Bab 6. Cinta Terpendam

63 8 2
                                        

Sejak memutuskan menetap di Jakarta enam tahun lalu, pulang ke rumah orang tuanya di Palembang selalu menjadi hal yang menakutkan bagi Keandra. Ketakutan-ketakutan yang ia pun tak tahu bagaimana mengenyahkannya. Ia takut menghadapi kenyataan. Ia takut bertemu Tiara. Ia takut terlihat rapuh di hadapan semua orang.

Pesan dari Maryam, ibunya yang menyuruh Keandra pulang untuk menghadiri perayaan ulang tahun pernikahan mereka tak sanggup ia tolak. Maryam selalu punya senjata ampuh yang membuatnya tak berkutik. Cukup mengatakan kalimat, 'Kamu sudah lupa dan nggak kangen sama Mami?' maka, Keandra akan segera berkemas dan pulang, kalau sedang tidak ada pekerjaan mendesak yang tak bisa ditinggalkan.

Dari balkon lantai dua tepat di depan kamarnya, pandangan Keandra menyapu ke segala penjuru. Balkon itu adalah spot favoritnya di rumah ini. Ia bisa mengamati pemandangan sekitar dengan bebas. Rumah itu berada di atas lahan yang  menyerupai bukit kecil. Jalan utama kompleks, berada agak jauh di bawah sana. Halaman depan dan belakang yang luas, ditumbuhi pohon-pohon pinus dan palm, serupa pagar hidup yang berbaris rapi mengelilingi rumah. Di sudut halaman terdapat dua gazebo yang dikelilingi kolam ikan hias dan taman yang ditata sedemikian rupa oleh tangan profesional.

Ia sangat menyukai rumah ini. Rumah penuh kenangan. Rumah yang selalu dirindukan sekaligus ingin ia tinggalkan tanpa menoleh lagi ke belakang. Rumah yang berdiri kokoh dan anggun dalam keheningan karena pemiliknya tidak selalu ada di rumah.

Semenjak kepulangannya ke rumah ini, ia belum bertemu dengan kakaknya Khalif dan ayahnya Tjipta Hadi. Ia bahkan juga belum bertemu dengan Tiara, adik angkatnya.  Betapa Keandra sudah menyiapkan hati sejak kemarin, tapi ternyata ia mesti menunggu sebentar lagi, setidaknya hingga acara makan malam nanti, saat semua penghuni rumah sudah berkumpul.

"Kamu nggak buru-buru balik ke Jakarta, kan Kean?" tanya Maryam saat Keanda turun ke bawah untuk sarapan bersama.

"Besok siang aku balik, Mi."

Maryam terlihat sedih. "Kamu jarang sekali pulang. Sekalinya pulang hanya sebentar."

Keandra tak menjawab. Dia terlihat pura-pura sibuk dengan sarapan yang seperti tak ada rasa di lidahnya. Pikirannya mengembara tak tentu arah. Kilasan masa lalu, dan semua hal yang pernah ia alami, mengambang ke permukaan bagai lampu terang benderang yang terpeta di otaknya.

Sejak kecil Keandra selalu merasa tidak terlalu diharapkan di rumah ini. Semua perhatian hanya berpusat pada Khalif. Khalif yang pintar. Khalif yang selalu juara. Khalif yang sopan dan kesayangan semua anggota keluarga besar. Khalif yang digadang-gadang mewarisi semua sifat terbaik generasi Tjipta dan akan menjadi penerus PT. Karya Tjipta Group yang dirintis kakeknya puluhan tahun silam. Tiap kali orang membicarakan Khalif, selalu membandingkan dengannya yang memiliki sifat  sangat bertolak belakang dengan kakaknya itu.

"Mami selalu sarapan sendiri seperti ini, ya?" Keandra menyudahi sarapannya. Dilihatnya Maryam juga mendorong piring ke depan, tampak tak berselera .

"Ya begitulah. Ayahmu dan Khalif selalu sibuk. Biasanya ada Tiara yang menemani mami sarapan, tapi beberapa waktu belakangan ini dia juga sibuk jaga di rumah sakit."

Keandra mengangguk. Mendengar nama Tiara disebut tak urung membuat darahnya berdesir.

"Setelah nanti kelar jadi dokter internsip, dan urusan lainnya, mami berencana minta ayahmu untuk bikin klinik buat Tiara. Biar nanti dia praktek di klinik itu saja. Setelahnya mami pengen Khalif cepat-cepat menikahinya."

Keandra tersenyum pahit, dan berkata, "Apa ... Mami sudah membicarakan hal itu sama Tiara?"

"Membicarakan apa?" Maryam menyuap potongan buah, lalu menatapnya penuh tanya.

"Soal buka klinik di sini dan menikah dengan Khalif?" Keandra bertanya santai, walau gemuruh di dadanya membuat ia tanpa sadar menggenggam gelas terlalu erat.

"Memang belum. Tapi Tiara itu anaknya penurut. Apa kata mami pasti dipatuhi. Lagian apa lagi yang mau dia cari? Udah jadi dokter. Kalau mau, dia juga bisa ambil spesialis. Trus nanti dibukain klinik dan disediakan calon suami seperti Khalif. Nggak semua gadis seberuntung dia." Maryam tersenyum bangga.

Keandra tak menjawab. Ia sadar, percuma berargumen dengan ibunya yang selalu merasa benar sendiri itu.

"Kamu juga, Kean. Kapan kamu punya calon yang serius? Bosen mami liat gosipmu gonta ganti pacar terus. Cari perempuan itu yang bener dikit, dong!" Maryam cemberut.

"Mami nggak usah percaya sama gosip, Mi. Namanya juga gosip, nggak semuanya benar. Terkadang mereka hanya melebih-lebihkan." Keandra tertawa. Tapi tawanya tidak sampai ke mata.

"Terus cewek bernama Natalie itu siapa? Lengket bener sama kamu. Mami nggak suka liatnya. Kayak gadis liar gitu. Cari pasangan tuh kayak Tiara. Feminin, lembut, sopan." Maria bersungut-sungut tapi lagi-lagi hanya ditanggapi dengan senyuman hambar oleh Keandra.

"Tapi yang kayak Tiara itu nggak ada di Jakarta, Mi," jawabnya asal lalu bangkit meninggalkan ibunya yang masih saja bersungut-sungut.

Laki-laki akhir dua puluh tahun itu keluar, mengitari halaman yang luas dengan pikiran mengembara. Setiap sudut tempat ini, memiliki kisahnya sendiri dan membuat Keandra makin terbelit rasa rindu pada gadis berwajah teduh yang tak pernah pergi dari ingatannya.

Ia melangkah menuju gerbang,  berencana untuk berjalan-jalan ke sekitar komplek menikmati udara pagi. Namun langkahnya terhenti ketika tiba-tiba saja pintu gerbang terbuka dan sosok  mungil dalam balutan tunik warna pink selutut, dan kerudung warna senada berjalan masuk. Di bahunya tersampir blazer berwarna putih.

Keandra terpaku saat gadis itu berjalan semakin dekat. Tiara terlihat lebih dewasa dan anggun dari terakhir mereka bertemu. Tak terhitung banyak perempuan yang bertekuk lutut di kaki Keandra, tapi tak ada yang membuat hatinya bergetar seperti saat ia melihat Tiara. Gadis itu, entah dengan cara apa sanggup menyihirnya hingga kehilangan kata-kata.

"Kak Kean? Masyaallah, aku pikir tadi siapa. Kakak kapan pulang?" Tiara terlihat sangat gembira saat menjabat tangan Keandra.

Walau wajahnya tampak kuyu karena kurang istirahat dan ada lingkaran samar kehitaman di bawah matanya. Namun, tetap saja tak mengurangi kecantikan parasnya. Sepasang mata bulat dinaungi alis tebal milik Tiara menatap Keandra dengan luruh. Ada sorot kerinduan yang seperti disimpan rapat-rapat agar tak terlihat

"Semalam. Pesawat terakhir. Kamu apa kabar? Makin keren saja nih, Bu Dokter." Keandra menahan debar di dadanya dengan mencoba bersikap santai.

"Keren apanya. Ini udah mau ambruk saking capeknya." Tiara terkekeh.

Setelah saling ledek dan melemparkan guyonan, mereka berjalan beriringan menuju teras rumah. "Kamu baik-baik saja kan, Ra?" tanya Keandra tiba-tiba.

"Maksud Kakak?"

"Kamu senang jadi Dokter?" Keandra menatapnya lekat seolah ingin menembus pikiran gadis itu.

Tiara tersenyum. Senyum yang tak bisa dipahami oleh Keandra maknanya. "Kak Kean sombong sekarang, udah lupa sama kita-kita di sini. Pesanku nggak pernah dibalas." Gadis itu seperti sengaja mengalihkan pembicaraan.

"Mana mungkin aku lupa, kalian kan keluargaku." Keandra tersenyum samar. Dilihatnya mata Tiara seperti dilapisi kaca bening yang sebentar lagi akan pecah berderai.

"Oh ya. Aku senang lihat kamu dengan jas putih ini. Cocok banget sama kamu, Ra." Ditepuknya bahu gadis itu lembut, sebelum berjalan mendahului Tiara masuk ke dalam rumah. Ia tak sanggup berlama-lama di dekat gadis itu. Ia takut tak bisa menahan perasaannya, dan menghancurkan segalanya.

"Aku juga senang banget bisa melihat Kak Kean lagi di rumah ini." Setetes air mata menetes membasahi pipinya.Tiara menyekanya cepat-cepat sebelum ada yang memergoki.

-tbc-

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 07 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SCARS BETWEEN US : Jejak Luka Kita Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang