Rumi melangkah menuruni tangga kelas bersama teman-temannya. Mereka sudah sepakat dengan Marlin-yang berbeda jurusan-untuk bertemu di parkiran sekolah.
Sepanjang langkah, Rumi mencengkram ujung baju seragamnya kuat-kuat. Masih menimbang keputusan spontannya yang mengajak teman-temannya ke rumah.
"Kenapa, Rum?" tanya Keivan yang menyadari wajah tegang Rumi.
"Gak papa." Rumi menggeleng sambil tersenyum. Cengkraman tangannya sedikit melonggar.
Dia ingin sekali belajar bersama teman-teman barunya itu. Namun, ini pertama kalinya dia mengajak orang baru ke rumahnya.
"Hey, kawan-kawanku sekalian!" sapa Marlin yang duduk di atas motornya. Dia baru saja memindahkan motornya ke dekat mobil Juhan yang terparkir dekat gerbang keluar.
"Hai, Marlin." Rumi melambai kecil. Dia memperhatikan dua helm yang bertengger di kaca spion motor. "Kalian naik motor berdua?"
"Iya." Marlin mengangguk. "Eh, iya. Terus Rumi sama Keivan gimana?"
Jayan melirik Marlin, kemudian menatap Juhan yang berjalan di depannya. "Eh, Ju."
"Hm?" gumam Juhan tanpa menoleh.
"Gue sama Marlin cuman bawa satu motor hari ini." Jayan menghentikan langkahnya saat mereka tiba di dekat mobil hitam milik keluarga Juhan.
"Terus?"
"Ya, berarti Rumi sama Keivan naik mobil lo." Jayan menatap kedua temannya itu bergantian, lalu kembali menatap Juhan.
Mata Juhan melirik ke arah kaca mobil yang tampak gelap dari luar, melihat seseorang yang bersembunyi di baliknya.
Kaca mobil itu turun perlahan, menampakkan wujud Pak Yono-sopir keluarga Juhan-yang sudah siap dengan roda kemudinya.
"Pergi kemana kita?" tanya Pak Yono. Suaranya terdengar serak dan ramah.
"Ke rumah Rumi, Pak." Juhan membuka pintu bagian depan. "Rumah yang waktu itu."
"Oh iya, siap." Pak Yono mengangguk. Matanya melirik ke arah teman-teman yang lain, kemudian tersenyum ketika mengenali wajah Rumi. "Eh, sore, Rumi."
Rumi balas tersenyum. "Sore juga, Pak."
"Jadi, gimana, Ju?" Jayan menyinggung kalimatnya tadi yang belum mendapat respon dari Juhan.
"Apa?" Gerakan tangan Juhan yang hendak menutup pintu mobil terhenti.
"Ini si Rumi sama Keivan gimana? Ikut mobil lo, kan?" Jayan memastikan ulang pernyataannya tadi.
Juhan mengangguk kecil. "Naik aja."
"Ya udah, ayo langsung berangkat," ajak Rumi sambil membuka pintu mobil. "Takut keburu hujan."
"Ayo, Jayan!" panggil Marlin sambil menyodorkan helm temannya itu.
Rumi dan Keivan masuk ke dalam mobil di kursi tengah. Setelah duduk dengan nyaman, Keivan menutup pintunya.
"Kita berangkat, ya," ucap Pak Yono sambil mulai menginjak gas.
Rumi sedari tadi sibuk memperhatikan jalanan di luar kaca, kemudian beralih menatap Juhan yang terduduk kaku menghadap depan, dan Keivan yang tersenyum lebar sambil melihat pemandangan.
"Eh, Ju. Wangi mobilnya enak banget," celetuk Keivan, berusaha mengisi kekosongan ruang yang sejak tadi sunyi. "Ini aroma apa?"
"Aroma lavender," jawab Pak Yono tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. "Nyonya gak suka aroma jeruk."
"Jadi pengen juga pasang aroma lavender di kamar." Keivan menoleh dan memberikan cengiran lebarnya kepada Rumi.
"Pasang aroma terapi aja," sahut Rumi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah Rumi | Cortis
FanfictionSemua orang punya tempat untuk pulang. Bagi kami, tempat itu bernama Rumah Rumi. Rumah sederhana yang menampung tawa, rahasia, dan luka masa remaja yang tak pernah kami ceritakan pada siapa pun. Di sana kami belajar arti persahabatan. Belajar tentan...
