Chapter 18: Confession

140 32 4
                                        

Marcelle membuka matanya perlahan. Pandangannya masih buram, dinding di sekitarnya tampak asing sesaat. Tangannya terulur refleks, menepuk-nepuk sisi kasur di sebelahnya, tempat yang seingatnya tadi ditempati Gianna. Tapi yang ia rasakan hanya halusnya selimut dan dingin permukaan kasur. Keningnya berkerut. Ia berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangan dengan cahaya redup dari lampu meja di sudut kamar. Butuh beberapa detik sampai kesadarannya penuh, dan barulah ia menyadari, ini bukan kos Gianna.

Marcelle menyingkap selimut, menurunkan kaki ke lantai yang terasa dingin di bawah telapak kakinya. Udara malam yang lembap membuat bahunya sedikit menggigil. Tanpa berpikir panjang, Marcelle berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka. Cermin di sana memantulkan wajahnya yang masih tampak lelah, rambut sedikit berantakan, tapi mata cokelatnya mulai hidup lagi setelah beberapa cipratan air dingin.

Sambil mengusap wajah dengan handuk kecil, ia mengingat samar-samar, suara pintu, langkah berat, aroma khas sabun yang selalu dipakai Rexford. Mungkin dia yang menjemputnya dari kos Gianna. Entah kenapa, bayangan itu membuat dadanya terasa hangat. Begitu merasa agak segar, Marcelle melirik ke jam dinding. Pukul sembilan lewat tiga lima malam. Sudah cukup larut.

Marcelle keluar dari kamar dengan kaus putih dan celana tidur bermotif kartun yang membuatnya terlihat seperti anak kecil yang baru bangun.

Begitu membuka pintu kamar, langkahnya terhenti. Marcelle mengerjap pelan, bingung melihat kelopak bunga mawar berserakan di lantai, membentuk jejak kecil yang memanjang di sepanjang koridor apartemen. Warna merahnya kontras dengan lantai yang dingin, dan aroma lembut mawar tercium samar di udara.

Marcelle menunduk, menyentuh satu kelopak dengan ujung jarinya. Lembut, hangat, masih segar. Seolah baru saja ditebar beberapa menit lalu. Tanpa sadar, senyum kecil muncul di wajahnya. Ia mengikuti jejak kelopak itu perlahan, langkahnya ringan tapi hatinya berdebar tanpa ritme pasti.

Setiap langkah membawanya lebih dekat ke balkon. Dari kejauhan, cahaya kekuningan tampak berpendar dari balik tirai yang sedikit terbuka. Saat Marcelle mendekat, ia bisa melihat bayangan sosok laki-laki yang duduk di sana, membelakangi pintu balkon. Begitu Marcelle membuka tirai, pemandangan yang terbentang di hadapannya membuatnya terdiam.

Balkon apartemen itu berubah total. Udara malam terasa hangat oleh cahaya dari lilin-lilin kecil yang diletakkan di sekitar pagar, membuat ruangan itu tampak berkilau lembut. Di tengahnya, ada meja kecil dengan dua kursi saling berhadapan, di atasnya sudah tertata makanan sederhana, vas berisi bunga segar, dan dua gelas air putih yang memantulkan cahaya lilin.

Semuanya tampak begitu rapi, seperti sesuatu yang direncanakan dengan hati-hati.

Di antara semua itu, duduklah Rexford dengan kaus putih polos dan celana pendek, rambutnya sedikit acak, tapi wajahnya tenang. Penampilannya sederhana, tapi justru terasa pas, seolah ia sengaja menyesuaikan diri dengan Marcelle malam ini.

Marcelle berdiri di ambang pintu, matanya melebar, bibirnya sedikit terbuka tanpa sadar, "Kakak?" panggilnya pelan, suaranya terdengar gemetar antara terkejut dan tak percaya.

Rexford menoleh, dan senyum lembut segera muncul di wajahnya. Tatapannya hangat, "Hey," sapanya pelan, suaranya rendah dan tenang.

Marcelle menatap sekeliling, matanya menyapu setiap detail, kelopak bunga, meja, lilin, semua terasa terlalu indah untuk jadi kebetulan, "Ini... semua kamu yang siapin?" tanyanya, suaranya lirih, nyaris seperti takut kalau jawabannya bukan iya.

Rexford bangkit perlahan dari kursinya dan berjalan mendekat, senyum hangat tidak pernah lepas dari wajahnya. Ia mengulurkan tangan, lembut, menuntun Marcelle yang masih berdiri ragu di ambang pintu balkon. Sentuhan tangannya membuat dada Marcelle bergetar pelan, ada rasa nyaman yang tidak bisa dijelaskan.

"Duduk, Cel," katanya lembut.

Marcelle menurut, duduk perlahan di kursi di hadapan Rexford. Tangannya secara refleks menggenggam ujung kaus putihnya, mencoba menyembunyikan kegugupan yang jelas terlihat dari cara ia menunduk, "Thank you," ucapnya lirih, tapi senyumnya kecil dan tulus.

Rexford duduk kembali, "Ayo makan, kamu pasti laper."

