Cinta tidak pernah menduga kalau akibat dari permainan truth or dare dengan teman-temannya membuat dirinya dan AbhiーAbang dari mantannyaーberada dalam hubungan romantis. Terlebih, pria itu ternyata tidak pernah pacaran sama sekali!
Di hubungan yang p...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Abhi dan Cinta balik lagi, adakah yang nungguin?🌚
Btw, tolong rajin-rajin ingetin aku untuk rajin update, dong, aku lagi agak malas soalnya 🌚
****
"Jangan keluar sendirian, jangan berinteraksi dengan orang asing, hubungi saya setiap pergantian jam, kirim kabar tiap tiga puluh menit lengkap dengan foto kegiatan kamu, lalu—"
"Iya, Mas, iya …." Cinta memotong cepat. Tangannya yang sejak tadi sibuk melipat pakaian dan memasukkannya ke koper kini terangkat, menutup mulut Abhi agar pria itu berhenti melanjutkan ceramahnya. Ia menggeleng pelan, setengah gemas, "kita cuma LDR beberapa hari, loh, atau kita telponan aja 24 jam nonstop, biar kamu bisa update kegiatan aku terus?" tambahnya yang jelas-jelas berniat bercanda.
Sayangnya, candaan itu justru ditangkap serius oleh Abhi. Tanpa ragu, pria itu mengangguk mantap. Setelah menyingkirkan tangan Cinta dari bibirnya, ia menjawab dengan wajah bersungguh-sungguh, "ide bagus. Atau kita zoom meeting saja? Kalau hanya lewat telepon, saya juga tidak bisa lihat kamu."
Cinta terdiam, tercengang bukan main. Ia menatap Abhi seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang di luar nalar. Jika rasa bucin bisa diukur dalam angka, mungkin level Abhi sudah menyentuh batas maksimal. Semakin hari, pria itu tampak semakin kehilangan logika setiap kali menyangkut urusan cinta. "Mas, kamu dateng ke sana buat kerja, aku di sini juga kerja, kita berdua pasti sama-sama sibuk. Maksud kamu zoom meeting 24 jam itu gimana? Kamu mau nenteng-nenteng laptop ke sana-ke mari, gitu?"
Tanpa menunggu jawaban Abhi, Cinta melangkah ke arah lemari. Ia mengambil beberapa dasi yang sudah lebih dulu ia padukan dengan kemeja-kemeja pilihan untuk pria itu. Sementara Abhi tetap membuntutinya, seperti bayangan yang tak ingin terpisah. "Kamu nanti pasti lebih banyak turun ke lapangan, kan? Jangan ngelakuin hal yang nyusahin diri sendiri gitu, Mas. Nanti kamu sendiri yang kerepotan dan pulangnya malah jadi makin lama," lanjutnya, memberi pengertian, kali ini dengan nada lebih lembut.
Cinta berbalik menghadap Abhi. Ucapannya barusan tampak benar-benar dipikirkan oleh pria itu. Abhi masih berdiri mengekorinya, wajahnya menunjukkan pergulatan batin yang cukup dramatis. Ada keseriusan yang berlebihan untuk hal yang sebenarnya sederhana. Entah mengapa, pemandangan itu justru terlihat menggemaskan di mata Cinta.
Abhi akhirnya mengangguk pelan. "Kamu benar. Kalau begitu, kita kembali ke kesepakatan awal," katanya setelah hening beberapa saat. Seolah baru saja menyelesaikan rapat penting di dalam kepalanya sendiri, pria itu akhirnya berhasil membuat keputusan yang sebenernya masih membuat Cinta geleng-geleng.
Setelah itu, Abhi memutuskan untuk duduk di tepi ranjang, sorot matanya mengikuti setiap gerakan Cinta yang tengah merapikan barang dan menarik resleting koper hingga tertutup rapat. "Sini," panggilnya pelan, tangan kirinya terulur ke arah Cinta.