Tak ada yang benar-benar kebetulan di dunia ini. Tak ada pertemuan tanpa alasan, tak ada kejadian tanpa tujuan. Karena apa yang kita sebut kebetulan, sejatinya sudah digariskan. Cho Yihyun cukup dewasa untuk mempercayai hal itu, termasuk menerima ke...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"You know, your hair is still the softest I've ever felt,"
Pujian itu diberikan Sieun saat jemarinya menyusuri kehalusan surai panjang Yihyun, ia menunduk sedikit untuk mengecup lembut puncak kepala putrinya itu. "Sama seperti waktu kau masih kecil. Sempurna sekali, sayangku."
Hangat yang Yihyun rasakan dari segala macam bentuk perhatian dan kata-kata Sieun, berhasil menyentuh hingga ke relung hatinya yang paling dingin. Bibir merah mudanya perlahan mengulas senyum tipis, matanya yang jernih bersinar manis saat menatap pantulan sang ibu yang bergerak luwes di belakangnya.
Membiarkan Sieun menyisir rambutnya sebelum tidur, sudah seperti ritual wajib yang tak pernah berubah sejak ia masih kecil. Yihyun ingat betapa menenangkannya momen-momen seperti ini, yang mereka lewati hampir setiap malam. Tidak ada tuntutan yang tak bisa ditolak. Tak ada aturan yang harus dipatuhi. Tak ada sikap yang harus dijaga kesempurnaanya setengah mati. Bersama Sieun, Yihyun hanyalah putri ibunya. Bukan anak bungsu Keluarga Cho yang dibebani ekspektasi tinggi.
"You say that every night, Mom,"
"Because it's true," balas Sieun mantap, matanya mengerling main-main pada Yihyun di cermin. Ia mengambil pita sutra dari meja, mengikat ujung rambut Yihyun dengan hati-hati. "Yihyun-ku… kau adalah hal tercantik di dunia ini. Kadang Mommy memandangmu dan bertanya-tanya bagaimana Mommy bisa sebegitu diberkahi memiliki dirimu."
Bagi Myun Sieun, Yihyun adalah boneka berharganya yang rapuh, yang harus dicintai, dan dilindungi dari kerasnya dunia ini. Namun, Sieun sama sekali tidak tahu tentang api yang membara dalam diri putrinya. Tidak tahu tentang rencana pemberontakan yang setiap malam memenuhi kepala gadis itu.
Tawa kecil mengalun merdu dari mulut Yihyun, ia menyandarkan kepalanya ke perut Sieun, bersikap manis seperti putri paling penurut dan paling lembut yang bisa dimiliki oleh siapa pun. "Mommy selalu tahu cara membuatku merasa lebih baik," gumamnya, memiringkan sedikit kepalanya untuk menempelkan pipinya pada tangan sang ibu. "Andai setiap malam bisa seperti ini. Tenang. Damai. Hanya kita berdua."
Ucapan Yihyun yang berasal dari hati kecilnya itu, membuat Sieun terkekeh pelan, jemarinya membelai pipi Yihyun dengan penuh kasih. "Anak konyol. Setiap malam akan seperti ini selama kau menginginkannya. Kau akan selalu menjadi bayi kecil Mommy, tidak peduli berapa pun usiamu."
Yihyun mengangguk, memejamkan matanya sebentar, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan dan rasa aman yang hanya bisa diberikan Sieun padanya. Namun bahkan ketika ia larut dalam pelukan ibunya, pikiran Yihyun malah melayang ke tempat lain. Ke gedung kaca menjulang yang ia masuki tadi siang.
Cho Group. Yihyun berdiri di sana hari ini, menyusuri setiap lorong-lorongnya yang dingin, melihat sendiri bagaimana suksesnya perusahaan itu berjalan di bawah kepemimpinan kakaknya yang tersayang, Cho Jungseok. Ingatan itu berhasil menyulut kembali api kecemburuan dalam diri Yihyun, yang ia pikir tidak akan pernah menyala lagi.