"Jadi, bagaimana pria bertopeng itu bisa masuk ke sini?" tanyaku datar begitu Jiro datang menghampiriku.
Pria muda itu membungkuk hormat, sebelum akhirnya berlutut di hadapanku. "Maaf, Nyonya. Untuk saat ini, saya belum mengetahui kemana orang itu pergi. Karena, saat kejadian itu, saya sedang menghadapi tiga orang pembunuh sekaligus. Jadi, saya tidak tahu kapan dan bagaimana pria itu bisa masuk."
"Lalu, ke mana dia sekarang?" tanyaku lagi, menatapnya tajam.
Jiro menggeleng pelan, wajahnya serius, "Setelah memastikan Anda aman, pria itu berpesan agar saya selalu menjaga, Nyonya. Belum sempat saya bereaksi, dia langsung pergi begitu saja melompati pagar pembatas."
Mungkinkah dia salah satu teman Hideo? Tetapi, kenapa wajahnya ditutupi menpō? dan caranya bergerak... kenapa terasa begitu familiar untukku?
Akupun tanpa sadar berdecak kesal, sambil bergumam. "Sial! Seharusnya aku menanyakan hal ini pada Hideo tadi!"
"Maaf, Nyonya? saya tidak mendengar."
Dengan cepat aku menatap Jiro, "Tidak, lupakan. Baiklah, sekarang kesampingkan masalah pria itu dulu," tanganku memijat pelipis pelan, lalu menarik napas panjang, "Kau... Masih ingat wajah tiga dayang kemarin?"
Jiro mengangguk.
"Di mana mereka sekarang?"
Wajah Jiro berubah muram, lalu menunduk. "Ternyata, mereka juga termasuk komplotan para pembunuh baju merah, Nyonya. Begitu kegaduhan selesai, kami, menemukan mereka tak bernyawa di belakang kamar Anda."
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Terkejut. Namun, masih ada rasa syukur, karena mereka tidak langsung membunuhku saat itu juga.
"Bagaimana... kau tahu mereka bagian dari komplotan yang sama?"
Jiro menatapku dalam, "Mereka memiliki tato yang sama di leher belakang. Tato berbentuk kepala ular yang sedang menunjukkan taringnya."
Aku menelan ludah, menenangkan diri. Situasinya sudah gila, namun aku masih hidup. Dan itu adalah keberuntunganku.
"Bagaimana dengan kondisi di luar?" tanyaku, mencoba tetap tenang.
"Para mayat tak dikenal sudah dikumpulkan di ruangan kosong. Pengawal yang tewas, juga sudah diurus oleh rekan mereka sebelum, diserahkan ke pihak keluarga. Mengenai Tuan Hideo… anda pasti sudah bertemu, kan?"
Aku mengangguk pelan. "Ya. Dia sudah datang. Ada apa dengannya?"
"Tuan Hideo berpesan agar Nyonya beristirahat cukup, tanpa perlu khawatir tentang apapun. Beliau akan datang kembali bersama Tuan Akeno dan Nyonya Narumi."
Aku mengangguk, "Baiklah. Masih ada laporan lain?"
"Ya. Liu Wei sekarang sedang berada di Istana. Karena kehebohan pagi buta ini, kemungkinan, dia akan datang bersama Tuan Josef dan Nyonya Asuka."
"Syukurlah," gumamku lega. "Sekarang pergilah dan istirahat, Jiro."
Pria muda itu berdiri, membungkuk hormat, hendak pergi. Namun aku menghentikannya.
"Tunggu!"
"Ya, Nyonya?"
"Berdiri diam di situ dan hadap padaku lagi."
Jiro menatapku terkejut, namun tetap menurut. Aku meneliti tubuhnya. Luka-luka bekas pertempuran tampak jelas, sebagian mungkin masih terasa perih.
"Sudah memanggil tabib untuk dirimu sendiri?" tanyaku tajam.
"Saya… saya-"
"Sudah, cukup! Kau tak bisa berbohong padaku, Jiro," aku bersidekap, menatapnya tajam. "Panggil tabib, dan suruh Chua merawatmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Crimson Kimono of Michiko
Historical FictionAku, Michiko, seorang Geisha terkenal, selalu menyadari bahwa dunia hiburan ini dipenuhi godaan para donatur dan intrik mematikan. Persaingan sengit antar sesama Geisha membuatku selalu waspada. Namun, di balik riasan tebal dan senyum yang selalu k...
