnya berulang kali, Vanila duduk di sofa itu dan melihat ponselnya selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat telepon itu, "ada apa?"
"Vanila ini aku, kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau pergi bekerja ke Jakarta?"
"Kenapa aku harus memberitahumu?"
"Tentu saja harus, aku mengkhawatirkanmu." Dalam hidup Vanila yang paling ia sesali adalah bertemu dengan pria yang menelponnya di sebrang sana ini, namun Vanila tersenyum.
"Sudahlah, tidak ada yang mau kubicarakan lagi," Vanila segera menutup telponnya, sedetik kemudian ia menghela napas lelah, kenapa Vanila harus di pertemukan dengan pria itu? Vanila segera memblokir nomor itu.
Vanila memainkan ponselnya, ia memposting foto dirinya saat bekerja tadi di X, dengan caption hari melelahkan dan hal tidak terduga setelah itu tidak lama seseorang langsung memberi suka pada postingannya. "Dia lagi?" Vanila tersenyum, "siapa sebenarnya dia?" Tanyanya pada salah satu akun yang selalu memberikan suka dan komentar di setiap postingannya selama beberapa tahun ini.
Vanila menyimpan ponselnya, gadis itu meringis ketika membayangkan besok akan bertatapan muka dengan Dyaz langsung, semoga saja pria itu sudah melupakan apa yang terjadi di masa lalu dan tidak mempersulitnya di kantor, ya semoga saja.
~♥︎~
"Kata orang : sejauh apapun jarak memisahkan,
berapa lamapun waktu memisahkan,
ketika dua orang ditakdirkan untuk bersama,
mereka akan di pertemukan kembali."
~♥︎~
Haii terimakasih telah membaca ceritaku♡
Langit Senja adalah sebuah penyesalan yang ingin kuperbaiki.
Langit Senja adalah sebuah harapan ketika kegelapan akan datang.
Jangan lupa dukung aku terus dengan vote dan komen♡
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Senja
Teen FictionVanila tidak pernah tahu dan menduga jika ia akan bertemu kembali dengan Dyaz, kakak kelasnya waktu SMP. Keduanya bersikap seolah tidak saling mengenal ketika tidak sengaja bertemu, sampai Vanila akhirnya tahu jika Dyaz ternyata tinggal di sisi apar...