Marcelle hanya mengangguk kecil. Jujur saja, perutnya sudah kosong sejak siang tadi, tapi rasa hangat yang memenuhi dadanya membuat lapar itu terasa samar. Ia menatap piring di depannya, masih agak bingung, bukan karena makanannya, tapi karena suasananya yang terasa terlalu istimewa.

Rexford memotong steak miliknya perlahan, lalu menukar piringnya dengan milik Marcelle tanpa banyak bicara. Gerakannya natural, tapi perhatian itu membuat pipi Marcelle terasa panas, "Makan yang banyak."

Mereka makan dalam diam. Hanya terdengar suara garpu yang beradu pelan dengan piring, dan desiran angin malam yang menembus tirai balkon. Dari langit, bulan tampak bulat sempurna, cahayanya menimpa wajah mereka berdua, menambah tenang suasana yang sudah begitu lembut. Marcelle beberapa kali melirik Rexford diam-diam. Ia masih belum mengerti, untuk apa semua ini? Kenapa suasananya terasa seperti sesuatu yang sedang menuju ke arah penting.

Begitu piring keduanya kosong, Rexford berdeham pelan. Ia menyandarkan tubuh sedikit ke belakang, mengambil napas dalam-dalam, lalu menatap Marcelle. Tatapannya serius kali ini, bukan lagi sekadar lembut seperti biasanya.

"Marcelle," panggilnya akhirnya. Marcelle menoleh cepat. Sudah lama sekali ia tidak mendengar Rexford menyebut namanya seperti itu, tanpa panggilan manja, tanpa sapaan Acel atau sayang. Suaranya terdengar berat, tapi hangat.

"Ya?" jawab Marcelle pelan, nyaris berbisik.

Rexford menunduk sebentar, matanya jatuh pada meja di antara mereka yang kini hanya menyisakan lilin yang berkedip pelan. Ujung bibirnya bergerak gugup sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya lagi, "Pertama-tama..." Ia menarik napas pelan, suaranya sedikit bergetar namun jujur, "Aku mau minta maaf karena baru ngomong ini sekarang."

Tangannya naik mengusap tengkuk, gerak kecil yang menandakan gugupnya nyata. Udara malam yang hangat tiba-tiba terasa lebih berat, lebih penuh makna, "Dari awal pertemuan kita yang aku tahu nggak berjalan manis waktu itu, dan anehnya justru dari sana aku mulai jatuh cinta sama kamu."

Marcelle terdiam. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri di antara heningnya malam. Kedua tangannya kini saling menggenggam di pangkuan, dan matanya menatap Rexford tanpa berkedip.

Rexford tersenyum samar, seolah sedikit malu dengan pengakuannya sendiri. Tapi senyum itu cepat berubah jadi sesuatu yang lebih dalam, "Ciuman kamu waktu itu bener-bener nggak pernah hilang dari kepala aku, Cel," katanya pelan, hampir seperti bisikan, "Setiap kali aku inget itu, rasanya kayak aku nggak cuma mimpiin kamu."

Marcelle menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca. Lilin di meja bergetar, sinarnya memantulkan cahaya lembut di wajah mereka berdua.

Rexford melanjutkan dengan nada yang lebih tenang tapi sarat emosi, "Aku nggak peduli sama masa lalu kamu, Cel. Karena nggak ada yang sempurna di dunia ini. Aku pun nggak. Tapi setiap kali aku ngeliat kamu, aku ngerasa mungkin hidup nggak harus sempurna buat bisa bahagia."

Rexford mencondongkan tubuh sedikit, suaranya menurun menjadi nada yang dalam dan tenang, "Aku cuma mau kamu terus bareng sama aku. Bangun bareng, pulang bareng, ketawa bareng. Hidup bareng, dan nyari bahagia itu sama-sama, pelan-pelan aja, tapi bareng."

Marcelle menatapnya, air mata sudah menggantung di ujung mata, "Kakak..." panggilnya pelan, tapi suaranya serak, seperti tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Rexford tersenyum lembut. Ia berdiri perlahan dari kursinya, lalu berlutut di sebelah Marcelle. Tangannya yang hangat meraih tangan Marcelle yang dingin, menggenggamnya erat tapi penuh hati-hati, seperti sesuatu yang ia takutkan akan hilang kalau ia terlalu kuat menahannya. Tatapannya menatap lurus ke dalam mata perempuan itu, mata yang sudah terlalu sering menahan tangis, tapi malam ini penuh cahaya.

"Marcelle Jasmine," ucapnya dengan nada serius tapi bergetar lembut, "Kamu mau nggak jadi pacar aku?"

Suasana di balkon terasa berhenti sejenak. Hanya ada hembusan angin, aroma mawar yang masih segar, dan dua hati yang akhirnya saling bertemu di titik yang sama. Marcelle menatapnya lama, lalu senyumnya pecah di antara air mata yang akhirnya jatuh juga. Marcelle menggenggam tangannya balik, "Iya, aku mau."

💐🍪

udah official guys jadi kalian
gak bisa ngatain rex lagi hihi

Rexford & MarcelleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang