40 | babay semuanya

5.6K 421 79
                                        

7:30 am.

Rutinitas Eji setiap hari minggu itu dimulai dari bangun tidur sudah nemplok didada Alyssa. Padahal semalaman bocah kecil itu sudah dua kali bangun untuk menyusu. Sekitar setengah jam, baru Eji selesai dan mulai mengumpulkan nyawa lalu membangunkan Jevan yang masih mendengkur halus.

"Dedek bangunin Papa ya. Mama mandi dulu."

"Iyah, Mama."

Eji mengangguk patuh pada perintah Alyssa. Dan begitu Alyssa menghilang dari balik pintu kamar mandi, Eji bangkit dan mulai beraksi untuk membangunkan pria bertubuh besar di sebelahnya ini.

"Papa," Eji menggoncang pelan badan Jevan. "Papa, bangunnnn..."

Cara tadi ternyata tak berefek apapun pada Jevan. Akhirnya Eji mencoba menepuk-nepuk dada telanjang Jevan yang terasa amat keras. "Papa... ayo bangun, dah pagi tau. Bangun, Papa bangunn... Kita mau geleja tau."

Jevan tetap tak bergerak sedikitpun.

"Papa ayok bangunnn—aduh, kelas banget cih pelut na."

Eji mengaduh ketika memukul bagian perut Jevan yang memang sama kerasnya seperti dada bidangnya. Karena tak ingin misi dari sang mama gagal, Eji mencoba cara lain. Ada hal yang sedari tadi menarik perhatian mata Eji.

Perlahan tangan Eji terangkat lalu berlabuh tepat pada bulatan kecil didada Jevan. Ini rasanya tidak sekeras perut berotot serta dada bidang Jevan, yang ini terasa lebih lembut dan sedikit lunak meski ada beberapa helai bulu tumbuh.

Hm, Eji sungguh penasaran.

Sebagai bocil dengan rasa kepo yang melambung tinggi, Eji meraba agak ragu bulatan kecil itu seakan takut pecah kayak bisul. Aksi selanjutnya Eji mencoba mencabut helaian bulu di sana. Ternyata susah dan bulunya tumbuh pendek-pendek dan agak keriting. Karena Jevan yang tetap nyenyak mendengkur, Eji mencubitnya pelan sambil cekikikan.

"Papa hihihi..."

Saking gemasnya, cubitan Eji itu berubah jadi tarikan keras. Jevan sebagai korban kejahilannya sontak memekik dan terbangun dengan rasa perih di area dadanya.

"Aarggh!"

"Yey, Papa dah bangun." Eji bertepuk tangan riang. "Slamet pagi, Papaaa.."

Jevan meringis memegangi dadanya. "Selamat pagi, bukan slamet pagi. Kalau slamet itu nama orang. Pak Slamet, namanya."

Eji menutup mulutnya sambil ketawa cekikikan. "Hihihi... Selamat pagi, Papa."

"Selamat pagi juga anak Papa Jep yang bau iler." Jevan menarik pelan tubuh Eji ke dalam pelukannya. Eji langsung nemplok kayak ulat bulu di atas dada bidang dan lebar Jevan. "Tadi siapa yang iseng narik puting Papa?"

"Hihihi... Eji ndak sengaja, Papa."

"Minta maaf dulu dong."

Eji bergerak susah payah untuk keluar dari kungkungan Jevan lalu kepalanya berusaha nongol di antara sela-sela lengan berotot itu. "Papa, mapin Eji yah. Eji ndak sengaja talik-talik nen na Papa. Mapin yah."

"Dimaafin. Gak boleh gitu lagi."

"Iyahhh..."

"Kalau bangunin Papa harus yang baik."

"Iyahhh..."

"Papa harus dicium-cium dulu biar Papa bisa bangun."

"Iyahhh..."

Jevan kembali membawa tubuh kecil anaknya untuk nemplok lagi di atas badannya. "Iya iya terus, ngerti gak?"

"Iyahhh Papaaa..."

Mon BébéCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang