Hari berlalu dengan begitu saja, Kian yang memiliki pekerjaan baru kini tengah berada di fase dia harus mempelajari hal hal baru, namun meski terdengar melelahkan, Kian melakukannya dengan sepenuh hati, semua itu demi dirinya menjadi lebih baik dari sebelumnya, semua koleganya merasakan perubahan yang Kian alami setelah beberapa hari bekerja disini.
Mas Alek terutama, dia cukup kagum dengan Kian karena adapatasinya yang cepat, dan ada sedikit ejekan yang sering keluar dari mulutnya, "Ciee, deket sama anaknya bos" kira kira seperti itulah, Alek cukup sering mengatakan itu, sampai sempat terdengar oleh orang yang bersangkutan satu kali, tapi tidak ia hiarukan, dan tetap melakukan hal yang perlu ia lakukan, sedangkan Kian hanya bisa tersenyum pasrah.
Kini Kian sedang bersama dengan Nayla dan teman temannya, di sebuah kantin yang cukup ramai sampai meja lain pun diajak mengobrol, tapi tidak dengan meja Kian dan Nayla ini, mereka tidak diajak ngobrol oleh meja meja sebelah, entah karena enggan atau merasa tidak sopan, karena semua orang sudah mengetahui bahwa Nayla adalah anak dari bos perushaan ini.
"Guys kok meja lain kayak ngajak ngobrol satu sama lain ya, maksudnya dari meja ke meja, kok meja yang kita dudukin ini engga?" Kian bertanya karena memang tidak mengetahui hal tersebut, wajar saja dia adalah anak baru di perusahaan ini.
"Ya elah Ki, kayak gatau aja... ini loh pacarmu kan anaknya yang punya perusahaan, jadi pada enggan." Jawaban Aralie membuat Kian tersadar bahwa orang yang sedang dekat dengannya adalah bukan orang sembarangan.
"IHHH BELUM PACARAN ARALIE." Potong Nayla dengan nada yang sedikit tinggi, dan malu malu.
"Belum? Berarti mau dong..." Oline dan Erine menlanjutkan bersamaan.
Kian yang hanya menanyakan persoalan meja yang tidak di ajak mengobrol pun hanya diam pasrah karena bisa bisanya, pertanyaan sepele begitu malah melenceng kemana mana.
"IHHH KALIAN NIH KENAPA SIII."
Nayla hanya bisa membantah apa yang dikatakan teman temannya itu, hingga makanan yang ada di meja sudah habis dilahap oleh mereka berlima.
"Aku lanjut kerja lagi ya, masih ada beberapa hal yang mau aku pelajarin sekalian selesaiin." Ujar Kian kepada Nayla dan teman temannya.
"Iya Ki, kalo ada yang susah bilang aja ya, nanti aku bantu." Jawab Nayla dengan nada yang penuh akan perhatian.
"Aku juga bisa bantu kok Ki." Lanjut Aralie dengan nada yang terdengar menggoda, entah itu bercanda atau malah serius hanya Aralie yang mengetahui niatnya.
"Hehe, iya aralie siap siap, aku langsung ya."
Kian hanya bisa tertawa kecil, dan melangkah menuju meja kerjanya yang terasa baginya cukup jauh dari kantin kantor, sepanjang jalan ia merasakan bahwa tatapan semua orang tertuju padanya, tatapan yang entah dimaksudkan untuk apa tapi dirinya tidak memikirkan hal itu.
Di lain sisi, Nayla, Aralie, Oline, Erine masih duduk di meja tempat mereka makan, melihat Kian yang melangkah menjauh dari kantin kantor dengan langkah yang terlihat cukup berat bahkan ragu untuk melangkah.
"Aralie ih kok kamu genit gitu sama Kian." Tanya Nayla dengan wajah polosnya.
"Ih gapapa dong, kan aku bercanda doang Nay... Aku ga mungkin lah rebut dia dari kamu."
"Hm?"
"Hey udah lah guys, mending kita lanjut kerja, daripada malah nge-gosip doang disini, yuk." Ajak Oline dengan gestur tangannya yang mengajak untuk berdiri, namun hanya menyodorkan tangannya kepada Erine yang duduk disebelahnya.
"Ngajak sih ngajak, tapi ga ke Erine doang kali tangannya." Balas Aralie yang juga mulai berdiri dari kursinya mengajak Nayla.
Erine dan Nayla yang disodoorkan tangan untuk berdiri hanya bisa tersenyum semabri menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang sedang terjadi di hadapannya saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Timing
RomanceKian Hermanto, seorang pejuang rupiah yang bekerja di sebuah minimarket, namun kekasih nya Flora, berselingkuh. Kian yang seharusnya merasakan kebahagiaan, malah mendapatkan kesedihan yang teramat dalam, Adrian berniat ingin pergi dari dunia ini, na...
