"Kamu yakin mau biarin Nak Layl tidur di ruang tamu?"
Kinnas yang tengah berjalan bersama selembar selimut dan sebuah bantal dicegat oleh Jayanti yang baru saja keluar dari dapur. Wanita itu berbisik sambil melempar pandang pada Layl yang tengah menyapu debu di atas sofa dengan sapu lidi.
Menarik napas dalam, Kinnas kemudian menjawab, "Mas Layl sendiri yang mau tidur di sana, Mbu."
Terlihat ada beberapa hal yang ingin Jayanti katakan. Namun, alih-alih mengutarakannya, wanita paruh baya itu hanya manggut-manggut saja. "Ya udah. Kalau bantal-nya kurang, Ambu punya bantal baru yang belum pernah dipakai di lemari belakang. Nanti Ambu ambilin, ya."
Ia pun berlalu meninggalkan Kinnas. Sedangkan Kinnas masih belum beranjak, seketika disergap keraguan. Ada satu pertanyaan yang terbesit di hati kecilnya.
'Apa aku ajak Mas Layl tidur di kamarku aja, ya?'
Dan atas pertanyaan itu, Kinnas langsung menggeleng cepat. Sepertinya ada bagian otaknya yang konslet sampai bisa mempertanyakan hal tersebut kepada dirinya sendiri.
Menepis ragu, Kinnas pun melanjutkan langkahnya. Bertepatan dengan itu, Layl juag baru selesai membersihkan sofa yang akan jadi 'ranjang'-nya malam ini.
Pria itu berbalik dan menemukan Kinnas yang mengalihkan pandangan sambil menyodorkan satu set selimut dan bantal kepadanya.
"Silahkan, Mas. Kalau bantal-nya kurang, biar saya ambilin di lemari penyimpanannya Ambu."
Dalam diam, Layl mengernyit. Ia tak mengerti atas dasar apa Kinnas selalu menghindari kontak mata dengannya. Seolah eksistensi-nya tidak gadis itu harapkan.
Dan berkat sikap Kinnas, Layl dibawa memorinya untuk mengingat apa yang gadis itu katakan padanya tadi siang.
"Tolong... talak saya sekarang, Mas."
Mustahil rasanya bila Layl tak tercengang dengan permintaan yang baru saja keluar dari bibir Kinnas. Tak jadi keluar dari sana, Layl memilih untuk berbalik dan menatap istrinya dengan sorot tajam.
Balasan yang Kinnas berikan menyiratkan keberanian sekaligus keputusasaan. Layl dibuat kehilangan kata-kata selama beberapa saat. Memaksa pria itu untuk berpikir keras demi mendapatkan jawaban yang tepat dan bijaksana.
Kinnas mengulang pinta yang sama. "Talak saya sekarang, Mas Layl."
"Jangan macam-macam, Kinnas."
"Mas Layl gak cinta sama saya, kan? Gak menginginkan pernikahan ini juga, kan? Dari pada dilanjutkan sedangkan kita gak bahagia, lebih baik talak saya sekarang, Mas," urai Kinnas, dengan suara yang bergetar. "Ceraikan saya. Dengan begitu, kita gak perlu terbebani dengan pernikahan terpaksa ini."
"Kamu pikir semudah itu?" Layl menyahut pelan. Tapi terdengar dingin dan menusuk.
Ia bergegas mendekat pada Kinnas yang masih duduk di ranjang. Mengukung gadis itu di dalam ruang berjarak minim di antara mereka.
"Setelah sekian lama menanggung malu sendirian karena apa yang kamu perbuat, kamu pikir saya akan melepas kamu begitu aja?"
Layl menggebrak nakas di samping ranjang Kinnas yang menjadi tumpuan tangannya. Memicu rasa takut kembali menyeruak dalam diri gadis di hadapannya.
"Gak, Kinnas." Layl menyeringai. "Gak semudah itu."
Meneguk liur terasa seperti tengah menalan kawat berduri. Kedua mata Kinnas bahkan sudah berkaca-kaca, kewalahan menahan ketakutannya yang kadung merajalela berkat ancaman sang suami.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny: The Dark's Lover
RomanceDengan ekonomi keluarga yang serba kekurangan, kehadiran Kinnas dianggap sebagai beban kendati ia sudah mencoba berbagai cara agar tak terus menerus dianggap demikian. Sayangnya, apa pun yang ia upayakan, berjalan tak sesuai rencana. Doa yang ia lan...
