Waktu terus berlalu seiring dengan membesarnya janin di perut Siska. Meski baru memasuki awal trimester ke dua, perutnya sudah seperti mengadung janin tujuh bulan, membuatnya kian terlihat cantik saat menggunakan dress baby doll bermotif bunga yang sekaligus dapat memamerkan lekuk tubuh indahnya.
Tak ayal perkembangan kehamilan Siska yang terasa begitu pesat membuat Raga semakin protektif terhadapnya. Setiap langkah wanita hamil itu seperti selalu dihantui oleh Raga.
Akhir-akhir ini Siska tengah menyukai menghabiskan waktunya di dapur. Mencoba berbagai resep yang ia temukan baik di internet mau pun di buku resep yang baru dibelinya beberapa hari lalu.
"Raga, aku mau bikin ini buat makan siang!" seru Siska tiba-tiba, nadanya terdengar sangat bersemangat.
Raga menurunkan pandangannya, menatap layar ponsel sang istri dengan pandangan datar. Benda pipih itu menampilkan sebuah hidangan daging ayam yang permukaannya dilumuri oleh bumbu berwarna kecokelatan.
"Jangan capek-capek," sahutnya singkat.
Keduanya tengah berada di ruang keluarga, tepatnya di atas sofa bed dengan tubuh Raga menjadi tumpuan punggung Siska untuk bersandar. Raga sibuk menonton berita di salah satu channel televisi dan Siska asik bermain dengan ponselnya.
Di hari Minggu seperti ini, asisten rumah tangga yang mereka pekerjakan hanya datang saat pagi untuk membersihkan rumah, biasanya sekaligus memasak untuk makan siang, tetapi khusus hari ini Siska meminta perempuan berusia hampir setengah abad itu untuk langsung pulang saja setelah selesai membersihkan rumah.
Siska mengerucutkan bibirnya sebal. Ia merasa Raga semakin cerewet setiap harinya, ia bukan bayi yang tidak bisa melakukan ini dan itu, tetapi perempuan yang dihamilinya dan masih dapat melakukan berbagai aktivitas.
"Ayo bantuin aku di dapur! Tuh, udah jam sebelas, sebentar lagi jam makan siang, emangnya kamu gak laper?" ucap Siska seraya melirik jam dinding yang terpajang tak jauh dari televisi.
Siska agak kesulitan jika harus bangun sendiri dari posisi nyaris berbaring seperti ini. Jadi, ia harus meminta bantuan Raga yang dapat bergerak dengan gesit.
Pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah itu menghela napas pelan lalu dengan sigap dan hati-hati membantu istri mungilnya untuk bangun dari posisi mereka.
"Don't be in a rush!" ucap Raga sedikit menaikkan nada suaranya saat Siska berjalan sedikit cepat menuju dapur, sementara ia masih mematikan televisi.
"Iya-iya!" balas Siska tak mau kalah.
Raga menggelengkan kepalanya pelan, lihat, istri kecilnya itu benar-benar sudah berani sekarang.
Bibir Siska terangkat membentuk senyum lebar saat melihat lemari pendinginnya dipenuhi oleh berbagai macam bahan masakan, ia tidak perlu risau jika akan kekurangan bahan masakan dari resep yang ia temui tadi.
Tiba-tiba Raga telah hadir di belakang tubuhnya, melingkupi punggung sempit Siska dengan dada bidangnya.
"Kamu duduk di sini, aku siapin bahannya dulu," ucap Raga setelah membimbing Siska duduk di kursi yang telah ia siapkan saat istrinya itu tiba-tiba sangat suka berkutat di dapur. Bukan, bukan kursi tinggi yang mengelilingi meja bar di dapur mereka, tetapi kursi dengan bantalan empuk yang tak akan membuat bokong serta punggung Siska sakit jika duduk berlama-lama di sana.
Tangan pria itu juga mengambil ponsel sang istri dari genggaman tangan mungilnya, mulai mencontek dan mempersiapkan satu-persatu bahan-bahan yang dibutuhkan untuk masakan istrinya siang ini.
Diam-diam Siska tersenyum di tempatnya. Matanya mengikuti setiap gerak punggung tegap Raga yang tidak ditutupi oleh apa pun. Otot yang selama ini pria itu latih terlihat menonjol dengan sangat indah.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Sweet Daddy
ChickLitBagaimana jadinya jika seorang psikopat gila berdarah dingin harus berhadapan dengan seorang wanita hamil dan segala masa ngidamnya? Oh, dan jangan lupakan bayi-bayi mungil yang sebentar lagi akan lahir ke dunia hingga tiga orang sekaligus! Apakah b...
