"Apa yang kau tabur, maka itulah yang akan di tuai"
Hari kini berganti dan kepolisian yang masih menyelidiki kasus kematian Arthian yang dimana mereka kembali menemukan memory card yang sedang di gengamnya saat di temukan.
Memory card itu tentunya berisi semua kejahatan Arthian, mulai dari penjualan narkoba, pelecehan dan yang paling berat adalah penjualan organ manusia secara ilegal.
Bar milik Arthian kini di tutup beserta dengan beberapa orang yang bersangkutan dengan nya kini di mintai keterangan lebih lanjut mengenai Arthian.
Sementara itu Dante yang sedang berada di sebuah ruangan gelap dengan layar monitor di depan nya kini sedang mengamati cctv yang ada di kantor polisi.
Ia meminta salah satu kenalan bu Patmi untuk meretas sistem kepolisian untuk melihat semua kegiatan di sana dan juga di penjara.
"Sebenarnya apa yang kau cari dari mereka?" tanya bu Patmi.
"Aku sedang memperhatikan Bryantara dan juga Yudha" balas Dante.
"Apa mereka yang akan kau jadi kan target selanjutnya?"
"Ya, dan kali ini aku tak perlu mengotori tanganku dengan darah mereka"
"Maksudmu? Kau akan menggunakan orang lain untuk ini?"
"Ya, benar sekali. Kau tau pepatah apa yang di tabur, itu yang di akan di tuai ?"
Mendengar itu Bu Patmi hanya terdiam dan mengangguk paham. "Baiklah jika begitu, aku siap membantumu kapan pun"
Setelah mengatakan hal itu, bu Patmi pun segera pergi dari sana, dan Dante kini kembali mengamati layar monitor sambil melihat Bryantara yang sedang di mintai keterangan.
...
Kembali ke kantor polisi, setelah selesai memberikan keterangan Bryantara pun bergegas keluar dari sana namun tak sengaja ia menabrak seseorang yang memakai hoddie hitam lengkap dengan masker yang menutupi setengah wajah nya.
Ia tidak menaruh curiga sama sekali lalu pergi begitu saja meninggalkan kantor polisi.
Di sisi lain pria berhoddie itu kini sudah berada di penjara dan menemui seseorang, "ini hadiah kecil, lakukan apa pun selama kau masih bisa" setelah mengatakan hal itu, pria berhoddie itu pun langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Malam pun menjelang dan kini Bryantara sedang berada di rumahnya, hari ini cukup melelahkan untuk dirinya hingga ia memutuskan akan berendam di bath up, saat sedang melakukan aktivitasnya itu tanpa ia sadari seseorang sedang memperhatikannya dari luar.
"Aku pastikan malam ini semuanya akan selesai!"
Di tempat lain kini kepolisian kembali di kejutkan dengan beberapa tahanan yang kabur dari penjara. Berita di TV juga mengabarkan hal tersebut dan meminta masyarakat untuk berdiam diri di rumah dan jika melihat para tahanan untuk segera melaporkan pada kepolisian.
...
Yudha dan beberapa rekannya kini di tugaskan untuk mencari para tahanan itu di daerah sekitar hutan belakang penjara.
Di sana mereka pun berpencar ke beberapa arah, dan sepertinya malam ini adalah malam terakhir untuk Yudha. Pasalnya kini ia sudah masuk terlalu jauh ke dalam hutan, dan tanpa ia sadari seseorang sedang memperhatikannya.
"Hah! Sial! Kemana sebenarnya mereka semua? Buat kerjaan saja!" Saat sedang mengomel tiba-tiba saja sebuah anak panah melesat dan mengenai kakinya.
"AHKKKK!!" jeritnya kesakitan.
"Tepat sasaran!" ucap seseorang dari balik pohon.
"Ahkkk! Kakiku! Siapa di sana?! Berani sekali kau bermain-main dengan poliai hah?! Keluar atau ku buat kau mati malam ini!" Teriak Yudha.
