:: Bab I ::

58 7 1
                                        

"Shasha Melani Belvina, Sarjana Manajemen."

Gadis dalam balutan kebaya kutu merah maroon berlapis toga dengan strip satu di bagian lengan menguntai langkah percaya diri ke hadapan para dekan, menerima map ijazah, kemudian membiarkan tali pada topi-nya dipindahkan ke sisi kanan. Sebelum akhirnya mengambil gambar singkat dan segera berlalu dari atas panggung tersebut.

Kerumunan orang terdekat berbondong-bondong mengabadikan momen itu. Ucapan selamat mengudara menyerang sang wisudawati yang tersenyum sumringah.

"Caca! Congratulation, darling!"

"Finally, S. M!"

"Akhirnya, ya, Ca! Lulus juga."

"Thanks a lot, guys! Terima kasih, loh, udah mau repot-repot datang ke sini," balas Caca, menampakkan ekspresi haru. Yang sedetik setelahnya disambung dengan tatapan melirik kanan-kiri, seolah mencari seseorang.

"Kinnas gak datang, ya?" tanyanya kemudian.

"Harusnya datang, sih." Salah seorang dari antara kerumunan tersebut membuka grup obrolan mereka. Bermaksud memastikan. Ditunjukkannya layar ponselnya ke hadapan Caca, "Jam 10.10 dia udah keluar halte. Tinggal pesan ojek online katanya. Cuma belum sampai juga sekarang. Udah dari satu setengah jam yang lalu berarti."

"Kena macet kali, ya?"

"Assalamualaikum!"

Seruan tersebut mengambil atensi gadis-gadis itu. Di seberang mereka kini, seorang gadis lain dengan tubuh berisi berusaha menyelak kerumunan untuk menghampiri.

Dan begitu dia sampai, semua menghela napas lega. Orang yang ditunggu bintang utama akhirnya datang.

"Nah, itu Kinnas."

"Babe! Lo kenapa terlambat?!" Caca menggerutu.

Kerlingan bersalah membingkai netra berbulu lentik itu. Kinnas, sang pemilik mata secantik bulan tersebut, turut mengulas senyum canggung.

"Sorry, ya, Ca. Gue juga gak nyangka di depan bakal se-macet itu. Ojol gue dicancel 5 kali," ujarnya sembari merapikan untaian hijab yang menggantung di pundak kanan.

"Dan sebagai permintaan maaf gue, gue bawa something special buat lo."

Kinnas menyodorkan sebuah paper bag berukuran besar kepada Caca. Sahabatnya itu nampak menerka-nerka. Tidak banyak kata yang terucap, ia segera mengeluarkan isi dari paper bag tersebut sebab terlampau penasaran.

Sebuah selimut rajut yang membentuk buket bunga mawar merah bila dilipat, berada dalam dekapan Caca sekarang. Wajahnya melongo, benar-benar terkejut.

"Kinnas Lashita! Lo serius?!"

Kinnas terkikik geli. Kehangatan menyambar hatinya melihat Caca nampak senang dengan hadiah yang ia beri.

"Jadi, sekarang lo tahu, kan, project yang gue lemburin 5 bulan belakangan selain skripsi gue?"

Caca memeluknya dengan sangat erat. "Thank you so much! Duh, gue jadi merasa bersalah sekarang. Tapi, di satu sisi gue senang banget. Gimana, dong?!"

Membalas pelukan Caca dengan tidak kalah erat, Kinnas lantas menggeleng cepat, "Skripsi gue itu tanggung jawab gue. Jadi, kalau skripsi gue belum selesai sekarang, ya, bukan karena lo, Ca. Lagi pula, niat untuk bikin ini udah ada jauh sebelum niat gue nyusun skripsi."

Secara kompak keduanya melempar tawa. Caca adalah yang pertama meredakan tawanya karena perhatian yang tak sengaja tertuju ke arah pojok hall.

"It's always her. Si paling famous, si paling pintar, si paling alim."

Destiny: The Dark's LoverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang