Hujan akhirnya terdengar.
Bukan karena semakin deras, tetapi karena dunia yang tadi terasa menahan napas… kini membiarkannya kembali mengalir. Air memukul atap gedung tua, menetes melalui celah-celah rusak di langit-langit, mengenai lantai yang berserakan pecahan kaca dan debu putih sisa makhluk itu.
Eira masih menggenggam tangan Kael, tubuhnya belum berhenti gemetar. Setiap detik setelah makhluk itu lenyap terasa tidak nyata seolah ia akan muncul lagi di sudut matanya kapan saja.
Kael berdiri, menarik Eira berdiri bersamanya. “Kita harus keluar sebelum penjaga datang.”
“Penjaga? Penjaga sekolah?” Eira berusaha mengatur napas.
“Tidak.” Kael menatap pintu hancur yang perlahan berayun. “Penjaga dari mereka.”
Eira menelan ludah lebih karena ketakutan daripada paham siapa yang dimaksud.
Kael menariknya menuju lorong panjang yang remang. Lampu-lampu berkedip tak stabil, menampilkan bayangan yang terlihat lebih gelap dari seharusnya. Setiap langkah Eira terasa seperti berjalan di atas lantai yang akan retak kapan saja, meski ia tahu retakan itu sebenarnya ada dalam dirinya.
“Kael…” Eira mencengkeram lengan Kael. “Bayangan itu… apa aku akan terus… ikut melihatnya?”
Kael tidak langsung menjawab. Itu pertanda buruk.
“Kau tidak akan melihatnya,” akhirnya ia berkata pelan. “Selama kau tidak ketakutan seperti tadi.”
Eira menggigit bibirnya. “Jadi harus… pura-pura tidak takut?”
“Tidak.” Kael menatapnya sebentar. “Kau harus punya sesuatu yang lebih kuat dari rasa takut.”
Kata-kata itu membuat Eira diam cukup lama.
Hingga mereka tiba di tikungan pertama.
Kael tiba-tiba berhenti dan mengangkat tangan memberi isyarat. Eira spontan membeku.
“Ada apa?” bisiknya.
Kael memeriksa lorong depan, wajahnya mengeras. “Ada yang berubah.”
Eira melongok pelan dan melihatnya.
Lantai lorong penuh garis-garis putih seperti kapur yang ditarik sembarangan. Tetapi ketika Eira memperhatikan lebih dekat, jantungnya melompat.
Itu bukan kapur.
Itu retakan.
Retakan yang memanjang seperti jejak kaki makhluk porcelen itu… tapi jumlahnya terlalu banyak.
“Kael… ini semua…?”
“Jejak Pemburu.” Kael mengusap retakan itu dengan ujung jarinya. “Tapi bukan satu. Ada banyak.”
Eira mundur setengah langkah. “Mereka semua menuju… ke sini?”
“Tidak.” Kael menatap jejak itu dengan tajam. “Ini jejak lama. Tetapi baru… terbangun.”
“Terbangun?”
Kael menatapnya dengan wajah yang sulit ia cerna antara gelisah dan marah.
“Mereka hanya aktif jika ada sesuatu yang lebih besar bangun juga.”
Eira merinding. Ia ingin bertanya, tapi langkah kaki terdengar dari ujung lorong cepat, berisik, manusiawi.
Kael langsung menempelkan jari ke bibirnya, menarik Eira masuk ke ruang kelas paling dekat. Mereka menutup pintu perlahan.
Eira berdiri di belakang meja, menahan napas.
Langkah itu semakin dekat.
Sangat dekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kutukan Hitam Si Bungsu(On Going)
Mystery / ThrillerEira Lunestra selalu tahu bahwa ia berbeda. Sebagai anak terakhir di keluarganya, ia tumbuh dengan label yang tidak pernah bisa ia lepaskan: pembawa sial. Setiap gelas yang pecah, setiap kejadian janggal, bahkan setiap musibah kecil-semuanya selalu...