"Mati? Siapa? Aku atau kau?" Orang yang tadi memanah Yudha kini keluar dari persembunyiannya.
"Kau?! Cepat letakan senjatamu, ini perintah!" ucap Yudha.
"HAHAHA.. Yudha.. Yudha.., kau pikir aku akan takut dengan ancaman bodohmu itu?" Orang itu pun menyingkapkan penutup kepalanya sehingga wajahnya pun kini terlihat jelas.
Orang yang sama sekali tidak di sangka-sangka oleh Yudha. "K-Kau?!! Pengkhianat!!"
Orang itu adalah salah satu polisi yang tadi bertugas bersama Yudha masuk ke hutan. Ia merupakan polisi junior, ia kerap kali mendapatkan siksaan tanpa sebab oleh Yudha, bahkan bisa di bilang ia adalah kacung dari seorang polisi. Tak jarang wajahnya harus penuh babak belur karena ulah Yudha.
Dante yang tau Yudha seperti apa pun akhirnya mengatur siasat dan bekerja sama dengan junior Yudha itu, dan dialah sosok berhoddie yang pergi ke penjara untuk menemui salah satu tahanan di sana. Ia memberikan kunci yang terselib di dalam sebuah buku sehingga tidak ketahuan oleh sipir disana.
Dan kini terlihat Yudha yang berlari menyusuri hutan dengan sebelah kakinya yang terluka sementara juniornya itu mengikuti dari belakang.
"Pergi jauh jauh sialan! Pergi!!" teriak Yudha.
Karena sering melihat ke arah belakang Yudha tak sadar jika di depan ada Dante yang tiba-tiba saja menghantam kepalanya ku dengan tongkat baseball hingga akhirnya ia jatuh.
BRUGHHH
"ahkkk! Sakittt!" ringis Yudha yang kesakitan.
"Perbuat semaumu, setelah kau puas buat lah laporan polisi sebagai anonim, dan letakan ini di tubuhnya nanti" ucap Dante sambil memberikan memory card lalu pergi dari sana.
Setelah urusan Yudha beres kini Dante pun mendapatkan telpon dari para tahanan yang kabur itu.
"Bagaimana?" Tanya Dante.
"Sesuai kemauanmu, ia sudah menemui ajalnya" Ucap tahanan dari sebrang telpon tersebut.
Saat dante sedang mengamati Yudha di dalam hutan, para tahanan mulai bergerak ke kediaman Bryantara. Disana mereka berhasil menundukan anak buah Bryantara dan tanpa menunggu waktu yang lama mereka pun bergegas mencari keberadaan Bryantara. Saat berhasil menemukannya lampu kamar mandi pun mereka matikan agar bisa menarik perhatian Bryantara. Dan rencana mereka pun berhasil, malam itu rumah Bryantara menjadi tempat perburuan. Bryantara dan para tahanan itu pun kejar-kejaran hingga akhirnya mereka berhasil menemuknnya, malam itu pun berakhir dengan dua laporan polisi mengenai pembunuhan 2 orang.
kepolisian tentunya terkejut, terlebih lagi dengan kematian Yudha. "Sebenarnya apa mau pelaku? kita harus segera menangkap pembunuh berantai itu" ucap salah satu polisi.
tepat saat itu juga, disana ada Kala, ia tak mampu berkata apa-apa dan tidak ada yang bisa ia lakukan. malam ini semua anggota Durmstrang telah di habisi, "hanya tertinggal satu..." ucap Kala.
HAI HAI SEMUANYA!!! KALI INI DANTE 1 LANGKAH LEBIH MAAJU DARI AYAHNYA, APAKAAH NEXT CHAP IA BERHASIL MEMBASMI SEMUANYA?
KAMU SEDANG MEMBACA
HIRAP-1997
Mystery / ThrillerKekuasaan dan harta bisa membuat siapapun melupakan kemanusiaan. Untuk bertahan yang perlu kau lakukan adalah menjadi cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Cerita ini akan memperlihatkan kepadamu bagaimana manusia menjadi lebih mengerikan...
